Dalam Diam | Part 3 Oleh Kabut Jingga





“Ikut kuliah yuk !” seruku pada Zura yang baru selesai bersih-bersih. Dia menatapku tak percaya.

“Nggak usah malu. Temenku ramah-ramah kok. Kamu nanti bakal kenal dengan Abi, cowok gila di kampus.” Kataku. Zura masih ragu. “Ndang ganti baju. Tak tunggu”

Zura masuk kamar. Senyum terulas di bibir pinknya, matanya berbinar. Tak lama, Zura keluar, dan taraa!! Dia menjelma menjadi bidadari, dengan jubah pink dan jilbab bunga-bunga yang senada.

“Malu, Mbak Nis...”

Aku tak bisa berhenti takjub. Kugandeng saja lenganya yang kecil. Lalu kami berangkat kuliah.

Benar saja, seisi kampus langsung mengarahkan pandang ke Zura. Entah laki-laki atau perempuan. Sementara Zura hanya menunduk dan meremas-remas jari tanganku. Apalagi saat masuk kelas, Zura menyedot perhatian semua anak sastra. Dan mungkin kehadiran Zura hari ini akan menjadi inspirasi yang akan melahirkan beribu-ribu puisi.

Baca Lanjutan Cerpen ini : Dalam Diam Part 4

Seperti kataku tadi, aku memperkenalkan Zura pada Abi. Laki-laki itu mulai berulah, sampai Zura tak dapat menahan tawanya. Aku hanya diam, mengamati punggungnya dari belakang.

“Mas Abi lucu sekali ya Mbak.” Kata Zura saat pulang.

“Bukan lucu, tapi gila. Dia cerita apa aja? Gombal apa?”

“Cerita tentang Mbak Nisfu. Katanya Nisfu itu artinya setengah, alias nggak genap. Terus cerita Mbak Nisfu sering melamun nggak jelas sampek gelasnya tumpah.”

“Heh! Maksudnya apa??!” pekikku

Zura hanya cekikian.

“Hanya aku dan Mas Abi yang tahu.”

Oo.... Awas saja anak itu besok. “Eh, tapi bener. Mbak Nisfu tadi terlihat bengong ngliatin orang. Siapa sih mbak?”.

Aku menunduk, memerah malu.

***

Waktu terus berlalu bak anak panah. Tanpa sedikitpun bisa kutahan. Aku masih selalu menyebutnya dalam do'a, menitipkan salam rindu pada apa-apa yang kulihat. Namun, ada yang berbeda darinya. Semenjak ia sembuh dari sakitnya, dia menjadi sedikit pendiam. Meski tetap ramah menyapa. Entah apa yang terjadi. Aku hanya selalu berdo'a, berdo'a dan berdo'a. Semoga dia baik-baik saja.



Sekarang aku PPL. Dia juga tentunya. Tapi sekarang dia begitu dingin. Hanya bicara jika perlu. Datang ke kantor, mengajar, lalu pulang. Tidak seperti teman-teman yang lain yang biasa menyempatkan waktu berkumpul dan bercerita. Huffft... membuat orang badmood.

“Cak, kenapa sih diem aja?” kalimat itu kulontarkan pada Abi. Mana berani aku menyakan kalimat itu pada ustad Fika. Entah kenapa Abi juga ikut-ikutan murung. Abi masih diam.

“Ikut-ikutan cuek?” Lanjutku. Dia menoleh ke arahku. Abi berpaling, memasukkan tangan dalam saku celana. Dia PPL jelas saja pakai celana. Gila aja kalau dia tetep ngotot alasan hari santri.

“Mumet bu'. Ngurusi blanko”

Aku langsung ketawa.

“Kelas berapa to Bi?”

Abi nyengir ke arahku.

“Empat ula”

“Beneran?” pekikku.

“Kenapa bu'?? Aku memang kelas empat ula. Tapi aku selalu punya himmah mutakhorijin. Membuktikan pada semua orang bahwa Abi akan menggenggam dunia, memeluk gunung, menantang matahari. Aku akan buktikan bu'. Pegang kalimatku!” serunya berapi-api. Aku tertawa, mengangguk.

“Trus, kapan nikah bi?”

Dia diam. Tersenyum. Menatap langit biru tak tersaput awan.

“Kalau sudah waktunya bu'.” Lirihnya lalu menoleh ke arahku. Aku mencibir menggoda. Cie-cie...

***

Sesudah selesai PPL, kini semua mahasiswa semester delapan disibukkan oleh laporan, penelitian, dan proposal skripsi. Kelas kami hidup kembali. Kami berkumpul setiap hari. Saling diskusi, saling tanya, berburu pembimbing, berburu buku di perpustakaan. Kebersamaan di detik-detik terakhir. Kadang ada resah, tegang, takut, dan tawa yang tiba-tiba meledak. Dari riuhnya kesibukkan, kadang aku meletakkan diriku di pojok ruangan. Menjauh dan mengamati siluet mereka. Ah, mengapa kedekatan dan keakraban ini baru muncul di detik-detik perpisahan? Entah bagaimana aku merasa semakin dekat dengan banyak orang. Semakin tahu sifat-sifat asli mereka. Merasa punya tanggung jawab yang sama.

“Bu guru, bab 3 itu isinya apa?” Abi tetap lucu seperti dulu. Teman-teman yang lain sudah selesai bab 4, anak itu baru tergopoh-gopoh bertanya bab 3 isinya apa.

“Kak Nisfu, ini bagaimana? Kok dataku nggak valid-valid ya?” Safa, gadis feminim dengan gayanya yang manja.

“Dosen muda, jangan melamun aja lah. Bantu aku mending.” Celetuk Tegar, cowok Makassar itu

“Mbak'e, piye iki. Otakku rasanya berjibakku di bab 4, nggak mau beranjak.” Keluh Laila yang puitis.

Dan kawan kebersamaan ini tidak akan lama lagi. Sementara dia, laki-laki penghias malam dengan mata tajam, alis tebal dan senyum maut itu tetap dingin. Memilih serius di depan laptop, sesekali membuka buku. Hanya bicara jika perlu, senyum jika lucu, tertekuk ketika bingung. (Bersambung-Oleh: Kabut Jingga)



Dalam Diam | Part 3 Oleh Kabut Jingga Dalam Diam | Part 3 Oleh Kabut Jingga Reviewed by Feno Blog on Juni 07, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.