7 Tradisi Khas Santri Salaf

Tradisi khas santri salaf



Sederhana, qona'ah, dan berakhlakul karimah. Itulah yang terpatri dalam jiwa santri. Namun seiring dengan perkembangan zaman, kini mulai luntur bahkan beberapa diantaranya nyaris jarang di temukan tradisi khas santri salaf yang membuat para santri untuk berjiwa sedemikian rupa. Apa ya nggak eman-eman.??

Saya sebagai santri senior pun ikut ngelus dada. Ya cuma pengen ngelus saja. Nggak lebih. Hehe. Tapi, ada beberapa hal yang perlu jenengan tahu. Berikut kultur santri yang perlu direnungkan dan ditradisikan. 

7 Tradisi Khas Santri Salaf


1. Sandal Baqiak


Sudah barang tentu santri itu harus qona'ah (menerima apa adanya). Sampai-sampai sandal mereka terbuat dari kayu (baqiak). Yang unik dari sandal ini yaitu bisa mengeluarkan suara layaknya musik jazz, sehingga ketika ada kyai lewat, dari kejauhan para santri akan memberhentikan langkahnya, karena takut mengganggu para kyai. Itulah cara santri zaman dahulu untuk mengingatkan rasa takdzim mereka.. Subhanallooh.

2. Nirakati Tulisan

Mungkin saat sekarang sangat jarang ditemukan para santri yang melakukan tirakat diatas. Mungkin karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Mulai dari kurangnya pengetahuan dengan tata caranya, hingga faktor pendorong untuk melakukannya. Dibanding jaman dahulu, -ya jaman nom-nomannya Mbah Dul- yang kritis akan hal-hal yang berkaitan dengan santri, sampai-sampai tulisan pun ditirakati agar menjadi bagus dan lebih terlihat berwibawa. 

Adapun caranya yaitu puasa mutih selama 7 hari, dan pada hari yang terakhir tidak boleh tidur, harus menulis basmalah sekitar 133x dalam kedaan gelap tanpa lampu. Dan hasilnya dapat dilihat pada kitab-kitab terdahulu yang masih ada di asrama-asrama.

3. Tasbih

Tak bisa dipungkiri bahwa pondok adalah tempat untuk meningkatkan nilai-nilai spiritual kita, dan pasti sering melakukan wirid-wirid yang membutuhkan bilangan dan pastinya juga membutuhkan tasbih agar bilangan yang diharapkan bisa genap (tidak salah perhitungan). 

Coba kita renungkan dewasa ini jarang sekali melihat para santri yang menggunakannya. Padahal santri tempo dulu yang terlihat ampuh sangat sering menggunakan tasbih karena takut bilangan yang mereka inginkan salah. Dilihat dari ini, sepertinya santri sekarang lebih ampuh dibandingkan santri dulu...?? Allohu'alam

4. Qona'ah

Lakonono perkoro seng ono, yen tinompo bakal iso dadi opo-opo” Itulah motto yang harus terpatri dalam diri santri, karena kehidupan di pondok diibaratkan genteng. Kalau jenengan ngerti genteng, sebelum dipasang, dia berada di bawah, berkumpul dengan barang-barang material yang lain. 

Dengan perjuangan yang sangat tidak mudah kawan, berawal dari tanah yang dipukul-pukul, diinjak-injak, digembleng dengan sedemikian rupa, dicetak, dijemur dan kemudian dibakar. Setelah melalui jalan begitu panjang, akhirnya jadilah atap yang berada diatas dan menaungi segala sesuatu yang ada di bawahnya.

5. Riyadhah

Barang siapa yang tidak pernah mencicipi sulit dan pahitnya mencari ilmu, maka akan sengsara seumur hidupnya
Sepertinya, tradisi ini harus terus dikembangkan lho mengingat kerasnya kehidupan yang akan datang. Tirakat ini termasuk pembentukan mental dan karakter para santri, yang oleh kalangan pesantren dikenal dengan istilah penanaman jiwa tasawwuf dan akhlakul karimah. Para santri diajari hidup sederhana, menjalani laku tirakat, dan hidup mandiri. Para santri diwajibkan hidup bersama-sama dalam penderitaan.

Para kiai yang menempatkan pembentukan sikap sebagai prasyarat utama ini amat menarik kita kaji. Apalagi kalau kita hubungkan dengan sebuah penelitian yang dilakukan Harvard University terhadap beberapa orang yang mendapatkan pekerjaan. Hasil temuannya, seperti yang diungkapkan Shiv Kheira, cukup mengejutkan. Ternyata, 85 persen keberhasilan mereka disebabkan oleh sikap mental sedangkan 15 persen disebabkan oleh kepandaian dan pengetahuan mereka.

Sikap mental ini memegang peranan yang amat signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Kata "sikap" diterapkan dalam semua kehidupan, termasuk kehidupan pribadi maupun kehidupan profesional seseorang. Dapatkah seorang guru menjadi guru yang baik tanpa sikap yang baik? Dapatkah seorang santri menjadi santri yang baik tanpa sikap yang baik pula? Atau bisakah seorang pemimpin yang baik dikatakan baik tanpa sikap yang baik pula?

6. Pawon

Sangat disayangkan bila santri tak pernah merasakan gendok. Padahal Kyai M. Hasyim Syafa'at pernah dawuh, bahwa “santri iku kudu tau gendok.” Karena gendok mendidik kita untuk bisa mengatur waktu, ekonomi, nasib, dan lainnya. Pada umumnya, gendok di pondok menjadi kelompok-kelompok terdiri dari 3-5 santri. Yang paling unik, yaitu ketika sedang terjadi krisis keuangan. Nah, disitulah peran santri untuk pintar-pintar mengatur sirkulasi keuangan dan menyikapi situasi tersebut agar para anggotanya bisa merasakan sesuap nasi.

7. Pulpen Tutul

Kreatif dan sederhana. Inilah tradisi santri tempo dulu yang perlu dikembangkan. Menggunakan pulpen tutul, ternyata memiliki keunggulan dibanding dengan pulpen yang ada di pasaran saat ini. Beberapa diantaranya yaitu:

• Ukuran kecil dan besarnya mata pena dapat disesuaikan dengan kebutuhan

• Tulisan lebih awet bertahun-tahun dan tidak luntur

• Melatih kesabaran mulai dari proses pembuatan sampai saat menggunakannya sekalipun

Menurut Alumni, pulpen tutul memiliki filosofi tentang kehidupan santri. Wadah tinta diibaratkan pondok, tinta diibaratkan ilmu sedangkan mata pena yaitu mata hati. Jadi ketika seseorang sedang menggunakan pena tersebut harus fokus pada satu wadah tinta dan dengan sabar mencelupkan mata pena berkali-kali ke dalam tinta sedikit demi sedikit dan akhirnya bisa menghasilakan karya tulisan kitab yang nantinya bisa digunakan di masa depan.

Begitu juga kehidupan di pondok yang harus fokus pada satu pondok hingga selesai dan tentunya bersabar menekuni beberapa ilmu sedikit demi sedikit dan akhirnya ilmu tersebut bisa diamalkan kepada masyarakat. (Zulkarnaen El Syihab. Sumber Gambar: Youtube.com, Cyberdakwah.com)
7 Tradisi Khas Santri Salaf 7 Tradisi Khas Santri Salaf Reviewed by Feno Blog on Mei 27, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.