Diniyyah, Masih Pentingkah?


Sebelumnya, saya disini akan menambah wawasan sedikit tentang pentingnya sekolah diniyyah. 
Di Indonesia, ada dua jenis pendidikan yang sama-sama berusaha mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi melalui sistem dan metode yang berbeda. Yaitu pendidikan formal dan pendidikan non formal. Pendidikan formal kita adalah sekolah, dan non-formalnya adalah pendidikan keagamaan yang biasa kita sebut disini sebagai Madrasah Diniyyah. 

Madrasah Diniyyah menurut saya adalah: sebuah sekolahan non formal yang berada di bawah naungan Kementerian Agama, yang sudah cukup lama dikenal sebagai institusi pendidikan keagamaan yang dikenal unik dan khas Indonesia. Hebatnya, Madin (Madrasah Diniyyah) telah ratusan tahun lahir, dan tetap eksis walaupun tanpa sokongan dana bantuan dari negara atau pemerintah sekalipun. 

Lantas, apakah keduanya saling gontok-gontokan, sleding-sledingan, dan tikung-menikung demi mendapat tanggapan dari masyarakat? Oh tentunya tidak. Keduanya saling bersinergi, bersatu, dan membantu dalam meningkatkan kualitas pendidikan bangsa Indonesia. Bedanya, pendidikan non-formal kurang mendapat perhatian lebih, sering pemerintah memandangnya sebelah mata. Bahkan, tak jarang orang-orang memandangnya dengan remeh. 

Mengapa semua itu terjadi? Menurut hemat saya, karena realitanya kesadaran orang muslim sama agamanya memang kurang. Khususnya di daerah perkotaan. Seperti di kota saya misalnya, masyarakat disana lebih mengesampingkan pendidikan diniyyah dan lebih memilih bimbingan belajar (bimbel) atau privat yang mengajarkan pelajaran-pelajaran umum. Padahal, dalam perkembangannya, madrasah diniyyah-lah yang banyak melahirkan generasi-generasi muslim yang memiliki karakter akhlak, moral, dan pola pikir yang progresif dan bagus. Ini di kota saya sih, gak tau di kotamu. 

Akibatnya, banyak orang tua yang lebih bangga anaknya bisa hafal rumus Matematika dan fisika daripada hafal kaidah nahwu dan shorof. Lebih bangga lagi kalau anaknya pandai pelajaran gravitasi dan hukum geometri daripada pelajaran fiqih. Dalam hal ini saya tidak menyalahkan adanya pendidikan formal. 

Jujur, saya juga orang yang selalu menempuh pendidikan formal. Tapi, please deh... jangan remehkan pendidikan non formal atau diniyyah tersebut. Sebab Indonesia tidak hanya butuh pada orang yang pintar, tapi juga orang yang berakhlak mulia agar Indonesia maju dan sejahtera. Iya kan? Wah... gini-gini saya juga memikirkan nasib Indonesia lho. Hahaha. 

Sebagai institusi pendidikan Islam yang bersifat kerakyatan, peran Madrasah Diniyyah tidak layak diabaikan begitu saja guys. Apalagi ketika melihat kualitas dari Madrasah Diniyyah yang tidak remeh guna memenuhi kebutuhan pendidikan agama Islam bagi anak-anak, terutama yang masih menginjakkan kakinya di sekolah pendidikan dasar. 

Oleh karena itu, dengan seiring perkembangan zaman now, dan seiring dengan semakin hilangnya akhlak dan moral generasi micin bangsa ini, diharapkan lembaga pendidikan non-formal ini dapat menarik banyak anak bangsa dan menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah, juga budi pekerti yang luhur. 

Maka, kita, anda, dia, dan mereka semua perlu pendidikan madrasah diniyyah ini dilestarikan dan dibudayakan dalam kehidupan di masyarakat. 

Harapan terbesarnya, mudah-mudahan terbentuklah generasi dan anak bangsa yang sholih-sholihah, generasi yang perintis bukan pewaris, yang berkarakter pelopor (bukan yang micin lho ya), sehingga terbentiklah generasi dan anak-anak yang bertakwa kepada Allah Swt.

Penulis:@Dita Murni
Gambar: Nu.or.id


Diniyyah, Masih Pentingkah? Diniyyah, Masih Pentingkah? Reviewed by Feno Blog on Mei 10, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.