Cinta Sejati? | Oleh Nur Ahmad Mauludi



1. Muqodimah


Kalau edisi kemarin ada yang nanyain ada berapa cinta? Mungkin tulisan ini bisa sedikit memberi gambaran seabagai jawaban. Meskipun mungkin juga gak pas, tapi kayaknya bisa jadi wawasan. Apa sebenarnya makna daripada cinta? Benarkah cinta hanyalah sepenggal kata namun mengandung sejuta makna? Atau pendapat para filosof bahwa makna cinta tergantung siapa yang memandang? 

Rupanya tepat seperti ungkapan Ibnu Qayyim Al Jauziah tentang cinta, bahwasanya tidak ada batasan tentang cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri. Ada pun kata cinta itu sendiri secara bahasa adalah kecenderungan atau keberpihakan. Bertolak dari sini cinta dapat didefinisikan sebagai sebuah gejolak jiwa dimana hati mempunyai kecenderungan yang kuat terhadap apa yang disenanginya sehingga membuat untuk tetap mengangankannya, menyebut namanya, rela berkorban atasnya dan menerima dengan segenap hati apa adanya dari yang dicintainya serasa kurang sekalipun, dan ia tumpahkan dengan kata-kata dan perbuatan. Romantisnya...........

2. Pandangan Islam Terhadap Cinta


Cinta dalam pandangan Islam adalah suatu hal yang sakral, saking saklarnya upacara adat perkawinan di setiap daerah berbeda karena dihubungkan dengan mitos/ adat nenek moyang mereka dulu. Sebagai salah satu contohnya di jawa, ada upacara mandi kembang bagi calon pengantin. Kita mengenal Islam adalah agama fitrah, sedang cinta itu sendiri adalah fitrah kemanusiaan. Allah telah menanamkan perasaan cinta yang tumbuh di hati manusia. Islam tidak pula melarang seseorang untuk dicintai dan mencintai, bahkan Rasulullan menganjurkan agar cinta tersebut diutarakan. PD aja lagi, kan Baginda Rasul sudah mendukung kita dalam sabdanya "Apabila seseorang mencintai saudaranya maka hendaklah ia memberitahu bahwa ia mencintainya". (HR Abu Daud dan At-Tirmidzy).

Seorang muslim dan muslimah tidak dilarang untuk saling mencintai, bahkan dianjurkan agar mendapat keutamaan-keutamaan cinta. Islam tidak membelenggu cinta, karena itu Islam menyediakan penyaluran untuk itu, misalnya akad pernikahan yang dimana sepasang manusia diberikan kebebasan untuk bercinta dan menggapai surga dunia dan akhirat-Nya. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi ;

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang" (Ar-Ruum: 21)

Ayat di atas merupakan jaminan bahwa cinta dan kasih sayang akan Allah tumbuhkan dalam hati pasangan yang bersatu karena Allah (setelah menikah), bukan karena nafsu loh! Jadi tak perlu menunggu jatuh cinta dulu baru berani menikah, atau pacaran dulu baru menikah sehingga yang menyatukan adalah si syetan durjana (na'udzubillahi min zalik). Ini lanjutan dari pembahasan tentang sabda Baginda Rasul di atas brow . Jadi, katakan cinta kalo toh memang sudah yaqin dan mantap dengan si dia untuk dijadikan pendamping hidupmu brow! Begitu kurang lebih penjelasannya. Jadi, Islam jelas memberikan batasan-batasan, sehingga nantinya tidak timbul fenomena kerusakan pergaulan di masyarakat.

Dalam Islam ada peringkat-peringkat cinta, siapa yang harus didahulukan/diutamakan dan siapa/apa yang harus diakhirkan. Tidak boleh kita menyetarakan semuanya. Kalo ini perlu dicatat akhi n ukhti!

"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman amat sangat cintanya kepada Allah" (Al-Baqarah: 165)

Menurut Syaikh Ibnul Qayyim, seorang ulama di abad ke-7, ada enam peringkat cinta (maratibul-mahabah), yaitu:

1.Peringkat ke-1 dan yang paling tinggi/paling agung adalah tatayyum, yang merupakan hak Allah semata.

"Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan seluruh alam. (Al-An'am: 162)

Jadi ungkapan-ungkapan seperti: “dik, kau selalu di hatiku, bersemi di dalam qalbuku , kusebut namamu di setiap detak jantungku, cintaku hanya untukmu sayang, cintaku padamu seluas samudra yang tak bertepi sayang, dirimu telah membuat aku mentrasfer hatimu ke hatiku” (kayak mau ambil uang di ATM aja...) dan lain sebagainya, hal itu selayaknya ditujukan kepada Allah Sang Kholiq Sang Rokhim. 

Karena Dialah yang memberikan kita segala nikmat/kebaikan sejak kita dilahirkan, bahkan sejak dalam rahim ibu. Jangan terbalik, baru dikasih secuil cinta, rayuan-rayuan cinta dan kenikmatan sama si dia, kita sudah mau menyerahkan jiwa raga kepadanya yang merupakan hak Allah (na'udzubillah min dzalik). Lupa kepada Pemberi Nikmat.

2.Peringkat ke-2; cinta yang hanya merupakan hak Rasulullah saw. Cinta yang melahirkan sikap hormat, patuh, ingin selalu membelanya, ingin mengikutinya, mencontohnya, dll, namun bukan untuk menghambakan diri kepadanya.

"Katakanlah jika kalian cinta kepada Allah, maka ikutilah aku (Nabi saw) maka Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian". (Ali Imran: 31)

3.Peringkat ke-3; syauq yaitu cinta antara mukmin dengan mukmin lainnya. Antara suami istri, antara orang tua dan anak, yang membuahkan rasa mawaddah wa rahmah.

4.Peringkat ke-4; cinta sesama muslim yang melahirkan ukhuwah Islamiyah.

5.Peringkat ke-5; cinta berupa (simpati) yang ditujukan kepada sesama manusia. Rasa simpati ini melahirkan kecenderungan untuk menyelamatkan manusia, berdakwah, dll.

6.Peringkat ke-6 adalah cinta yang paling rendah dan sederhana, yaitu cinta/keinginan kepada selain manusia yakni harta benda. Namun keinginan ini sebatas intifa' (pendayagunaan/pemanfaatan).

Kalau peringkat-peringkat ini yang di maksud oleh penulis edisi kemarin dengan pertanyaan "ada berapakah cinta?", yah berarti ini sekaligus sebagai jawaban. Kalau masih salah menurutnya ya kayaknya perlu di jelasin sendiri deh.....oke ning ayu??.

*) Dari berbagai sumber
Cinta Sejati? | Oleh Nur Ahmad Mauludi Cinta Sejati? | Oleh Nur Ahmad Mauludi Reviewed by Feno Blog on Juni 27, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.