IAIDA Undercover



"Tak perlu muluk-muluk dulu lah. Berilah sebuah 'rumah' khusus untuk bidang kepenulisan di bawah rindangnya pohon sebesar IAIDA . Mestinya ini mudah saja."

Selama ini ketika saya membuat tulisan, entah itu artikel, essai, atau hanya sebatas opini, tidak pernah sekalipun menyebut sebuah nama, lembaga, tempat, ataupun sebatas inisial yang mengindikasikan pada instansi tertentu. Atau lebih tepatnya memang saya tidak berani. Biar aman katanya. Jadi sewaktu-waktu ada pihak atau oknum yang mengkritik, tidak terima, mencak-mencak, ingin menuntut, maka saya tinggal jawab enteng saja; ”Loh itu lo yang saya maksud bukan sampean. Apah? Hah, merasa? Ah, anda terlalu baperan.” Begitu. Masalah clear, selesai tanpa perlu narik otot.

Tapi pada kali ini, saya akan memberanikan diri, menyebut sasaran dengan jelas, terang-terangan, meng-lock target. Biar greget dan mengena. Masalah nanti dianggap cuma angin lalu, dibaca kemudian dibuang begitu aja kayak upil, maka biarlah. Itu memang hak pembaca sebagai penikmat tulisan. Tugas saya cuma menulis. Nah, kalo ternyata nanti tiba-tiba di tengah jalan ada Godzilla ngamuk, ada masalah, ada pihak yang komplain, maka biarlah ditangani sambil ngunyah kacang goreng oleh captain ganteng kita Syamil Basyayif sebagai 'ketua panitia.' Karena seingat saya, di Republik Fenomena ini, kita bebas menulis apapun. Mau serius, lucu-lucuan, cinta-cintaan, horor, basah-basahan, terserah. Asal jangan sehelai pun menyentuh teritori Keluarga Ndalem.

Oke, kalau sudah paham aturan mainnya, here we go, kita santap hidangan utamanya sambil minum teh. Woles saja. Tak perlu serius menanggapi tulisan alay Hifji Flick yang masih belepotan disana-sini.

Sebagai unit pendidikan formal yang bertengger di tahta tertinggi yayasan pondok pesantren Darussalam, IAIDA sudah tak diragukan lagi sepak terjangnya. Mulai dari sederet catatan prestasi, keiukut-sertaan, jasa, integrasi keilmuan, penyuluhan langsung, partisipasi pendidikan, IAIDA seperti sudah mengkonsolidasi seluruh lapisan. Bisikkan namanya di pelosok-pelosok nusantara, semua orang langsung ber “oh” besar; ”Oohhh, IAIDA.” Sebutkan namanya di Thailand, bahkan telinga orang-orang mulai familiar.

Namun ternyata, jika kita mau menengok lebih dalam, masih ada disana-sini sisi gelapnya. Sisi yang benar-benar tertinggal, saat sisi yang lain berlari kencang jauh sekali. Salah satunya yaitu kepenulisan!

Ah, kadang saya bertanya-tanya pada kemana grate nilai prestasi IAIDA yang se-Jawa Timur, se-Besuki, se-Jawa Bali, Nasional, konon dosennya ada yang dapat short term award on female leadership, kalau sudah menyinggung bidang kepenulisan. Terabaikan. Tertinggal. Madesu. Au ah, gelap.

IAIDA tiba-tiba seperti macan ompong pada dunia yang satu ini. Lesu, macam ikan diambil tulangnya saja. Tak tersentuh sama sekali, dipandang sebelah mata. Padahal seperti kita ketahui bersama, mahasiswa itu harus bersifat kritis. Kaataanyaaa…. Lalu mau kritis dimananya coba, kalau dunia kepenulisannya saja tak terurus. Mau orasi? Demo? Bakar-bakar ban ditengah jalan? Aduh kita santri. Malu sama tetangga. Maka apa salahnya jika dimulai dari langkah kecil. Menulis misalnya.

Sampai saat ini, apa memang saya yang baru kuliah dapat satu semester, jadi masih ita itu, buta akan kampus. Tapi sebatas yang saya ketahui, tidak ada satupun 'wadah' khusus di IAIDA yang menaungi bidang kepenulisan. Entah itu, organisasi, komunitas, intra, extra kurikuler, tak ada secuilpun. Nihil. Ini seperti menciptakan sebuah ambigu. Padahal PMII-nya pesat sekali. Pramuka, kabarnya kapan hari sampai ke IAIN Jember. Malah denger-denger mau ke Madura. Teater, tak perlu ditanyakan lagi. Dunia tarik suara saja, ada Padus yang belum lama ini dapat undangan sampai ke Banyuwangi. Termasuk kategori intra, kucuran dananya jelas, terorganisir, terbimbing, teropeni. Tapi kepenulisan? Nothing.

Seharusnya ini menjadi pertanyaan, kok bisa sekelas institute, tapi nggak ada 'rumah' khusus untuk 'para abjad'? Papan-papan media rasanya kayak menu di kos-kosan. Membosankan. Kui-kuiii tok. Isine mek pengumuman kumpuuulaannn tok gak enek eneh. Paling mentok pengumuman ngurusi KRS. Nggak malu apa sama abg-abg SMA atau remaja-remaja SMP yang papan medianya aktif terus. Tiap minggu ganti, tiap bulan kelas-kelas bahkan terkesan ngantri, sekedar untuk nempel karya tulisnya. Terlepas itu hanya mading, tulisan-tulisan alay, roman picisan khas bocah ingusan, sebagian nyomot di google, its no problem. Sudah bagus. “Dari pada kayak 'Kakak'. Tidak sama sekali, yeee”. Nyatanya pada lomba-lomba tertentu, event-event akbar, ada kok yang juara cerpen, puisi, artikel tingkat SLTP-SLTA. IAIDA, apa kabar? Satu-satunya catatan di bidang tulis-menulis ini adalah ketika salah satu mahasiswa IAIDA artikelnya masuk 20 terbaik dalam acara for paper se-Jawa di Jombang.

Apa gak malu juga sama Fenomena. Punya kapten yang urusan ngeluluskan sekolah Aliyah saja dia gagal. Lha iyo tho? Feno juga berdiri sendiri. Kalau dibilang buletinnya berdiri di bawah naungan Pesantren, Diniyyah, atau apa-apalah, prediksi saya, Kapten kita adalah orang yang pertama kali mencak-mencak tidak terima. Atau anda baca di bagian pojok kanan atas, lokasi kantor aja tulisannya, “Masih Bingung.” Atau anda pergi ke fotocopy TB, ATK, atau Awy.com, tanyakan berapa hutang Fenomena, pasti anda kaget dan mbatin, “Kok jek urip ae buletin iki. Wayahe wes gulung tikar ket mbiyen.” Eits... ini hasil ndopox saya dengan Kapten kita.

Tak perlu muluk-muluk dulu lah. Berilah sebuah 'rumah' khusus untuk bidang kepenulisan di bawah rindangnya pohon sebesar IAIDA . Mestinya ini mudah saja. Misalnya kayak di pondok, ada MKD (Media Kepenulisan Darussalam) yang eksis dengan MedIS-nya (Media Informasi Santri). Bahkan sekarang ada sekolah kepenulisannya. Ada jurnalistik, ada pula sastra. Belum lama ini yang jurnalistik malah sudah menimba ilmu sampai ke Radar Jember. Atau minimal macam Si Raja Hits Fenomena ini lah. Yang meskipun sekedar buletin, kecil, tapi eksis, aktif, istiqomah, tiap minggu terbit, mesti kadang nyendat pula. (Paling-paling si dia langsung pembelaan, “Al-Insan mahalul qotho' wa nisyan.” Mentang-mentang jurusan Tasawuf.)

Berat memang. Namanya juga merintis. Tak ada banteng yang lahir langsung bertanduk. Tapi kalau sudah ada wadahnya, rekrut anggotanya, ada pelindung, ada penanggung jawabnya, cobalah corat-coret. Yang penting berkarya, terbitkan, suarakan, hanya masalah waktu semua akan tumbuh berkembang seperti jamur di musim penghujan. Dari pada tiap hari ke perpus cuma nulis caption sok bijak di dinding-dinding medsos, ngetik status lebay, chat tanpa henti sama gebetan. Kalau memang nanti 'rumah' khusus ini sudah terealisasikan (saya berharap), mending arahkan saja ke dunia kepenulisan ini. Lebih bermanfaat. Itung-itung belajar ngetik untuk skripsian. Masak mahasiswa semester akhir, buat foot note aja nggak bisa.

“Boro-boro mau ngurusi nulis bro. Garap makalah aja revisi terus, nggak kelar-kelar.” Justru itu, buat latihan. “Gue sibuk ah, nggak ada waktu.” Terlalu naïf rasanya kalau bilang nggak ada waktu. Nyatanya nonton drakor di perpus aja ada waktu kok. Dua puluh episode loh itu. Yo kober kok. Bahkan ada yang sampai khatam tiga empat judul berbeda. Bah, kalo buat nulis sudah bisa bikin cerpen tuh. Kumpulan sambil rasan-rasan, ngopyok putra-putri, dapat nasi bungkusan, ketemuan di koridor-koridor kampus, ngopi waktu jam kosong, nyatanya juga ada waktu kok. Masak cuma nulis satu dua paragraf aja bilangnya sibuk? Kecuali kalau kalian termasuk mahasiswa 'penumpang gelap', atau mahasiswa yang apatis.

Ayolah tengok sedikit saja keluar. Di saat mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi lain namanya sudah terpampang di kolom-kolom koran, blog-blog media massa, berlomba-lomba menerbitkan majalah, masak kita masih beralay-alay ria, nulis curhatan-curhatan di dunia maya, perasaannya tercecer-cerer di wall medsos, masih bergenit-genit ria bales chat, “Udah makaann? Tak tunggu di tangga pojok ya, jangan lupa semangat, besok kuliah.” Duhhhh…

Seharusnya malu. Eh? Apa ya, saya tak bisa menemukan padanan kata atau analogi yang tepat. Introspeksi kah? Ah pokoknya itu. Saat fasilitas pendidikan terus memadai, lokal terus bertambah, biaya pendidikan saban taun meningkat, pernyataan makin sulit belum di acc-acc (aduh malah saya jadi ikut2an curhat), beberapa fakultasnya sudah visitasi akreditasi, kampus makin bersolek, ini seperti antitesis saja. Masak IAIDA yang sudah berdiri sejak 17 Juni 2001 (usianya sudah 17 tahun ), diresmikan oleh DR. H. AS. Hikam (Mantan Menristek), kalah sama tetangga sebelah, Ma'had Aly.

Dengan usia yang baru seumur jagung, mahasantrinya nggak sampe dua lusin, dosennya cuma lima orang, bayarnya juga setara dengan SPP Diniyyah, ruangnya pas-pasan, kabarnya sudah mau menerbitkan buku tentang Filsafat dan buku Kajian Zakat Kontemporer. Sombong sekali mereka. Saat kami (mahasiswa IAIDA) masih sibuk dengan paradigma ilmu mejeng, pengantar filsafat ngecer, kalian sudah mau menerbitkan buku filsafat. Ini kayak remaja balapan lari sama balita yang baru merangkak tapi dipecundangi begitu saja.

Namun meskipun begitu, bukan berarti menjustifikasi bahwa IAIDA sistemnya sudah failed. Lalu gara-gara satu sisi masih gelap sekali (kepenulisan), kita menggeneralisasi bahwa semuanya juga masih carut-marut. Tidak. IAIDA tetaplah IAIDA dengan segala identitas khasnya. Kampus berbasis pesantren dengan background agama yang kental, mencetak kader-kader berwawasan dan berakhlakul karimah. Hanya saja, PR besar masih menjadi beban semua lini mulai mahasiswa, dosen, dan perangkat-perangkat IAIDA. Terutama sindikat BEM, para penggiat, penegak, aktivis-aktivis kampus. Ayo ngapain aja kalian? Apa saja yang kalian bahas dalam kumpulan direwangi libur-libur tetep masuk?

Kita tidak bisa menghindari kodrat, bahwa kepenulisan adalah salah satu pilar pendidikan. Tadris, Management, Komunikasi, Dakwah, publikasi kampus, semuanya tak bisa lepas dari yang namanya dunia kepenulisan. Masak to ya, di website resmi PTS sekelas IAIDA, www.iaida.ac.id, pada kolom popular category perihal berita ada 98, dan artikel 0. Ini kayak Sasuke lawan Suneo kan. Jauh banget. Bukannya saya ngibul lo ya. Tapi memang benar-benar nol besar. Tidak ada sama sekali. Bukankah ini secara tak langsung juga menunjukkan bumi kepenulisannya yang juga masih tandus?

Kedepannya, mudah-mudahan dunia kepenulisan lebih diperhatikan lagi, serta mendapat 'porsi' khusus oleh unit sekaliber IAIDA. Bukan hanya sebatas mengadakan seminar, workshop, atau bedah buku. Itu juga bagus, tapi alangkah lebih bagusnya jika ada 'wadah' tersendiri yang fokus, dan memang orientasinya di bidang kepenulisan, lalu didukung penuh pula dengan acara-acara kepenulisan macam seminar, talkshow, dan sebagainya. Hemm…numero uno kan? Perfecto!

Semoga jagat kepenulisan IAIDA hidup, melahirkan penulis-penulis muda berbakat (yang masih terpendam bakatnya karena tidak tahu mau disalurkan kemana bakatnya). Tidak malah semakin lesu karena tertinggal jauh sekali dari kawan-kawannya. Saatnya mengambil prospek yang jelas.. Ayo,bangkitlah literatasi IAIDA!

@Hifji Flick
IAIDA Undercover IAIDA Undercover Reviewed by Feno Blog on Mei 12, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.