Sedap Malam | 3

@Lintang

Ia terjebak dalam cinta semu dengan bayang-bayang Haris di dalamnya. 

Kamu Sedang Baca Bagian 3. Baca Kelengkapan Kisah Ini:
>Sedap Malam 1
>Sedap Malam 2
>Sedap Malam 4
>Sedap Malam 5


Ia biarkan dirinya jatuh hati pada gadis ayu nan lugu yang ia temui pertama kali di sebuah forum pondok pesantren. Apalah daya. Dirinya harus mampu mengikhlaskan. Serahkan saja pada Allah.

Seolah menyadari, Alfan memegang tangan Fida pelan. Fida menoleh kaget dengan air mata yang menggantung berat di kelopak.

“Jangan menangis.” Alfan menyodorkan kotak tisu ke depan wajah Fida.

“Maaf.” Fida menunduk dalam. Malu karena Alfan memergokinya ingin menangis.

“Tunggu acara selesai. Baru kamu menangislah. Jaga hati Abahmu yang saat ini sedang berbahagia.” ucap Alfan dengan senyumnya.

Fida mengangguk canggung lalu mengalihkan pandangan. Kursi yang tadi diduduki Haris sudah kosong. Fida tak temukan sosoknya lagi di balik lalu lalang para tamu yang lain. Ah..... sudahlah. Fida serahkan segala urusannya pada Allah sebagai tempat sebaik-baiknya mengadu.

***

Resepsi berlangsung selama 3 hari. Selama 3 hari itu, Fida tak pernah menemukan Alfan berada di kamar pengantin mereka. Gadis itu hanya bertemu Alfan ketika akan naik ke atas kuade dan ketika menyalami para tamu. Singkat kata, Alfan belum pernah menyentuhnya layaknya sepasang suami istri. Fida juga tak pernah mengatakan hal ini pada siapapun karena dalam hatinya sendiri ia juga belum siap. Ketika resepsi sudah benar-benar selesai, Fida diboyong oleh Alfan menuju kota asalnya di Rembang. Sebuah rumah memang sudah disiapkan oleh Kyai Hasan untuk pasangan pengantin baru itu.

Alfan sudah menyelesaikan pendidikan strata 2-nya. Sekarang mengajar sebagai seorang dosen di sebuah universitas yang berada di bawah naungan pondok pesantren sang Abah. Alfan juga memiliki beberapa cabang supermarket yang telah ia rintis 3 tahun lalu. Fida baru mengetahui bahwa Alfan bukanlah sosok pemuda yang hanya mengandalkan embel-embel nama besar keluarganya. Ia lelaki dewasa yang mandiri. Sebenarnya berat bagi Fida meninggalkan kota asalnya. Tapi, ia harus mengikuti kemanapun sang suami pergi. Dari awal, ia telah mengabdikan hidupnya untuk menjalani bahtera rumah tangga ini.

Menjelang sore, Fida dan Alfan sampai di rumah mereka. Rumah bergaya modern dengan kaca yang lebar. Untuk pertama kalinya, Fida berjamaah sholat ashar dengan Alfan sebagai imamnya.

Keadaan begitu canggung antara mereka. Fida cenderung gelisah sendiri dan Alfan yang seolah menutup diri. Suara riuh para santri yang membuat rumah ini tidak begitu hening. Bahkan saat malam pertama pun Fida merasa gugup bukan main. Ia hanya mengenakan setelan jubah tidur serta rambut yang tertutup selendang seadanya. Jika boleh jujur, Fida masih belum siap.

Alfan membuka pintu kamar. Laki-laki itu hanya mengenakan sarung dengan kaos hitam polos. Melihat Fida yang berdiri di samping lemari baju, Alfan mengerutkan alis bingung.

“Lo..kok belum tidur?” Alfan bertanya. Ia menuntun Fida untuk duduk di atas ranjang.

“Saya.. Saya nungguin Mas.” Duduk bersisihan sedekat ini dengan seorang lelaki merupakan hal baru bagi Fida. Alfan tersenyum. Ia menarik selendang yang menutupi rambut istrinya.

“Tidak perlu malu. Kamu itu istriku. Tidak ada yang perlu disembunyikan.” Mendengar itu, Fida menutupi rona malu di wajahnya.

“Memangnya sudah siap? Nanti belum pemanasan sudah kaget lagi.” Fida tersenyum mendengarnya.

“Kan... itu sudah kewajiban saya sebagai istri,”

“Harus sama-sama ridlo dong. Saya beri waktu satu bulan, biar kamu bisa terbiasa. Saya menjalani pernikahan ini dengan ikhlas. Jadi, saya tidak akan menuntut kamu.” Alfan menatap Fida serius.

“Tapi, saya nggak mau jadi istri durhaka.”

“Siapa bilang? Kamu perempuan sholehah. Maka dari itu saya setuju mengambil kamu sebagai istri.”

Alfan mengusap rambut Fida lalu beranjak pergi keluar kamar. Laki-laki itu beralih tidur di kamar tamu. Meninggalkan Fida yang seolah merasa begitu lega.

Suaminya benar-benar mengerti akan keadaannya.

***

Fida memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Alfan pun mendaftarkannya di universitas yang berada dalam naungan pondok tempat Alfan mengajar sebagai dosen. Fida hanya menurut saja. Toh ia tak punya pandangan universitas mana yang dituju. Alfan mendaftarkannya sebagai mahasiswi semester 5. Kebetulan jurusan yang ia ambil di universitasnya dulu juga tersedia disini. Jadi ia tak perlu mengulang semester awal.

Setelah genap tiga hari berada disini, Alfan memberitahu bahwa besok ia sudah dapat masuk kuliah.

“Nanti tak suruh mbak-mbak nganterin kamu. Karena lokal putra dan putri terpisah, saya tidak bisa menemani. Hitung-hitung biar kamu bisa lebih terbiasa sama lingkungan sekitar.” Ucap Alfan saat mereka tengah makan bersama. Seperti biasa, Fida hanya menunduk dan mengangguk pelan.

“Kalo diajak ngomong mbok ya noleh ke orangnya, Neng. Jangan nunduk-nunduk gitu.”

Fida tersentak karena langsung ditegur seperti itu. Terlebih Alfan memanggilnya seperti panggilan keluarganya di Jawa Barat. Bagi Alfan, Fida adalah sosok yang begitu pendiam dan jarang berbicara. Ia tau, istrinya masih menutup diri darinya. Jadi, Alfan memutuskan untuk mendekati gadis itu agar dinding diantara mereka hancur. Tapi, apakah mungkin jika di hati Fida tak ada secuil cinta untuk Alfan?

Alfan sendiri tak membutuhkan waktu lama untuk dapat menerima Fida sebagai istrinya. Apakah terlalu naif jika laki-laki itu mengatakan bahwa Fida-lah satu-satunya gadis yang ia cintai sejak awal bertemu pandang? Ah... cinta itu tidak rumit. Cinta itu sederhana. Tanpa tuntutan dan tanpa paksaan dalam prosesnya. Alfan memberikan waktu bagi Fida agar gadis itu dapat mengulur-ulur waktu. Bagi seorang laki-laki normal sepertinya, hal itu luar biasa sulit. Tapi ia rela menahan demi kebahagiaan yang belum dirasakan Fida. Ia sangat mengerti. Dalam rumah tangganya kini, mungkin hanya Alfan yang merasakan suka cita itu.

Fida mengangkat pandangannya. Ditatapnya mata Alfan yang bercelak indah.

“Nah..gitu. lain kali jangan nunduk-nunduk kalo diajak ngomong. Apalagi sama suami sendiri.” Alfan tersenyum. Mengusap sedikit puncak kepala Fida yang tertutup jilbab. “Oh... betapa bahagianya dapat memegang sesuatu yang halal dengan penuh cinta.” Kata Alfan pada dirinya sendiri.

Dalam sepertiga malam, Fida telah tersungkur dalam munajat-Nya. Ia tak henti-hentinya menangis meminta petunjuk bagaimana baiknya ia harus bersikap. Suaminya begitu baik juga begitu penuh kasih sayang. Tapi Allah belum juga menghadirkan cinta dalam hatinya. Ia terjebak dalam cinta semu dengan bayang-bayang Haris di dalamnya. Saat tengah memuroja'ah hafalan Qur'annya, ia sampai di surat An-Nisa. Air mata kembali berlinang. Sesungguhnya ia tak ingin menjadi wanita ahli neraka. Ia tak ingin Ridlo suami jauh darinya yang nanti akan mengantarkannya menuju siksa Allah yang pedih. Apakah termasuk dosa jika ia menyerahkan jasmaninya pada Alfan tapi tidak serta hatinya?

Tangis terus menghiasi di sepertiga malam itu. Samar-samar ia mencium bau harum yang semerbak. Baunya seperti bunga sedap malam yang wanginya membuat ia terlena. Halusinasi, kah? Tapi bau ini nyata. Fida teringat tak pernah ada bunga sedap malam di rumah ini. Didorong rasa penasaran, ia akhirnya keluar kamar dengan masih mengenakan mukena. Ya Allah... bahkan mukena itu masih basah oleh air mata. Ia mengitari rumah, tapi tak ada sesuatu pun yang menjadi sumber bau harum ini. Fida kembali ke kamar. Berusaha mengenyahkan bau harum yang masih memanjakan indra penciumannya. Kembali memurojaah hafalan Qur'an miliknya di atas gelaran sajadah.

Qiro'ah subuh terdengar mengalun sendu. Alfan ragu-ragu ketika akan mengetuk pintu kamar istrinya. Tapi, tentu saja ia tak ingin melewatkan sholat berjamaah dengan Fida sebagai makmumnya. Diketuknya pintu berukir itu tapi tak ada sahutan dari dalam.

TO BE CONTINUED
Sedap Malam | 3 Sedap Malam | 3 Reviewed by Feno Blog on Mei 12, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.