Sedap Malam | 4


Qiro'ah subuh terdengar mengalun sendu. Alfan ragu-ragu ketika akan mengetuk pintu kamar istrinya. Tapi, tentu saja ia tak ingin melewatkan sholat berjamaah dengan Fida sebagai makmumnya. Diketuknya pintu berukir itu tapi tak ada sahutan dari dalam. Akhirnya Alfan memutuskan untuk membuka pintu itu pelan. Dan.. ia menemukan Fida yang tertidur di atas gelaran sajadah dengan al-Qur'an yang masih berada dalam dekapan. Alfan pun berjalan mendekat.

Diambilnya al-Qur'an itu lalu ia letakkan di atas meja. Baru kemudian ia menggendong Fida yang masih terlelap untuk ia pindahkan ke atas ranjang. Alfan mengamati wajah putih nan ayu itu. Ada jejak air mata disana. Alfan berniat memegang wajah Fida, tapi gadis itu tiba-tiba membuka mata. Jadilah Alfan mengurungkan niatnya. Melihat Alfan berada di dekatnya, Fida spontan terduduk tegak. Matanya berkeliaran mencari jam dinding di kamar.

Astaghfirullah... jam berapa ini? Apa sudah adzan subuh?” Fida bertanya kaget.

“Belum. Masih qiro'ah. Saya tadi sudah mengetuk pintu. Tapi kamunya nggak jawab.”

“Maaf, Mas. Neng ketiduran...” Fida merasa malu karena Alfan menemukannya terlambat bangun.

“Kenapa nangis?” Tiba-tiba Alfan melontarkan pertanyaan yang membuat Fida menunduk seketika. Alfan tersenyum.

“Kalau ada masalah bilang saja. Jangan dipendam sendiri. Lain kali jangan ketiduran di lantai. Bisa masuk angin.” Fida hanya mengangguk-angguk.

“Ya sudah. Wudlu dulu. Saya tunggu di tempat sholat.” ketika Alfan akan beranjak, Fida mendekap laki-laki itu erat. “Terima kasih Mas sudah mau bersabar. Terima kasih...”

Fida berucap dari balik dada bidang Alfan. Rahang laki-laki itu menyentuh dahi Fida hangat. Tak begitu lama, gadis itu menarik pelukannya lalu berlari kecil menuju kamar mandi.

Beberapa detik setelah kepergian Fida, Alfan tertawa kecil hingga lesung di bawah matanya terlihat. Merasa tak menyesal karena wudlunya telah batal...

***

Dua hari, Haris hanya dapat tergeletak lemas di atas tikar tipis asrama. Ia bangun hanya untuk sholat dan bermunajat pada-Nya. Entah kenapa jasmaninya seakan ikut merasakan keputus-asaan. Haris tak ingin menganggap berat kemalangan cinta yang menimpanya. Tapi bukankah hati dan raga tak pernah berjalan sinkron? Gadis pujaannya telah berubah status menjadi istri orang. Tak ada hak lagi baginya untuk merindu apalagi mencintai.

“Ya allah. Berikan hati ini kekuatan serta keikhlasan. Sesungguhnya tak ada takdir yang patut dipertanyakan pada Engkau. Jika cinta karena Nafsu ini sudah menggerogoti hati, maka gantikanlah dengan cinta yang lebih hakiki. Cinta pada engkau, Ya Rabb...” Do'a yang sama selalu ia panjatkan tiap sujud rakaat terakhir. Berharap Allah akan mengenyahkan dukanya saat itu juga. Subhan, sahabat karib Haris telah beberapa kali menengok lelaki itu. Tapi kekuatan seorang sahabat terkalahkan oleh rasa nelangsa hati.

“Mbok ya galaunya itu disudahi saja, Ris. Badanmu itu lo tambah kurus kering.” Wejangan Subhan pada suatu sore. Haris tetap terdiam.

“Galau boleh tapi jangan sampai kewajibanmu dilalaikan. Anak-anak diniyyahmu itu nggak ada yang ngurusi.” Subhan tetap berbicara. Sekali lagi, Haris tetap tak bergeming.

“Allah selalu punya cara bagi hambanya yang bersabar. Ojo lali nyebut.” Barulah Haris mau menatap Subhan dengan matanya yang cekung.

“Aku kayak gini itu juga sebagai jalan mengobati hati. Kalau nggak, bisa senewen aku nanti, Han.” Setelah berucap, Haris berbalik arah memunggungi Subhan. Memutar kembali tasbihnya.

Astaghfirullah'aladzim Astaghfirullah'aladzim... Astaghfirullah'aladzim...

***

Seperti malam-malam sebelumnya, Fida selalu bangun untuk bermunajat pada-Nya. Dan seperti malam-malam sebelumnya, ia selalu mencium bau bunga sedap malam yang menambah khusyuk qiyamul lailnya. Seakan hembusan angin dari surga, bau ini selalu tercium. Seperti halnya malam ini. Fida mengitari seisi rumah mulai dari teras depan, ruang tamu, dapur, hingga kamar mandi. Tapi tetap hasilnya nihil. Rasa penasaran mulai timbul.

Saat Fida melewati kamar tamu tempat Alfan tidur, gadis itu baru sadar bahwa hanya kamar itu yang belum pernah ia masuki. Menatap pintunya saja ia sudah segan apalagi untuk memasukinya? Sekali lagi, rasa penasaran mendorongnya untuk mengetuk pintu. Dua kali, tiga kali, tak ada sahutan. Mungkin Alfan tengah tertidur di dalam sana. Pelan Fida memutar knop pintu. Ruangan temaram menyambut penglihatannya. Tapi bisa ia lihat tak ada Alfan di atas ranjang itu. Tapi bukan itu yang membuat Fida mengernyit dalam. Bau dari kamar ini begitu harum. Bau bunga sedap malam tapi lebih semerbak dari yang biasa ia cium. Fida membuka pintu lebih lebar.

Disana. Di sudut ruangan ia melihat Alfan yang tengah sujud menghadap kiblat. Cahaya redup mengelilingi tubuh laki-laki itu. Membuat suasana begitu tentram. Bergetar tubuh Fida karena melihat pemandangan yang tak pernah ia temui sepanjang hidupnya. Apakah berasal dari Alfan bau harum yang selama ini ia cium tiap malam? Subhanallah...... karomah apa yang dimiliki suaminya. Fida bergegas menutup pintu. Berlari ke kamar tidurnya. Hal ini seakan sulit untuk dipercaya akal tapi nyata dilihat.

***

Setelah melihat kejadian aneh itu, Fida seakan terbuka hatinya. Ia merasa telah menemukan imam yang tepat. Gadis itu merasa begitu beruntung karena diperistri oleh salah satu kekasih Allah. Laki-laki yang baik akhlaknya, sabar luar biasa, cerdas, serta hamba yang begitu taat pada tuhannya.

Telah lebih dari 1 bulan pernikahan mereka. Tapi Alfan tak juga memintanya untuk melaksanakan tugas ibadah sebagai seorang istri yang sebenar-benarnya. Fida kini merasa was-was sendiri. Apa ia tak menarik sebagai seorang wanita? Apakah ia tak mengundang syahwat suaminya sama sekali? Alfan memberinya waktu 1 bulan. Tapi kini waktu itu telah terlewati. Apa harus Fida yang meminta terlebih dahulu?

Ah... memikirkannya saja ia menjadi malu.

Sementara Fida yang kini mulai menemukan kebahagiaannya dalam berumah tangga bersama Alfan, Haris tetap terjebak dalam labirin cintanya sendiri. Sakitnya bertambah parah hingga keluarga kemudian merujuknya ke sebuah RSUD. Penyakit typus serta komplikasi limfa, vonis sang dokter. Haris telah pasrah. Ia merasa begitu rindu pada Allah. Mengalahkan rindunya pada Fida. Ia ingin cepat-cepat mengakhiri cinta ini serta segala rasa duka yang ia rasakan semenjak gadis itu pergi meninggalkannya. Haris terus menggulirkan tasbihnya tiada henti.

Astaghfirullah'aladzim... Astaghfirulloh... Astaghfirullah...
Tanpa kabar. Tanpa kesakitan. Dan tanpa keluhan. Allah memanggil Haris saat menjelang subuh di penghujung bulan kelahirannya sendiri. Mungkin itulah jawaban bagi do'a Haris selama ini.

Kabar itu mengejutkan Fida bak petir di pagi buta. Tulangnya seakan dilucuti demi mendengar kabar dari teman pondoknya dulu bahwa Kak Haris telang berpulang. Fida yang pagi itu akan berangkat kuliah, segera mengurungkan niatnya. Ia pergi menemui Alfan di kamarnya. Bahkan tanpa mengetuk pintu, Fida masuk begitu saja. Alfan tengah memakai dasi saat Fida dengan mata berkaca-kaca, tiba-tiba menyeruak masuk tanpa salam. Laki-laki itu terkejut bukan main. Di pegangnya pundak gadis itu. Tatapan Fida linglung. Wajahnya pias.

“Teman Neng meninggal subuh tadi.” Satu air mata jatuh mengenai tangan Alfan saat Fida mengucapkan kalimat itu.

“Iya. Iya. Kita pergi ke Jombang sekarang.”

Hari itu Alfan membatalkan semua jadwal mengajarnya. Ia tak tega melepas Fida sendiri. Jarak antara Rembang-Jombang tidaklah dekat. Butuh waktu berjam-jam lamanya.

Di dalam mobil, Fida membisu. Alfan menatap ekspresi gadis itu. Kosong...

Baca Lanjutan Cerpen "Sedap Malam"

LEREN RUMIYEN....


Penulis: @Lintang
Sedap Malam | 4 Sedap Malam | 4 Reviewed by Feno Blog on Mei 10, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.