Tragedi Lakban

@MSBasayif 






H -15

Mungkin, oleh teman-teman seangkatan, saya dianggap sebagai orang yang paham tentang musik dan segala aransemennya. Mereka tega menjadikan saya sebagai vokal utama lalaran Balaghoh di panggung kelas akhir dua minggu kemudian. Jelas ini merupakan beban yang berat. Dan yang terberat bagi saya bukan bagaimana caranya mengompakkan paduan suara teman seangkatan, tapi, bagaimana caranya agar saya bisa hafal dan lancar melantukan nadzom Jauharul Maknun yang sudah menguap entah kemana.

Mereka benar-benar pasrah kepada saya. Dan untuk saat itu, melalar Jauharul Maknun sampai lancar car car merupakan hal yang berat. Bagi saya, itu sudah jauh lebih berat daripada rindu. Ya, rindu! Bukan lindu. Karena lindu itu gempa. Makanya, yang berat itu bukan rindu, tapi melalar hafalan yang sudah dol serasa hafalan baru. Hahaha.

Selama dua minggu, teman-teman seangkatan intensif melakukan lalaran. Berharap di acara Imtihan besok bisa menciptakan kesan yang indah, kalau perlu bisa menciptakan sejarah. Memecahkan rekor sebagai angkatan dengan jumlah hafidz Jauharul Maknun terbanyak dalam sejarah. Dan demi itu, kami terus mengotak-ngatik sampai mathuk, mencari bahar rojaz yang paling pas dan berkelas.

Dan tak lama, acara wisuda itupun digelar. Waktu dua minggu ternyata memang tidak cukup untuk melancarkan kembali hafalan yang sudah tidak lagi segar.

H-H

Di arena panggung, sudah berjejer rapi para wisudawan dari berbagai tingkatan. Mereka nantinya akan maju satu persatu untuk menampilkan dan menunjukkan kualitas hafalan dan kekompakan mereka dalam melantunkan nadzoman.

Sedangkan saya, masih bingung mencari trik paling cerdik untuk mengatasi masalah hafalan. Kalau saya nekat naik panggung tanpa membawa hafalan, ini jelas bunuh diri. Lha piye, lha wong saya yang dipasrahi mengomando teman-teman. Kalau imamnya salah atau ketlisut sedikit, bagaimana dengan makmumnya. Saya tidak hanya menjadi orang yang sesat, tapi sesat dan menyesatkan!! Dan “Kullu dlolalatin fin naaarr!!” Di hadapan saya terpampang jelas neraka jahannam kalau saya tidak segera menemukan trik menyembunyikan buku hafalan. Ini sudah lagi bukanlah hal yang buruk, tapi suatu keharusan demi terciptanya stabilitas dan keamanan nasib wisudawan satu Ulya. Assek...

Dan beberapa menit sebelum tampil, Allah telah memberikan hidayah kepada saya. Hidayah yang turun itu berupa lakban!! Jan masya Allah banget poko'e. Satu-satunya barang yang bisa menolong umat satu Ulya saat ini hanyalah lakban. Dan ini tentang urusan hidup mati. Hanyalah lakban yang akan memberikan syafaat kepada kami saat itu.

Lakban oh lakban. Demi lakban, saya bergegas keluar dari arena wisuda, bergegas menuju kantor ITMAM. Tempat dimana saya akan mendapatkan lakban impian. Dan ketika tangan berhasil mendapatkan lakban, seketika saya menjadi Nobita yang baru saja mendapatkan barang ajaib dari kantong Doraemon. Sejenak saya berimajinasi, di hadapan saya ada Doraemon sedang merogoh sesuatu dari kantong ajaibnya, meraih barang itu, lantas mengangkatnya keatas seperti wasit yang sedang mengeluarkan kartu kuning, dan dia berteriak sembari menghadap saya, “LAKBAN AJAIIBBB!!”

Mata saya berbinar-binar, rasanya ingin berjingkrak-jingkrak dan memeluk si Doraemon. Tapi sayangnya, Doraemon sekejap menghilang dan lakban itu sudah tergenggam di tangan. Ah, ternyata Doraemon memang tidak ada. Terkadang rasa bahagia memang berbanding lurus dengan hilangnya akal sehat dalam jiwa dan raga. Dasar!!!

Segera saya memasukkannya kedalam saku seragam wisuda Balaghoh, dan pass!!! Bundernya benar-benar seksi. Tekstur dan volume ukurannya pas di kantong. Kekinian banget. Ya Tuhan... Saya benar-benar kepedean saat ini. Saya merasa bahwa tujuan utama penemu lakban semata-mata demi membantu saya malam ini. Sedangkan fungsi lakban untuk menambal sarung yang bolong, merekatkan kertas di papan pengumuman, menyumpel lambenya orang yang kenyih, dan tujuan lainnya adalah tujuan sekunder. Tujuan primernya jelas adalah membantu para wisudawan balaghoh.

“Dan selanjutnya, lalaran Balaghoh dari segenap talamidz Satu Ulya.” Kata suara Kang MC memanggil kelas kami, disambut dengan riuh tepuk tangan penonton.

Tubuh saya mulai panas dingin. Pun begitu dengan teman-teman mungkin. Kami naik serentak tanpa komando. Semua tumpek blek diatas panggung dan berebut tempat bagian belakang supaya tidak konangan mbak-mbak. Situasi diatas sejenak kacau. Dan saya segera memanfaatkan waktu yang terbatas itu. Jelas pandangan penonton dan asatidz sedang kacau, tidak fokus. “Inilah waktunya...” Batin saya sambil mengambil lakban dari dalam saku.

Dan “Kreekk”, saya menyobek lakban sesuai dengan panjang kali lebar kali tinggi ukuran hafalan mini itu, lantas menidurkannya kembali ke dalam saku. Yess... Berhasil!! Melihat sekeliling, nampaknya saya tidak konangan dan teman-teman sudah mendapatkan tempak duduk yang ideal. Waktu saya habis. Masalah kembali muncul. Segera saya berbisik kepada Kang Kholis Kamtib yang kebetulan di depan saya pas. “Kang... ojo obah-obah sek awake sampean. Aku tak masang lakban.”

Dia mengangguk setuju. Sayapun memasang setengah bagian lakban itu di hafalan mini, sembari berusaha menghadap tegak lurus ke depan. Jurus ampuh agar tidak dicurigai melakukan manipulasi. Sambil berusaha sok tenang, setengah bagian lakban yang tersisa saya pukulkan ke Pak Kholis. “Plakk!!” Agak keras saya memukulnya, biar mancep dan bisa madhep sekaligus manthep tanpa obah-obah. Eh, sekalian modus deng. Kapan lagi saya bisa mukul punggungnya Keamanan kalau nggak sekarang. Ha ha ha. Dan lakban itu kini telah terpasang rapi di gegernya Pak Kholis.

***

Dan, fase-fase pemasangan lakban yang amat menegangkan itu telah usai. Dia tampak nyaman dan tenang bertengger disana. Kini hafalan mini itu bisa dipandang kapan saja, tanpa harus nunduk-nunduk. Karena jika sampai saya nunduk dan itu konangan, jelas akan menghancurkan reputasi saya. Weh, opo nduwe? Haha.

Syukurlah... Lalaran bisa berjalan dengan lancar. Teman-teman bisa lalaran dengan kompak dan serempak. Tak sedikit dari mereka yang sangking asyiknya sampai goyang-goyang. Pun begitu dengan Pak Kholis, dia nampak sangat menikmati irama. Badannya yang lumayan padat terus lenggak-lenggok menikmati iringan ketipungnya Gus Tijan. Kabar buruknya, berkali-kali hafalan saya terjatuh. Apalagi ditambah dengan sedikit campuran keringatnya Kang Kholis yang mulai membasahi baju. Jan.. sueegger poko'e. Cengkraman sang lakbanpun akhirnya semakin lemah. Tapi untungnya, masih dengan jurus pura-pura menatap penonton, saya berhasil memasangnya kembali dan mancep hingga akhir hayat lalaran tiba.

Oh ya, sekedar promosi sedikit, walaupun sibuk di Kamtib, Pak Kholis termasuk tiga besar orang yang pertama kali setor Jauharul Maknun. Wesseh... Keren kan. Jarang-jarang lho ada anggota Kamtib dol disek. Nanti yang pingin titip salam sama dia chat pribadi saja ya Gan. COD dimana aja terserah. Barang mulus, baru dipake sebulan. Dijual demi menafkahi anak bini. Eh, kok malah kayak jual beli online ya?

Dan tulisan ini adalah edisi curhat. Saya hanya tidak ingin banyak orang yang husnudzon kepada saya. (Eh, opo enek? Gak enek deng). Saya juga tidak ingin kami seangkatan dianggap sebagai wisudawan sejati. Karena hal itu nanti hanya akan menjadikan kami besar kepala dan nggak mudah rumangsa. Masya Allah... Bukankah itu semua adalah tujuan yang sangat mulia saudara-saudara?

Nah, ini dia intinya. Prediksi saya, orang-orang yang sudah setor dan sekarang sudah lupa pasti merasa sangat terinspirasi dan tersyentuh. Sebagian malah sudah berangan-angan untuk mengikuti trik licik dan picik ini. He he he. Ketahuan nih. Makanya, ijinkan saya memberi masukan kepada segenap asatidz dan asatidzah Madrasah Diniyyah, agar nanti ada tim khusus yang mengawasi gerak-gerik wisudawan dari belakang. Kalau konangan? Langsung suruh turun saja Pak, Buk!! Delet saja mereka. Biar ngraaasakne. Hohoho. Maaf ya, sekali-kali lah saya mencoba merasakan jadi tokoh antagonis. Ini semua demi terciptanya wisudawan dan wisudawati yang benar-benar berbobot dan berkelas. Nggak jadi wisudawan abal-abal kayak saya.

Pertanyaan yang akan muncul mungkin, “Apakah saya dol Ushul Fiqih?” Wah. Kalau ini jelas iya. “Apakah wisuda besok masih menjadi vokal?” Jawabannya, masih dong. “Kalau di pentas nanti ada tim khusus yang mengawasi dari belakang, apa strategi selanjutnya?” Untuk pertanyaan ini, saya dengan jujur harus menjawab: Maaf ya. Saya nggak pake strategi apa-apa kok. Cuma berusaha istiqomah hafalan Ushul Fiqh, dan berusaha terus melalarnya. Karena ini adalah strategi yang diridloi oleh Tuhan Yang Maha Esa..

Piye, mashhokk opo ora?
Tragedi Lakban Tragedi Lakban Reviewed by Feno Blog on Mei 15, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.