Malaikat Satu Sayap | Part I




Namaku Maria. Aku adalah wanita yang baru saja mengenal Islam. Maklum saja, aku lahir dari keluarga kristiani. Papa, Mama, Kakek, Nenek, dan Kakakku beragama Kristen. Dua bulan lalu, aku bertemu dengan wanita cantik berjilbab di sebuah taman kampus secara kebetulan. Namanya Yasmine. Dia yang mengenalkanku agama Islam. Islam yang sebelumnya aku kira keras, ternyata tidak. Justru Islam mengajarkan toleransi, menghargai perbedaan, dan masih banyak lagi.

Kamu baca Part I. Baca Kisah Selanjutnya di Malaikat Satu Sayap II

Satu hal lagi. Aku tak tau kenapa hatiku merasakan ketenangan dan damai saat Yasmine membacakan sebuah kitab kepercayaan agama Yasmine. Namanya al-Qur'an. Di dalamnya berisikan lafadz-lafadz Arab. Berbeda dengan kitab agama kristiani yang dipercayai keluargaku.

Siang itu hujan turun rintik-rintik membasahi dedaunan dan ranting bunga melati yang tumbuh subur di sekitar rumah Yasmine. Dan seakan hujan tak mengijinkanku pulang ke rumah.

“Mar, ke kamar yuk! Disini dingin.” ajak Yasmine, dan aku mengikuti langkah Yasmine dari ruang tamu menuju ke kamarnya.

“Mar, kamu tiduran aja ya disini, sambil nunggu hujan reda. Aku mau sholat dulu sama abah dan ibu.” Aku hanya mengangguk.

Kamar Yasmine sangat sederhana. Hampir semua pernak-pernik yang ada di kamarnya berwarna ungu, mulai dari lantai, dinding, tempat tidur, boneka, figura dan masih banyak lagi. Aku tertarik pada tumpukan buku yang semuanya berwarna ungu tertata rapi di meja kamar Yasmine. Aku mengambil satu buku kecil berwarna ungu muda. Sampul buku itu berjudulkan “Malaikat Satu Sayap”. Saat ku buka sampul buku itu, di lembar pertama sebuah photo tertempel apik. Aku terkejut saat melihat ada foto Yasmine bersama laki-laki yang aku sukai, serta Yoseph kakakku. Dalam hatiku bertanya-tanya, ada hubungan apa mereka.

“Maria, kamu baca buku apa?” Yasmine tiba-tiba datang dan langsung mengambil buku dan photo yang ku pegang. Segera dia mengembalikan ke tempat semula.

“Maaf, Yas.” Aku menyesali perbuatanku.

“Iya Mar. Nggak papa kok. Ini foto kenanganku dengan sahabatku beberapa tahun silam. Ayo Mar ikut aku. Aku punya surprise buat kamu.” Yasmine menarik tanganku dan mengajakku keluar dari kamarnya menuju ruang tamu. Aku terkejut saat melihat seorang lelaki yang ada di foto tadi duduk bersama seorang anak kecil kira-kira berusia 4 tahun.

“A'un. Kenalin ini Maria, sahabat yang sering aku ceritain ke kamu.” Aku terpaku dalam diamku.

“Oh tuhan bapak. Begitu sempit dunia ini.” kataku dalam hati.

“Hai Maria! Aku A'un teman Yasmine.” A'un menyapaku.

“Hai juga. Aku Maria.” Aku heran kenapa A'un tak mengulurkan tangannya walau hanya untuk sekedar berjabat tangan denganku. Apakah semua laki-laki yang beragama Islam itu begitu.

Seperti biasanya, sepulang kuliah aku ikut Yasmine ke panti asuhan Kasih Bunda. Disana Yasmine bekerja secara cuma-cuma tanpa gaji sebagai guru mengaji al-Qur'an. Terkadang ia juga membacakan dongeng untuk anak-anak panti asuhan Kasih Bunda. Jujur saja aku sangatlah kagum dengan Yasmine. Selain penyayang, sabar, pintar, cantik pula. Nilai lebih untuk sosok wanita berjibab itu.

“Yas, nanti ikut aku pulang ke rumah, ya? Kan biasanya aku yang main ke rumah kamu terus.” Ajakku.

“Iya, Mar. Tapi Farah ikut ya?”

“Farah, Yas? Siapa dia?” Tanyaku penasaran

“Itu lho. Anak kecil yang waktu itu kerumah sama A'un.”

“Oh, iya Yas.”

Sesampainya di rumah, betapa terkejutnya aku saat kakakku Yoseph pulang dari London. Aku langsung memeluknya. Namun tanpa aku sadari Yasmine menitikkan air mata. Aku langsung teringat akan kejadian beberapa waktu lalu saat aku ke rumah Yasmine dan aku melihat foto Yasmine, Kak Yoseph, dan A'un.

“Yasmine, ini kamu kan, Yas?” tanya Kak Yoseph.

“Iya, Yosh. Apa kabar?” jawab Yasmine dengan sedikit kaku. Aku biarkan mereka berbincang-bincang di ruang tamu. Lalu aku mengajak Farah pergi ke dapur. Aku merasa aneh dengan sikap Mama setelah bertemu dengan Yasmine. Padahal sebelumnya saat aku ceritakan Yasmine kepada Mama beliau sangatlah kagum dengan sosok Yasmine.

“Maria. Janji sama Mama agar tidak pernah meninggalkan tuhan Yesus.” Ujar Mama kepadaku.

“Mama ini apa-apaan sih. Iya, Maria janji, Ma.” Aku terkejut dengan ucapan Mama tadi.

“Maria, kakakmu Yoseph pergi bertahun-tahun ke London demi melupakan Yasmine teman kamu itu. Kalau tahu Yasmine yang sering kamu ceritakan itu adalah mantan kekasihnya kakakmu, Mama tidak akan pernah mengijinkan kamu berteman dengan dia.”

“Kenapa, Ma?” Aku begitu shock dengan apa yang dikatakan Mama.

“Iya. Karena agama kita berbeda dengan agama Yasmine, Maria. Itu alasan Mama kenapa membiarkan kakakmu Yoseph pergi ke London bertahun-tahun, daripada Mama harus kehilangan Yoseph. Bahkan kakakmu bercerai dengan almarhum Diana, karena dia tidak bisa melupakan Yasmine. Karena Yasmine pula Mama tidak tau dimana keberadaan cucu Mama dari pernikahan Yoseph dan Diana, Mar.” Aku terdiam beberapa saat, seakan merasakan apa yang dirasakan Mama. Kemudian Mama memintaku untuk mengantarkan Yasmine dan Farah panti asuhan Kasih Bunda.

***

Beberapa minggu telah berlalu. Hari ini, entah ada angin apa, A'un tiba-tiba mengajakku ke taman. Walaupun hanya sekedar ngobrol dan bercanda di sebuah ayunan taman. Di tengah-tengah pembicaraan kami, HP A'un berbunyi. Segera saja ia pergi ke sebuah ruangan kosong yang dekat dengan taman. Di sana, aku menguping pembicaraan A'un dengan seorang wanita. Aku tak tau siapa sosok wanita itu. Aku hanya melihatnya dari belakang.

“A'un, kalau kamu sayang sama aku, kamu harus menyayangi dia sebagaimana kamu menyayangi aku.” Kata wanita itu.

“Dia? Siapa dia yang dimaksud wanita itu?” gumamku dalam hati.

“Lalu, semudah itu kamu batalkan semua ini? Yasmine, sebentar lagi kita akan menikah. Aku sudah turuti semua permintaan kamu, Yas. Saat kamu memintaku menyayangi Farah sebagaimana aku menyayangi kamu pun, aku turuti. Padahal aku tahu betul Farah itu anak siapa. Sekarang permainan apa lagi yang kamu rencanakan, Yas?” Jawab A'un dengan nada tinggi.

Aku semakin tak mengerti dengan semua ini. Hatiku bagaikan dipermainkan oleh A'un. Dan aku baru sadar kalau wanita yang sedang berbicara dengan A'un adalah Yasmine.

P E N D I N G D U L U . . .
(Silviasya Pelangi)
Malaikat Satu Sayap | Part I Malaikat Satu Sayap | Part I Reviewed by Unknown on Mei 27, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.