AWAN KECIL (By: Putra Awan)



Alkisah, di negeri antah berantah, sekelompok awan bergerombol bersiap melaksanakan tugasnya untuk menyiram muka bumi dan menyegarkannya dengan tetesan air nan sejuk. Mereka berseragam hitam dengan gagahnya. Di kawal Panglima Petir yang bersiap dengan cambuk kilatnya. Dari kejauhan mendekatlah seonggok awan kecil menghampiri mereka dan meminta izin untuk bergabung.

"Wahai Panglima Petir nan gagah perkasa dengan pedang kilatnya, izinkan hamba bergabung dengan pasukan paduka untuk menyiram bumi," haturnya dengan menjura kepada sang Panglima.

"Mmm… engkau masih sangat kecil kawan. Tunggulah hingga dirimu sedikit besar sehingga menghasilkan air yang berlimpah," sahut Panglima Petir sembari memandang remeh kepada sang awan. Para Awan besar juga serentak gemuruh menertawakan kehadiran awan kecil yang dengan percaya diri terlalu tinggi ingin membantu mereka.

"Ah, benar kawan kecil. Dirimu paling hanya mampu menghasilkan setetes dua tetes air, dan itu tidak akan sampai ke muka bumi. Airmu hanya akan hilang di terpa sang angin," suara dari ujung sana meninggi.

"Benar, kami saja sudah cukup, tidak perlu kau hancurkan tubuhmu yang masih belum seberapa itu!!
Sejenak kemudian suara awan bergemuruh disambut hembusan angin yang menertawakan awan kecil. Dengan sombongnya Panglima Petir mengayunkan cambuk kilatnya dan…DUARRRR!!!! Suara halilintar memekakkan telinga seolah ikut menertawakan sang awan kecil.

Dengan tertunduk sedih sang awan kecil menerbangkan dirinya mengikuti angin menjauhi kumpulan awan besar. Dia terbang menuju daerah lain yang belum pernah terjamah tangan manusia. Sebuah padang rumput yang dulunya hijau ranau, dikelilingi hutan jati yang indah. Tetapi hutan dan padang itu telah mengering dan gersang. Sepanjang mata memandang hanya warna kuning layu yang mengiris hati. Kayu-kayu meranggas. Pohon jati hanya tinggal batangnya yang bertahan dengan sisa simpanan air. 

Daun-daun mereka di luruhkan agar tidak menimbulkan penguapan. Ranting-ranting kecil mulai mengering dan runtuh ke tanah. Batu-batu menyembul dari balik rerumputan yang kini seakan telah menjadi tumpukan jerami kering. Sinar mentari menyengat dengan garangnya. Tiada suara burung. Tiada suara tokek, cicak, apalagi kodok. Yang ada hanya semilir angin menebar hawa panas yang menyanyikan lagu kematian.

Ke sanalah sang awan kecil menuju. Di sanalah ia ubah tubuhnya yang hanya segumpal itu menjadi beberapa tetes air. Kepada sang angin ia berkata," Wahai angin yang lembut, jangan kau terbangkan diriku jauh dari tanah ini. Tolong izinkan aku menetes pada batu ataupun rerumputan yang kering."
Angin sejenak berhenti bertiup. Ia biarkan tetesan air itu meluncur ke permukaan padang tandus. Beberapa tetes bergabung agar mampu sampai ke sana, sehingga tinggal setetes air melayang menuju permukaan tanah. Air itu meluncur deras menghantam permukaan sebongkah batu.

"TASSS!!!!" suara tetesan air membelah keheningan padang rumput. Tanpa ada suara lain, maka suara itu memantul ke dinding-dinding batu di tepi padang, membelah udara  dan di pantulakan serta di sampaikan oleh angin sehingga mengejutkan sekelompok awan besar di negeri yang jauh.
Suara yang aneh dan keras itu mengundang mereka untuk mendatangi padang rumput. Dan dengan tanpa menunggu lama, mereka merubah dirinya menjadi air hujan yang mencurha deras ke muka padang. Hujan yang di nanti para penghuninya, menyiram seluruh permukaan yang tandus, menghilangkan dahaga pohon-pohon jati yang telah meranggas.

Beberapa waktu kemudian, padang tandus telah berubah menjadi hijau dan indah. Rerumputan tumbuh bak permadani terhampar sepanjang mata memandang. Di pagari tembok batu di sisi utara dan selatan. Pohon jati menhijau dengan daun dan memberi warna putih dengan bunganya, menjadi hutan belantara. Semua bahagia. Semua senang. Tetapi mereka lupa kalau semua itu berawal dari segumpal kecil awan yang mengundang awan besar untuk menyirami padang itu.

Sahabat, kisah di atas adalah tamsil, perumpamaan dari usaha kecil dari para pelopor, inovator yang memancing banyak orang untuk mewujudkan sesuatu yang besar. Jika dirimu saat ini melihat begini besar pesantren kita, atau begitu maju sekolah kita, atau besar negeri kita, dan lain sebagainya, tidak bisa di pungkiri, bahwa di situ pasti ada sekelompok orang maupun segelintir orang yang memulai hal besar itu, meskipun mereka tidak tercatat dalam sejarah atau tidak di kenal dan di kenang orang. Mereka di anggap bukan pahlawan. Tetapi sesungguhnya dari merekalah semua berawal.

Oleh karena itu sahabat, jangan berkecil hati untuk berbuat baik. Jangan merendahkan kemampuan diri. Sekecil apapun lakukan sebuah perubahan kearah yang lebih baik. Kita tidak butuh pengakuan, penghargaan dari para manusia, karena apa yang di janjikan Tuhan lebih besar dari itu semua, karena barang siapa yang memulai perbuatan baik, maka baginya pahalanya dan sejumlah pahala orang yang mengikutinya melakukan perbuatan baik itu, sedang siapa yang mengawali perbuatan buruk, maka baginya dosanya dan sejumlah dosa orang yang mengikuti perbuatannya. Sahabat, Mari ubah dunia!

AWAN KECIL (By: Putra Awan) AWAN KECIL (By: Putra Awan) Reviewed by Feno Blog on April 22, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.