Sedap Malam | 2

dakwatuna.com
“Jika Allah berencana mempersatukan kita, maka kita pasti akan bersatu dalam Firdaus-Nya kelak”


Ia biarkan dirinya jatuh hati pada gadis ayu nan lugu yang ia temui pertama kali di sebuah forum pondok pesantren. Apalah daya. Dirinya harus mampu mengikhlaskan. Serahkan saja pada Allah.

Haris menghela nafas, “Baik kalau begitu. Dengan nama Allah, kakak titipkan Adek agar selalu dalam perlindungan-Nya.”

Lalu, Haris beranjak pergi tanpa menoleh barang sedetik. Fida menutup wajahnya lalu menangis dalam diam. Seperti inikah akhir dua insan yang sebelumnya begitu berbahagia karena cinta? Mereka menukar cinta yang semu dengan cinta yang lebih hakiki. Cinta pada Allah.

***

Setelah mengurus surat mutasi dari pondok pesantren Jombang yang hampir 10 tahun dipilihnya sebagai tempat menuntut ilmu, Fida pulang ke rumahnya yang ada di Jawa Barat. Abah berkata bahwa malam nanti, sang calon akan berkunjung ke rumahnya sebagai awal proses Ta'aruf. Ya... mereka akan dipertemukan lalu setelah itu akan melalui proses khitbah. Fida berusaha tenang. Ia yakin, inilah jalan yang sudah ditentukan oleh-Nya.

Selama menunggu di dalam kamar, Fida sedang membereskan Al-Qur'an hafalan yang dulu pernah diberikan oleh Haris untuknya. Tak lupa, ia mengambil secarik kertas dan menulis memo singkat.

“Jika Allah berencana mempersatukan kita, maka kita pasti akan bersatu dalam Firdaus-Nya kelak”

Dibungkus paket itu dengan rapi, lalu ia meminta tolong pada seorang santri untuk mengirimnya lewat pos dengan alamat yang sudah ia tuliskan sebelumnya.

“Assalamu'alaikum”, sayup-sayup terdengar suara salam dari ruang tamu rumahnya. Fida yang tadinya terdiam langsung duduk menegang. Ia merasa seolah akan maju dalam medan perang. Ini saatnya...

Pintu kamarnya terbuka. Ternyata uminya yang membuka pintu.

“Ayo Neng. Keluarga Kyai Hasan sudah tiba.”

Fida menghela nafas. Berusaha menyembunyikan ketidak relaannya untuk bertemu calon suami. Fida dengan setelan gamis sifon muda serta jilbab pashmina senada, berjalan dengan menunduk di belakang sang Umi. Ia tak berani mengangkat kepalanya. Lebih tepatnya, Fida takut menghadapi kenyataan bahwa saat ini ia tengah berjalan menghampiri masa depan yang sudah direncanakan sang Abah.

Dari sudut matanya, Fida menangkap berbagai pasang mata mengarah pada dirinya. Jantungnya berdegup. Merasa begitu gugup secara tiba-tiba.

“Ini lo Kyai. Anak perempuan saya satu-satunya. Dia ini berbeda sendiri dari mas-masnya yang lain.” Sang Abah berbicara dengan diiringi tawa renyah.

“Subhanallah! Cantik betul...” Suara serak menimpali perkataan abahnya. Fida menyimpulkan itu suara Kyai Hasan. Abah hanya tertawa mendengarnya.

“Ya jelas. ini produk luar negeri, Kyai.” Seketika perkataan Abah mengundang tawa seisi ruangan. Bahkan Umi ikut tertawa kecil mendengarnya. Fida memang lahir di Yaman. Saat Abah dan Umi tengah mengunjungi Abang sulungnya yang saat itu tengah menuntut ilmu disana sebagai seorang hafidz.

Percakapan mengalir antara Abah dan Kyai Hasan. Fida yang masih menunduk mengangkat sedikit kepalanya. Ia melihat Kyai Hasan dan sang istri duduk di kursi panjang. Di sebelahnya duduk seorang lelaki dengan baju koko coklat serta kopiah berbordir perak. Fida sungguh tak berani menatap mata laki-laki itu yang seolah memakai celak. Kulitnya yang putih begitu bersinar. Fida tak temukan kecacatan apapun dalam fisiknya.

“Neng, bagaimana? Lamarannya Gus Alfan diterima atau tidak?” Abah membuyarkan lamunan Fida. Gadis itu terhenyak.

“Emm. Anu... Neng mah ikut Abah saja,” Fida tersenyum singkat.

“Nah... dengar kan Kyai? Itu lamarannya sudah diterima. Tinggal tentukan tanggal baiknya Fida dengan Alfan saja.” Timpal Abah cerah. Terlihat begitu bahagia akan mendapat menantu seperti Alfan.

“Kita tanya Alfannya dulu. Gimana Mas? Mas punya usulan tanggal yang baik? atau harus Abah yang carikan?” Kyai Hasan bertanya pada putranya yang sejak tadi bertopang dagu dengan pandangan lurus.

“Eh. Ya, Alfan manut Abah. Tapi, Bah. Kalau bisa pernikahannya dipercepat saja.” Suara maskulin itu berkata halus. Tidak tau bahwa Fida yang mendengarnya seketika membelalak. Dipercepat? Ia saja masih butuh waktu untuk menerima kenyataan ini. Batinnya mengatakan tidak siap jika harus menikah di waktu dekat

Di samping itu, suara gelak tawa terdengar karena pernyataan Alfan yang begitu gamblang.

“Lah ini kayaknya Mas yang nggak kuat ngempet.” Goda Kyai Hasan. Yang digoda malah hanya tersenyum kecil lalu kembali menunduk. Setelah itu Fida hanya mendengar suara simpang siur di sekitarnya. Gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri.

***
platinum-development.ro

“Kang Haris! Ini ada titipan.” Haris menghentikan langkahnya tepat di depan masjid saat ingin berangkat berjamaah sholat Ashar karena panggilan seorang teman santri.

“Apa ini?”

“Undangan Kang.” Santri itu tersenyum prihatin. Menepuk pundak Haris pelan lalu masuk ke dalam Masjid. Dibukanya undangan itu. Dan.... benar apa yang ia duga. Undangan pernikahan Fida telah disebar. Kenapa secepat ini? Baru 5 bulan lalu Fida memutuskan untuk mengikuti perintah Abahnya. Gadis pujaannya itu menghilang bak ditelan bumi. Haris masih mencari-cari kabar Fida baik lewat teman kampus atau rekan sejawatnya. Tapi... Nihil.

Puncaknya, dua bulan lalu ia menerima sebuah paket berisi Al-Qur'an hafalan yang dulu pernah ia berikan pada Fida. Beserta memo singkat yang membuatnya berhenti mencari kabar gadis itu. Tapi sekarang, gadis itu datang dengan membawa kabar pernikahannya dengan lelaki lain. Haris hanya mampu membolak balik undangan berwarna crem itu. Tak sadar, hingga iqamah berkumandang ia masih tetap duduk di teras masjid. Haris segera bangkit. Tak sabar untuk segera mengadu pada-Nya di balik belaian sajadah.

***

Akad nikah berlangsung begitu cepat. Setidaknya bagi Fida. Alfan yang 1 bulan lalu baru ia lihat rupa jasmaninya, sekarang sudah resmi menjadi suami sahnya. Laki-laki itu mengucapkan akad dengan tegas. Seolah begitu yakin. Fida yang mendengarnya di balik satir hanya tersenyum miris. Betapa tegar laki-laki itu. Harus menikah dengan seseorang yang hampir tak dikenal, bukanlah sesuatu yang mudah. Fida pun merasakan hal yang sama. Setelah akad selesai, Fida tinggal menunggu Alfan menjemputnya di balik satir yang dipasang beberapa meter jauhnya dari tempat akad.

Sebuah tangan terulur. Fida menyambutnya dan mereka berjalan diiringi suara hadrah yang mengalun riuh. Sekejap itu. Ia telah berubah status menjadi istri orang.

Resepsi pernikahan putra dan putri tokoh orang besar itu, berjalan sangat megah. Halaman pesantren “Ulumul Qur'an” disulap menjadi dekorasi indoor yang apik. Tatanan bertema soft dipadukan dengan dekorasi kuade serba putih. Terlihat begitu kontras. Disana, Fida dan Alfan duduk bersanding dengan senyum yang terus diumbar. Fida begitu cantik dalam balutan gaun gradasi tosca pink serta hijab elegant berhias mutiara di atasnya. Alfan, dalam sekali pandang orang-orang pasti tau bahwa dia memiliki ketampanan khas Timur Tengah. Bahkan tak jarang para santri yang menjadi peladen dalam acara tersebut harus membekap mulut mereka agar tidak berteriak histeris. Bisa dibilang pasangan Fida-Alfan membuat iri semua mata yang memandang.

Tidak terkecuali Haris yang tengah duduk di meja sudut sana. Laki-laki itu melihat Fida yang tersenyum bahagia pada hadirin yang meminta berfoto bersama. Bukankah seorang pengantin baru memang seharusnya bahagia?. Hati Haris seakan diiris sembilu. Mimpinya seakan dipaksa untuk dipendam. Dulu... dia telah merajut mimpi kelak akan berdiri disana sebagai pendamping gadis ayu itu. Kenyataannya, yang berdiri di samping Fida bukanlah dirinya. Tetapi lelaki lain yang ia yakini 1000 X lebih baik darinya. Inikah rencana yang memang telah digariskan Allah?

Tak disangka mata keduanya bertemu. Fida terpaku di tempat. Merasakan cintanya seolah melebur menjadi satu dengan rindu. Dari balik bulu mata palsunya, ia melihat Haris yang tersenyum. Mau tak mau, Fida merasa air matanya ingin tumpah. Tidak akan pantas jika seorang pengantin baru meneteskan air mata di hari pernikahannya sendiri, bukan?

TO BE CONTINUED

@Lintang
Sedap Malam | 2 Sedap Malam | 2 Reviewed by Feno Blog on Mei 12, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.