Biarkan Aku yang Pergi


@Inmut Al Firdaus


“Ah sudahlah Dera, kamu memang saudara yang kejam. Hanya menyumbangkan satu ginjal saja tidak mau. Untunglah ada seseorang yang baik hati yang mau menyumbangkannya pada Dara,” ucap Papa.

“Aku kecewa sama kamu, Dera. Tega ya kamu sama kakak kamu sendiri,” ucap Dimas dengan kecewa padaku.

“Siapa yang mendonorkan ginjalnya, Pa?” Tanya kak Virgo.

“Entahlah, pendonor itu tidak mau diberitahu namanya. Bahkan ia memberikan dua ginjalnya dengan gratis pada Dara. Dia benar-benar berhati malaikat.” Jawab papa.

“Andaikan kalian tahu kalau itu aku? Apakah aku akan diberi penghargaan dari Papa?” gumamku dalam hati.

***

Beberapa jam sebelum operasi pencangkokan dilakukan, aku menulis sebuah surat untuk semua orang yang aku sayangi. Entahlah, aku merasa akan meninggalkan mereka semua. Rasanya, aku sudah sangat lelah dengan hidupku sendiri. Sesudah selesai ku tulis, surat itu kutitipkan pada Bi Imah. Akupun berangkat menuju Rumah Sakit untuk segera menjalani operasi.

Di ruang operasi.

Ruang ini terasa begitu menakutkan. Semua benda yang kulihat hanyalah jarum suntik dan gunting. Alat-alat yang terlihat menakutkan bagiku. Aku dibawa lebih dulu ke ruang ini, agar tidak ada yang tahu siapa aku sebenarnya. Posisiku dan Kak Dara dipisahkan oleh dinding pembatas. Hingga akhirnya aku dibius, dan kurasakan semuanya gelap.

***

Seminggu kemudian. . . .

“Akhirnya kamu sembuh juga sayang. Mama khawatir banget sama kamu sejak kamu dioperasi. Untung ada pendonor itu.” Ucap Mamanya dengan penuh kasih sayang.

“Dan Happy Brithday Dara…” Ucap semua orang serentak

“Makasih ya semuanya. Aku senaaang banget. Oya, Dera mana ya Ma? Gak tau kenapa Dara kepikiran dia terus. Hari ini kan ulang tahun kami” Sahut Dara.

“Iya ya? Mana dia Bi?” Tanya Ibunya pada Bi Imah.

“Sebentar nyonya.” Jawab Bi Imah dengan berlari menuju kamar Dara. Dan beberapa menit kemudian sudah tiba dengan membawa sepucuk surat.

“Ini surat dari Non Dera sebelum pergi.” Beritahu Bi Imah. Walau agak heran, Ibunya pun membacanya dengan agak keras.

Dear All....

“Untuk semua orang yang sangaaat Dera sayang. Mungkin saat kalian baca surat ini Dera gak ada lagi disini. Dera udah pergi ketempat yang saangaat jaauh. Oya, gimana kabar Kak Dara? Gak sakit lagi kan? Semoga ginjalku dapat membantumu untuk meraih semua mimpi-mimpimu yang belum terwujud.

Teruntuk Papa yang sangat kurindukan. Gimana Pa? Rumah kita udah tenang belum? Gak ada yang gak sopan lagi kan? Oh pasti gak ada dong ya? Ya iyalah, Dera si pembuat onar kan udah gak ada.

Teruntuk Mama yang sangat-sangat kurindukan. Ma, Dera pasti akan sangat rindu dengan teddy bear pemberian Mama lima tahun yang lalu. Ma, Dera kangeeen banget pelukan Mama. Dera selalu iri saat Mama hanya mencium kak Dara disaat ia tidur. Dera iri melihat Mama yang selalu menyemangati Kak Dara disaat ia sedang sedih. Dera iri dengan semua perhatian yang Mama berikan pada Kak Virgo dan Kak Dara. Dera sangaat iri.

Teruntuk Kak Virgo dan saudara kembarku, Dara. Gimana kak, gak ada lagi kan yang ganggu kalian belajar? Gak ada lagi kan yang nyetel musik keras-keras di kamar? Pasti rumah kita tenang ya, pastinya gak akan ada lagi yang akan membuat kalian malu karena punya saudara yang bodoh bukan? Oh, pastinya. Oya, selamat ulang tahun ya kak, selamat menjalani umurmu yang ke-17 tahun. Yang mungkin takkan pernah aku rasakan.

Kalian semua harus tau, betapa aku sangat menyayangi kalian. Mungkin dengan kepergianku, semuanya akan tenang dan rumah kita menjadi tentram. Dera harap, gak akan ada lagi yang terkucilkan seperti Dera. Yang selalu menangis setiap malam. Yang selalu merindukan hangatnya kekeluargaan. Mungkin dengan kepergian ini, aku akan tau bagaimana kalian akan mengenangku, seperti aku yang selalu mengenang kalian setiap malam dengan tangisan. . .

Semoga kalian semua bahagia tanpa Dera. Amiin. Salam rindu penuh tangis bahagia.

Alderaya Zivanna

Semua yang mendengar menangis. Mereka bertanya-tanya pada Bi Imah dimana Dera. Namun tiba-tiba telepon rumah berbunyi.

“Iya, saya Hermawan. Ada apa ya?” Tanya Papa dengan penasaran.

Dan sesaat kemudian Papa menangis dan segera mengajak anggota keluarganya ke Rumah Sakit. Sayangnya mereka terlambat. Dera telah pergi untuk selama-lamanya, dan meninggalkan berjuta penyesalan di setiap tangis yang jatuh. Kini, ia telah tenang dan jauh dari ketidakadilan selama hidupnya. Walau air mata tengah menangisinya yang telah pergi untuk selama-lamanya.

***

THE END
Biarkan Aku yang Pergi Biarkan Aku yang Pergi Reviewed by Feno Blog on Mei 15, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.