Sedap Malam | 5-Habis


“Cinta itu buta. Neng nggak mau dibutakan cinta yang semu. Neng lebih memilih mengejar ridlo Allah lewat Mas.”

Baca Kelengkapan Kisah Ini:
>Sedap Malam 1
>Sedap Malam 2
>Sedap Malam 3
>Sedap Malam 4
>Sedap Malam 5

Di dalam mobil, Fida membisu. Alfan menatap ekspresi gadis itu. Kosong...

Teman yang dimaksud Fida pastilah sangat istimewa hingga mampu membuat gadis itu sedemikian sedih. Alfan tak ingin bertanya. Ia juga diam memandang keluar jendela mobil. Saat mobil telah sampai di pelataran rumah bercat hijau, Fida melompat turun terlebih dahulu. Dipeluknya wanita paruh baya yang langsung tegak saat melihat kedatangan Fida.

“Maaf bu. Fida nggak tau apa-apa soal sakitnya kak Haris.” Gadis itu menangis sesenggukan.

“Sudah jalan Allah. Sudah. Sudah. Diikhlaskan saja...” Ibu Haris mengelus pundak Fida. Terbayang dalam ingatannya saat dulu Haris pernah mengenalkannya pada sosok gadis ayu yang telah menjerat hati putranya. Dulu ia hanya dapat mendengar cerita gadis itu dari mulut Haris. Yang ia tau, 9 bulan kemudian hubungan putranya kandas karena gadis yang dicintainya akan menikah. Kini, gadis itu tengah menangis di pelukannya. Menangisi Haris. Sebagai seorang ibu, ia mulai mengerti derita apa yang dialami anaknya.

“Itu suamimu ?” Tanya ibu Haris. Matanya menatap Alfan. Tapi Fida malah menangis lebih keras lagi.

Alfan melihat Fida yang terus menangis bahkan saat jasad itu sudah dimakamkan. Air matanya bagai kran yang mengucur deras. Kini, Alfan mulai mengerti siapa teman yang dimaksud Fida.

Sejenak Fida lupa akan dunia. Ia larut dalam dukanya. Kenapa secepat ini? Takdir telah memisahkannya dari Haris. Sekarang Allah telah memisahkannya dalam dunia yang tak lagi sama.

Esoknya Alfan dan Fida kembali ke Rembang. Kabut masih menggelayut berat di kelopak mata istrinya. Alfan hanya dapat diam dan tak bertanya apapun. Dalam perjalanan pulang, Fida tiba-tiba beringsut mendekat lalu memeluknya. Meletakkan kepala di dada Alfan.

“Maaf. Neng nggak dengerin Mas.” Kata gadis itu pelan. Alfan mengelus puncak kepala istrinya.

“Haris itu siapa?” Alfan berusaha bertanya selembut mungkin agar duka gadis itu tak muncul lagi ke permukaan.

“Seseorang yang pernah Fida ajak untuk merajut mimpi di masa depan.” Seketika Alfan mengerti. Laki-laki itu tersenyum.

“Neng sayang dia?”

Fida mengangguk pelan.

“Apa Neng memutuskan hubungan gara-gara rencana Abah untuk menjodohkan kita?” Sekali lagi, Fida mengangguk. Alfan tersenyum mengerti. Bukankah hati memang tak bisa ditebak?

“Tapi Allah tak pernah berencana menyatukan kami. Seberapapun sayangnya Neng, Allah telah memiliki rencana yang 100 kali lebih baik.”

“Kenapa Neng mau dijodohkan kalau begitu?”

“Cinta itu buta. Neng nggak mau dibutakan cinta yang semu. Neng lebih memilih mengejar ridlo Allah lewat Mas.” Gadis itu mendongak menatap Alfan.

“Saya nggak pernah tuh ngerasain yang namanya cinta. Menatap lain mahram saja rasanya belum pernah. Yang halal itu lebih enak, Neng.” Gurau Alfan. Laki-laki itu mengetatkan pelukannya.

“Terus... kenapa mas mau dijodohkan?”

“Itu karena saya udah suka Neng dari sekilas pandang. Itu pertama kali saya liat perempuan 30 detik lebih lama.”

Fida yang mendengarnya terkejut. Apa sebenarnya maksud Alfan ?

***

Fida memurojaah hafalan qur'annya. Setelah dapat 4 juz, dia berhenti. Fida berjalan menuju kamar Alfan. Ia mendapati Alfan tengah duduk tahiyyat akhir sholat qiyamul lail-nya. Gadis itu merasakan ketentraman luar biasa saat mencium bau bunga sedap malam ini. Ia ingin terus mencium bau ini sepanjang malam. Ditunggunya hingga laki-laki itu selesai sholat.

Alfan menyadari Fida tengah duduk di atas ranjang saat ia mengucapkan salam pertama.

“Mas nggak mau pindah tidur di kamar?” tanya Fida pelan.

“Ini kan udah di kamar Neng.” Alfan bangkit lalu melipat sajadahnya.

“Maksudnya kamar kita disana. Ini kan kamar tamu. Neng nggak mau tidur sendiri lagi.” Alfan tertawa mendengarnya.

“Kalau saja dari dulu minta kayak gitu kan lebih enak, Neng. Saya itu takut mau minta. Takut Neng belum siap”

“Belajar menerima itu butuh proses, Mas. Mas sudah mau bersabar nunggu saya. Dengan nama Allah, saya siap jadi istri yang sesungguhnya. Insyaallah...” ucap Fida mantap

Alfan memeluk istrinya. “Ini mau dilanjutin disini atau di kamar Neng?” Tanya Alfan menggoda. Fida memukul lengan suaminya pelan. Merasa benar-benar malu.

Cinta tidak datang karena nafsu. Cinta datang karena Allah, serta sebagai perantara untuk mencapai ridlo-Nya. Pernikahan jika dilandasi oleh satu tujuan yaitu menguatkan cinta kepada sang Rabb, maka pernikahan itu akan menjadi sebaik-baiknya surga bagi para pencari cinta.


THE END

Penulis: @Lintang
Sedap Malam | 5-Habis Sedap Malam | 5-Habis Reviewed by Feno Blog on Mei 10, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.