Review Daur Tsani

Penulis:Hifji Flick


Paradigma evaluasi daur sebagai tolak ukur siswa Madrasah Diniyyah seketika musnah ketika kertas lembar jawaban dibagikan. Alih-alih mengerjakan dengan mengerahkan seluruh kemampuan, mayoritas siswa justru terkesan balapan mengumpulkan. Empat puluh soal yang digarap oleh para pembuat soal yang sudah mendapat mandat selama dua hari dua malam, dihabisi murid-murid hebat hanya dalam waktu 5 – 10 menit.

Bukan masalah kualitas soal yang menyentuh level hard atau terlalu easy, tapi ayolah, kita sama-sama sadar bahwa pertempuran sejati justru telah terlewati sebelumnya, yakni ketika fase melengkapi bebas tanggungan demi selembar kartu. Disinalah fase-fase berdarah dimana seluruh siswa justru mengerahkan segenap kemampuan dan keterampilan terbaiknya untuk melobby tiap-tiap instansi pemegang hak tanda-tangan dan stempel guna meraih kemenangan sejati (red: mendapat kartu).

Lalu pertanyaannya, apakah esensi dari evaluasi daur? Sebagai barometer siswa Madrasah Diniyyah kita coret saja setelah uraian diatas. Apakah hanya lebih sebagai sarana pelunas tanggungan administrasi siswa Madrasah Diniyyah? Ini sepertinya juga bukan jawaban yang tepat. Mengingat pihak-pihak tertentu bisa dinego, bisa dihindari dengan jurus pamungkas; pernyataan.

Tapi meskipun begitu, terlepas dari sisi gelap diatas, mekanisme daur sendiri sudah melakukan berbagai lompatan sistem yang cukup signifikan. Mulai dari segi soal, zaman saya kelas 2 Ula, dulu soal daur hanya sepuluh butir, tapi sistem essai, sekarang sudah menjadi empat puluh butir. Meningkat kan? Dari segi korektor, sekarang panitia tak perlu repot-repot lagi mengoreksi manual. Sudah ada mesin, era sudah maju, tinggal tata rapi, masukkan LJK, disambi ngopi, tugas selesai cepat tanpa berkeringat. Penjaga ujian? Mungkin panitia juga tak ingin dibuat repot-repot menyusun jadwal penjaga yang itung-itung Cuma dipakai sekali. Oke, yang jaga mustahiq saja di kelasnya masing-masing. Lebih simpel, nggak ribet, peserta barangkali juga lebih sungkan kalau yang jaga adalah bapaknya sendiri.

Tim sukses Madina (oprak-oprak) juga ada yang baru. Sekarang tak ada lagi yang namanya santri justru tidur ketika yang lain sedang daur. Siswa Madrasah Diniyyah yang tidak ikut daur dikumpulkan. Entahlah dihukum atau mendapat grojokan rohani saya juga kurang tahu. Yang jelas, sekarang pondok steril ketika Evaluasi Daur berlangsung. Tidak seperti dulu lagi yang bisa santai-santai. “Nggak daur kowe? Alah wes tau!”

Satu yang harus diapresiasi adalah tes kitab. Pada jenjang Dua Ulya tetap menjalankan eksistensinya dengan sistem tes kitab maraton. Pemeriksaan yang dilakukan panitia pada daur awal kemarin sepertinya berhasil mengintimidasi murid-murid bandel. Siswa yang sudah mendaoatkan kartu, tetap di-kick keluar jika tidak bisa menujukkan bukti setoran kitab tiap-tiap fashlun yang sudah ditentukan. “Wah sepertinya ini bukan main-main.” Makanya kemarin jangan heran kalau tiba-tiba melihat anak Dua Ulya mendadak pateng. Demi mutakhorijin katanya.

Padahal, daur awal kemarin, saya dan temen-temen kelas sempat berpikiran, “Halah... paling mek njajal.” Yang lain menimpali, “Jenenge wong jajal, lek gak sukses mosok yo ate dibaleni maneh. Bene wes. Saiki gak usah tes kabeh wes. Ngko lek akeh sing tes, berarti dianggep sukses. Daur tsani sesok malah dibaleni maneh.” Yang lain tak kalah semangat menimpali. Dan ternyata, bumerang bagi kami. Salah satu admiral dewan asatidz berpikiran sebaliknya. “Bene wes. Bagus. Semakin banyak sing gak tes, berarti semakin sukses, daur ngarep dibaleni maneh.” Ibarat pisau bermata dua.

Selain itu pada tingkat syawir (4 Ula – 1 Ulya) juga ada yang baru. Tes kitab cukup dengan membaca sah-sahannya sendiri. Satu kali sentuh, bukan dengan sistem maraton. Entahlah, apa visi dibalik sistem ini. Mungkin para admiral mulai bingung gimana caranya agar setiap siswa Madrasah Diniyyah bisa baca kitab! Sederhana sebenarnya, tapi ibarat si kerdil ingin memeluk gunung. Impian yang masih sangat jauh sekali dari kenyataan.

Satu-satunya pertanyaan yang belum terjawab dari awal, lalu untuk apakah diadakan evaluasi daur? Apa yang diharapkan dengan adanya daur? Dan jawaban yang tersisa mungkin hanyalah daur sebagai formalitas.

Kedepannya, mungkin para Admiral (Red; orang-orang atas harus berpikir lebih keras lagi bagaimana caranya agar daur lebih “disegani”. Bagaimana caranya agar Daur mempunyai atmosfir seperti ujian kurikulum atau UAS kuliah. Dimana para siswa benar-benar berjuang, berlomba-lomba mendapat predikat A, karena sekarang tidak bisa dipungkiri santri takut sekali jika tidak naik kelas kurikulum, tapi santai-santai saja kalau tidak naik kelas Diniyyah. Takut bener kalau nggak ikut UAS, buru-buru ngurus semester pendek, tapi santai benar ketika tak ikut daur. Alih-alih bingung kedandapan, susulan pun gung diurusi lek gung ketabrak daur ngarep.

Kita tunggu saja, apalagi yang akan ditawarkan pada daur selanjutnya. Apakah tetep mlempem atau akan ada racikan-racikan baru yang bikin gurih.
Review Daur Tsani Review Daur Tsani  Reviewed by Feno Blog on April 22, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.