Sedap Malam (1)


"Hanya seorang santri yang bidang ilmunya belum begitu luas, ingin meminta restu pada seorang Kyai pemangku pondok besar"

Menikah? Itu hal terakhir yang akan Fida lakukan di usianya yang baru menginjak 20 tahun. Melihat wajah sang calon saja tidak pernah apalagi harus menikah. Lagi pula, ia sudah memiliki pilihan sendiri. Laki-laki sholeh yang sangat menyayangi serta menghormatinya.

“Abah benar serius dengan ini?” tanyanya syok ketika sang Abah menyatakan maksudnya berbicara empat mata dengan Fida, anak perempuan satu-satunya.

Kamu Baca Bagian 1. Baca Kelengkapan Kisah Ini:
>Sedap Malam 2
>Sedap Malam 3
>Sedap Malam 4
>Sedap Malam 5


“Ya serius. Buat apa Abah bohong. Pokoknya Neng jangan khawatir. Abah sudah punya calon yang tepat.” Fida meremas gamisnya. Bingung memilih antara berkata sejujurnya bahwa ia sudah memiliki pilihan sendiri, atau harus berbohong pada Abahnya. Ia tau tabiat Abahnya yang tidak bisa dibantah. Fida mengerti, Abah menginginkan calon yang tepat untuk membantu mengurus pondoknya kelak.

“Tapi, Bah. Neng mau menyelesaikan S1 dulu baru menikah.”

“Walaupun sudah menikah, Neng tetep bisa lanjutin kuliah sampai lulus S1.”

Fida kehabisan alasan untuk menolak perintah sang Abah. Disamping itu, ia tak ingin jadi anak durhaka yang membangkang pada orang tua. Akhirnya, Fida hanya bisa berkata,

“Ya sudah. Neng ikut Abah saja.” Fida menunduk dalam. Menyembunyikan raut sedihnya. Abah tersenyum. “Insya Allah. Pernikahan Neng akan jadi pernikahan penuh berkah.”

Dalam hati Fida mengamini. Berharap do'a Abahnya akan jadi kekuatannya nanti.

***

“Sebelumnya Fida minta maaf, Kak. Permintaan Abah tidak bisa ditolak.”

Fida dengan Haris duduk berjauhan di selasar depan kelas mata kuliah sosiologi. Haris sudah memantapkan hatinya pada gadis ayu itu sejak 2 tahun lamanya. Saat ini, Haris hampir menyelesaikan S1 nya dan berencana melanjutkan S2 di Jogja. Setelah rencana masa depan mereka yang sempurna, Fida ingin memutuskan secara sepihak kemana hubungan ini akan dibawa. Bukankah sangat tidak adil bagi laki-laki dewasa yang sudah ingin serius sepertinya?

“Loh, Dek. Kenapa seperti itu? Pasti kita bisa temukan jalan lain.” Haris menatap Fida yang menunduk. Gadis itu hanya menatap flat shoes pink yang dikenakannya. Jarak mereka terpaut 5 jangkah jauhnya. Tapi Haris merasa gadis di depannya begitu jauh untuk digapai.

Dibalik wajahnya yang tertutup jilbab satin, Fida tersenyum miris.

“Tidak bisa, Kak. Fida nggak mau buat Abah kecewa.”

“Kakak akan meminang adek secepatnya setelah lulus S1 nanti. Insya Allah. Kakak janji. Beri waktu kakak untuk memantaskan diri agar bisa jadi imam yang baik.” Haris berusaha meyakinkan Fida. Laki-laki itu menatap Fida sekilas lalu mengalihkan pandangan lagi. Tetap berusaha menjaga satir gaib yang membatasi mereka.

“Fida juga ingin seperti itu. Tapi sepertinya Abah sudah bulat keputusannya. Fida tidak ingin terbutakan cinta hingga harus menukarnya dengan Ridlo Allah.”

Haris terdiam. Menatap langit lalu beralih pada tong sampah di ujung koridor. Begitu seterusnya.

Dalam benak laki-laki itu, ia juga sama terlukanya seperti Fida. Teringin Haris datang langsung menemui Abah agar merestui hubungan mereka berdua. Tapi siapakah ia? Hanya seorang santri yang bidang ilmunya belum begitu luas, ingin meminta restu pada seorang Kyai pemangku pondok besar di Jawa Barat untuk dapat memperistri putri kesayangannya. Ia sudah mawas diri sejak awal.

***

To Be Continued
Penulis: @Lintang
Sedap Malam (1) Sedap Malam (1) Reviewed by Feno Blog on Mei 12, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.