Membuat Rumah Raju*


Selamat datang di rumahku kawan. Perkenalkan namaku Raju. Inilah rumahku. Di timur kolam buatan kantor keamanan dan di naungi sebatang pohon beringin bonsai yang berhasil membedah potnya. Sebenarnya ini bukan rumah. Rumahku bukan di sini, demi Tuhan bukan di sini. Ini lebih tepat di sebut sebagai sel, penjara. Kalian, para santri nakal, paling hanya disel semalam dua malam. 


Tetapi aku dan istriku? Oh ya perkenalkan ini istriku belahan jiwaku yang sedang mengandung anakku. Kalian nggak boleh tahu namanya, karena aku nanti cemburu. Maskipun aku tahu kalian lebih ganteng dari aku,aku yakin bahwa tetap aku yang lebih ganteng karena aku sudah punya istri. Kalian masih jomblo to?? Tetep gantengan seng wes payu. Weeeek. Atau kalian juga mau beristri dia? Hadapi dulu aku….. 

Rumahku sebenarnya di hutan sana. Bukan di sel jelek ini. Karena keusilan manusia yang ingin menjadikan kami sebagai piaraan maka aku termasuk yang jadi korbannya. Istriku ini datang kemudian, sebagai pendampingku yang kesepian ketika aku masih di rantai di depan dalem Kyai Mubasyir.

 Aku ingin berbagi cerita sedihku kepada kalian, tetapi aku tidak bisa bicara. Aku ingin kalian dengar tangisku, tapi mata kalian tidak percaya kalau makhluk macam aku bisa menangis. Aku ingin menulis surat  kepada kalian tetapi sayang aku tidak pernah sekolah apalagi kuliah seperti kalian. Kalau aku sekolah, kalian pasti kalah olehku. Gak percaya? Lihat pemilik-pemilik sirkus dan atraksi, dari siapa mereka mendapat jalan untuk makan? Ya dari bangsa kami ini. Kami beratraksi naik sepeda motor mainan, memanggul pikulan, berjalan membawa keranjang bergaya belanja, lalu dari hasil kerja kami, pemilik kami itu dapat makan. Bukankah berarti kami lebih pintar dari kalian? Kalian sekolah bertahun-tahun sudah menghasilkan sepiring nasi buat ayah kalian? Mbel gedes!! Kalian justru menghabiskan uang berjuta-juta bukan? 

Akhirnya aku titipkan bisikan hatiku kepada seseorang yang lewat. Aku pinta Tuhan untuk menyampaikan keluh kesahku kepada kalian…baca, rasakan dan resapi curahan hatiku kawan….

Lihatlah rumah ini, ah, sel ini. Apa salah kami sehingga menempat di sini? Kami nggak pernah keluar tanpa izin seperti kalian, karena kami memang tak perlu izin. Kami nggak pernah nonton bokep seperti kalian, karena kami sendiri sudah nggak berpakaian. Nggak, kami nggak melanggar peraturan  manapun karena memang nggak ada aturan buat kami bukan? Jadi kami nggak sepantasnya di sel begini. Kalau kami lepas dan menggangu kalian, pantas saja karena aku takut. Ini bukan daerah asalku. Di hutan sana asalku. Jadi kembalikan aku ke sana saja. Beres urusan. 

Apa?? Kalian ingin memelihara aku? Kenapa aku di sel begini? Okelah! Sebagai baktiku kepada kalian, penguasa bumi, baiklah tidak mengapa kalian pelihara aku. Tapi kalian harus tahu, aku ini bernyawa, aku ini juga merasa dan juga perlu sesuatu. Aku bernyawa maka aku perlu makan dan minum. Aku bernyawa maka aku butuh bermacam hal.

Aku tidak begitu butuh makanan aneh-aneh macam kalian. Nggak butuh sate atau gule. Nggak minta soto atau somay. Cukup sediakan makanan denga rutin jangan biarkan kami berharap dari belas kasih orang lewat. Mati kami, dosa kalian. Masak Mas Nanang saja yang perhatian…terimakasih buat Mas Nanang….kamu baik deh….sebagai yang bernyawa aku juga tidak cuma butuh makanan, aku perlu minum kawan. Kalau kalian perlu minum ini itu, cukuplah kami kalian beri air jeding saja. Kami nggak akan pilek atau disentri. Aku nggak butuh es jeruk, es campur atau es rumput laut seperti kalian yang rakus ini.  

Sebenarnya kamipun butuh mandi. Lihatlah istriku yang sudah sejak datang kesini tidak pernah mandi. Aduh…baunya kami. Aku ngempet sebenarnya kalau ngeloni dia...  Sebenarnya kalian tahu bau ini. Tetapi kalian terlanjur buntu hidungnya, picek hatinya sehingga nggak mau tahu. Aku apa lagi, sudah berbulan nggak mandi. Aduh… nikmatnya andai ada seember air di sini untuk kami berendam saat panas terik. Uuuufffh segarnyaaaaaa…..

Ah….dingin kawan. Hari-hari ini angin sering bertiup kencang. Udara kadang panas kadang dingin.  Apalagi sekarang sering hujan bukan? Ketika siang panas menyengat, kala malam dingin menusuk tulang. Jaket bulu kami kurang tebal untuk menahan dinginnya. Kalau saja di sel ini ada tempat untuk kami berlindung dari angin kencang dan hawa dingin…

 Aduhai malang nian hamba. Manusia memang bodoh, dungu dan aniaya, itu kata Tuhan. Betapa dungu kalian memelihara kami seperti ini. Betapa aniaya kalian membiarkan kami seperti ini. 
Ooh. Pak Keamanan yang gagah, kapan kami akan di sidang, eh di lepas? Sudah berbulan lamanya belum juga ada kepastian.

 Ooooh Pak Pesantren yang necis, kapan kami akan di buatkan rumah yang nyaman senyaman sel  anak nakal di sudut halaman itu? Kapan kalian akan bikin anggaran buat kami?

 Oooh, Pak-Pak Diniyah yang agak gagah, kapan kalian akan membantu kami untuk keluar atau memiliki sel yang lebih baik? 

Haaaaiii kalian santri-santri bejat!!! kapan kalian berhenti mengganggu kami?! Kemarin malah ada yang tega membakar sampah di bawah sel kami, bedebah! Kalian anggap kami ini patung yang tak perlu bernafas? 

Ooooh..Pak Jaki dan Pak Mawardi, Pak Imron dan Pak Habibi, Pak Ustad Supri dan Kang Santri…. Bantu aku dan istriku ini. Lihatlah !! Dia hamil, perutnya hampir meletus, kalau anak kami keluar maka sel ini tidak akan mendukung perkembangannya. Kalau anak kami nanti mati ketika kecil, kalian semua akan mendapat dosa, dosa,dosa…… Pernahkah kalian dengar dan baca sebuah cerita tentang seorang wanita yang masuk neraka karena mengurung kucing dan mati karena tidak di beri makan. Ah, bagaimana andai kami sekarang ibarat kucing itu dan kalian yang mengurungnya? 

Aku tidak minta kalian buatkan istana, aku nggak minta kalian beri es soda, atau kalian beri kasur busa. Nggak. Kalau santri-santri nakal itu punya sel yang bagus, tolong buatkan aku sel yang agak hewani. Aku ingin makan teratur, aku ingin minum, aku ingin mandi, dan aku ingin berlindung dari hujan. Anakku akan lahir. Jangan sampai kalian berdosa kalau anakku mati gara-gara sel sialan ini.

 Kang santri!!! Jangan ganggu istriku! Elu bakal kena tanggung jawab kalau sampe kami mati. Balikin oh,oh, balikin, hidup kami kayak dulu lagi… Elu bakal kena tanggung jawab kalau sampe kami mati!

Begini saja…..Buatlah sel ini lebih besar biar aku bisa bergantungan di beringin kecil itu.Terus aku bisa mandi di kolam buatan itu. Terus makanan sediakan yang teratur, bagaimana? Akan indah bukan? Kalian bisa menonton kami bertiga, aku, istriku dan anakku, seakan di hutan rimba. Berayun, mandi, dan makan, ah asyik sekali bukan? Tapi, ini Pesantren apa kebun binatang sih?? Yah Pesantren yang ada kebun binatangnya …. Bagaimana? Anggaran? Ah gampang saja. Anggarkan saja dengan judul keindahan taman. Beres. Tinggal laporkan sama pak Yasin, di tulis denga huruf kapital : “MEMBUAT RUMAH RAJU…….” Kan ini hampir pengajian haul dan khataman Ihya’? Nanti apa kata para tamu kalau rumahku tetap begini? Aku bersedia jadi hiburan kalian, para tamu atau wali santri dan anaknya yang senang melihatku yang ganteng.

Sudahlah aku tidak yakin kalian akan memenuhi permintaanku. Paling kalian akan mencari orang yang kutitipi pesan, menginterogasinya, dan menghardiknya begini: “Ra nduwe adab!!”. Uh, bosan aku. Sudahlah, aku mau minta mati saja. Tuhan matikan kami saja….

Dariku yang lebih ganteng dari kalian semua, RAJU. Salam nguk-nguk!!!
===
By: Putra Awan

Membuat Rumah Raju* Membuat Rumah Raju* Reviewed by Feno Blog on April 24, 2018 Rating: 5

1 komentar:

  1. Mantap gan..
    Jangan lupa kunjungi balik...
    www.blogfaizkrc.me

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.