22 Oktober


Seperti kata pepatah tua “ Saiki jamane jaman EDAN..!! Kabar Hoaxs-Hoaxs okeh seng minat “ (haha gek pepatahe sopo,? Wong NDLEMENG seng ngomong ngono kui wkwk,1X) berangkat dari beberapa faktor yang seiring mongso terus hilirgumanti (celatu, tuntutan, gonja'an, jarang ngopi, dioyok-oyok, dan hal-hal seng berhubungan karo perkoro-perkoro ngono kui) saya yang sekarang bersetatus sebagai Mukrohun (wong kang den pekso) dengan segala keterbatasan me-Meksokan utek untuk menggarap tema 22 Oktober, yang seiring waktu di jadikan tanggal ABANG (opo iyo ta?)

Dalam rangka diperingatinya Hari Santri Nasional yang notabenya di aspirasikan untuk Kang'' dan Mbak'' seng bersetatus mennyandang Gelar Santri yang bila kita memikirnya (ojo pati nemen'' tapi lak miker) adalah orang-orang yang mendapatkan Hidayah dari AS-Shoni' untuk bergelut menjadi seorang Musafir Ilmi dalam suatu Pondok Pesantren yang Insyaallah menjadi oknum-oknum yang memperjuangkan umat yang tanpanya keseimbangan Atmosfir NKRI ini akan terasa panas. 

Dan santri lah batang (duduk batang bi ma'na maytah) kokoh yang mengEdem-edem NKRI ini, (weleeeh, pokok prok-prok lach!). Poko’e Artikel seng mekso ini saya persembahkan untuk panjenengan sedanten seng bakal mengedem-edem umat Indonesia, monggo diwaos,, (pie seh, opo anggite awet teko ndukur mau gak dianggep moco..?).

Tiga hari lagi (kesok minggu, ga usah ndelok tanggalan) seluruh rakyat Indonesia khususnya njenengan sedoyo yang notabennya kaum nahdliyin #NU akan memperingati hari paling besar yang khususnya ditujukan ke khalayak panjenengan sedanten seng bersetatus santri baik yang masih Muqim atau sudah Hijroh dikarnakan faktor-faktor Panas (rabi, di berat, gak kerasan dll). Yang intinya njenengan sedanten tetep manusia-manusia pilihan yang diberi Hidayah & Maunah dari Allah SWT.

“Santri kok muleh mboh masio modele koyok opo ae iku mesti di khusnudzoni dan dibutuhkan karo masyarakat “ dawuhe K.H Ahmad Hisyam.

Berangkat dari presiden kita saat ini seng ndelalahe ae Bpk. Joko Widodo alias Jokowi yang menetapkan KPRI (Keputusan Presiden RI) No: 22 tahun 2015 tentang peringatan hari santri, yang dideklrasikan sejak 22 oktober 2015, yang kala itu bertepatan dengan 9 Muharom 1427 H merupakan sebuah bukti nyata, mengakunya Negara (ndess diakoni negoro) atas jasa para Ulama' dan Santri yang turut serta meramaikan dalam artian merebut, mengawal, mempertahankan, & mengisi kemerdeka'an di NKRI ini, wayah jaman kolo bendu semono kae, piyee sangar tohh..!!

Berkat jasa tiyang-tiyang terdahulu sameyan sakniki angsal manfa'ate sedanten. Lha gak manfa'at piye umpomo gak ono jasa dari pejuang-pejuang terdahulu, sampean orang-orang saat ini terutama njenengan sedanten yang bersetatus santri gak iso ngaji, apalan, sekolah, gendak'an (ehh nglindur) dengan tenang. Coba kita bayangkan si .Fulan yang sedang sholat Lail kusuk mendo'akan si Zaynab “ya allah kapan nduk zaynab mbales surat kulo“ tiba-tiba klontang,,.!! 

Suara dandang di pawon gendok'an tibo (pertanya'ane, solate nang ndi iki potongane fulan) dikarenakan datangnya para LONDO-LONDO seng bersiap untuk menyerang daerah tersebut. Singkatnya opo gak susah nasibe si fulan pada saat seperti itu, wes mengganggu ke-khusukan nya di karenakan para LONDO-LONDO tadi , yang akhirnya doangane gak mustajab dikarenakan kekhusukan yang hilang (weleeeeh, opo yo gak sak repotan).

Karna itu memang seharusnya jasa dari pejuang-pejuang terdahulu yang tidak lepas dari para Ulama dan santri dapat kita rasakan sekarang ini, ehhh tapi hari santri tidak hanya berangkat dari itu lho, pengakuan atas jeri payah keperjuangan Kiprah Ulama dan Santri tidak lepas dari Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh Hadrotus Syeikh KH. Hasyim Asya'ri, Rais Akbar NU pada tanggal 22 Oktober 1945 dihadapan para Konsul-konsul NU seluruh Jawa – Madura – Kendal pisan koyo'e, yang bertempat di Kantor Hoofdberstuar Nahdlotuel Oelama (basa inggris kui) Jl. Boeboeton VI/2 Soerobaja (suroboyo ) fatwa resolusi jihad NU diagungkan dengan pidato beliau yang menggreget banget, hehe :

“Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe fardloe 'ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itoe djadi fardloe kifayah (jang tjoekoep kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…).

Dan tanpa Reslusi Jihad NU dan pidato Hadrotus Syeikh yang menggetarkan tadi, tidak akan pernah ada peristiwa 10 November di Surabaya yang kelak diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Kiprah santri teruji dalam mengokohkan pilar-pilar NKRI berdasarkan Pancasila yang bersendikan Bhinneka Tunggal Ika. Santri berdiri di garda depan membentengi NKRI dari berbagai ancaman. Pada 1936, sebelum Indonesia merdeka, kaum santri menyatakan Nusantara sebagai Dârussalâm. 

Pernyataan ini adalah legitimasi fikih berdirinya NKRI berdasarkan Pancasila. Tahun 1945, kaum santri setuju menghapuskan tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi persatuan dan kesatuan bangsa. 

Tahun 1953, kaum santri memberi gelar Presiden Indonesia, Ir. Soekarno, sebagai Waliyyul Amri ad-Dlarûri bis Syaukah, pemimpin sah yang harus ditaati dan menyebut para pemberontak DI/TII sebagai bughat yang harus diperangi. Tahun 1965, kaum santri berdiri di garda depan menghadapi rongrongan ideologi Komunisme. 

Tahun 1983/1984, kaum santri memelopori penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa-bernegara dan menyatakan bahwa NKRI sudah final sebagai konsensus Nasional (mu’âhadah wathaniyyah). Selepas Reformasi, kaum santri menjadi bandul kekuataan moderat sehingga perubahan konstitusi tidak melenceng dari khittah 1945 bahwa NKRI adalah negara-bangsa, —bukan negara agama, bukan negara suku— yang mengakui seluruh warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, tanpa diskriminasi berdasarkan suku, ras, agama, dan golongan.

Kenyataan ini perlu diungkapkan untuk menginsyafkan semua pihak, termasuk kaum santri sendiri, tentang saham mereka yang besar dalam berdiri dan tegaknya NKRI. Tanpa kiprah kaum santri, dengan sikap-sikap sosialnya yang moderat (tawassuth), toleran (tasâmuh), proporsional (tawâzun), lurus (i’tidâl), dan wajar (iqtishâd), NKRI belum tentu eksis sampai sekarang. Negeri-negeri Muslim di Timur Tengah dan Afrika sekarang remuk dan porak poranda karena ekstremisme dan ketiadaan komunitas penyangga aliran Islam wasathiyyah.

Momentum hari Santri saat ini perlu ditransformasikan menjadi gerakan penguatan paham kebangsaan yang bersintesis dengan keagamaan. Spirit “Nasionalisme bagian dari iman” (حب الوطن من الايمان) perlu terus digelorakan di tengah arus ideologi Fundamentalisme agama yang mempertentangkan Islam dan Nasionalisme. 

Islam dan ajarannya tidak bisa dilaksanakan tanpa tanah air. Mencintai agama mustahil tanpa berpijak di atas tanah air, karena itu Islam harus bersanding dengan paham kebangsaan. Hari Santri juga harus digunakan sebagai revitalisasi etos moral kesederhaan, asketisme, dan spiritualisme yang melekat sebagai karakter kaum santri. Etos ini penting di tengah merebaknya korupsi dan narkoba yang mengancam masa depan bangsa.

Korupsi dan narkoba adalah paham kebendaan yang mengagungkan uang dan kenikmatan semu. Singkatnya, santri harus siap mengemban amanah, yaitu amanah kalimatul haq. Berani mengatakan “iya” terhadap kebenaran walaupun semua orang mengatakan “tidak” dan sanggup menyatakan “tidak” pada kebatilan walaupun semua orang mengatakan “iya”. Itulah karakter dasar santri yang bumi, langit dan gunung tidak berani memikulnya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzaab ayat 72.

Nah sampun podo ngerti toh sedikit mengapa diadakannya Hari Santri, yah itu mungkin sedikit dari wawasan yang saya peksokan untuk dipelajari, yah mohon maaf bila memang tidak seserius dan sebagus dalam kontek materi seperti umumnya para penulis-penulis lain, oke semoga bermanfa’at dan jangan lupa bayar utang feno, bagi kaliyan para “ الّذي إرتكبته الدّيون “ terimakasih.



(@W.N Ra)

22 Oktober 22 Oktober Reviewed by Feno Blog on Mei 10, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.