Dalam Diam | Part 4 Oleh Kabut Jingga


“Ustadz, eh kang? Udah selesai to, kok saja'ane santai men?” tanyaku, dia tersenyum tumpul dan menggeleng.

“Ustadz, eh kang! Jangan ngendeng-ngendeng. Nanti gendeng lho,” candaku. Dia hanya menoleh sekilas, lalu menatap laptop lagi.

“Ustadz, eh kang. Ayo ke perpus,” ajakku.

“Iya, terimakasih. Nduk Nisfu duluan saja,” jawabnya datar.

Baca Kisah Sebelumnya: Dalam Diam Part III

Ya Allah, apapun yang terjadi denganya, kumohon lindungi dia, jaga kesehatanya, tenangkan hatinya. Karena tanganku tak mampu menggapai, kalimatku tak mampu menjadi oase. Dan sabarkan aku dengan cinta ini.

***

Ya Allah, sang penggenggam hidup. Di sepanjang kehidupanku ada sebuah ruang yang kusebut sepi. Namun aku bersyukur, di sepi itu aku masih merindukan seseorang. Ya Allah, lindunglah Mbak Nisfu, mudahkanlah segala urusanya, sukseskan usahanya. Meski kami tak pernah bercerita, tertawa, tidur-tiduran bersama, semoga hati kami tetap terpaut. Terimakasih telah menghadirkan Mbak Nisfu padaku.

Aku terbangun mendengar do'a itu. Do'a yang diuntaikan dersama isak tangis rindu. Zura sedang shalat malam di belakangku. Tak terasa air mataku terjatuh di atas bantal. Zura, maafkan Mbak yang sibuk akhir-akhir ini. Tak ada waktu untuk sekedar bercanda denganmu. Mbak Nisfu menyayangimu.

***

Semua berujung hari ini. Hari dimana kami sama-sama memakai baju wisuda yang kebesaran. Topi yang tidak sesuai ukuran. Kami berbaris. Nama kami dipanggil satu persatu.di depan, rektor sudah menyambut kami bertugas memindah tali di topi.

Dari tadi pagi mataku sembab. Hatiku nelangsa, dadaku terasa sesak. Huf...entah mengapa. Aku yang biasa dengan santai mengeluarkan rasa kali ini hanya menggigit bibir menahan. Mereka juga, biasa mengeksplor perasaan lewat sajak, kini hanya diam. Berusaha membuat kelucuan-kelucuan.

Dan dia di ujung sana, menatapku tak henti-henti dengan tatapan yang tidak kumengerti. Aku berusaha acuh. Nyelimur, ngobrol bersama teman disampingku. Ah, mungkin hanya tatapan kosong. Atau...diapun merasakan sama dengan apa yang kurasakan? Takut kehilangan, takut berpisah, takut tidak bertemu lagi.

“Bi, jangan kangen sama aku lho,” candaku ke arah Abi. Sebenarnya hanya menghindar dari tatapan ustadz Fika, yang dicandain hanya tersenyum sambil menatap layu mataku.

“Bu guru, terimakasih ya...” ucapnya tulus. Aku mengangguk meski sedikit heran dengan sikapnya yang mendadak dewasa.

“Tegar, jangan lupa hubungi aku lo ya...” seruku pada Tegar. Dia ketawa lebar.

“Buat apa dosen muda??” tanyanya santai.

“Siapa tau pengen promosi coto makassar.” Dia tertawa lepas. Sekak matt.

Suara mc masih terdengar keras, “Dari fakultas ilmu sastra atas nama Fika Sidqu Wafa”.

Semua serentak bertepuk tangan. Subhanallah...dia yang terbaik??? Aku hampir meneteskan air mata haru. Hampir sujud syukur ketika itu juga. Dia menoleh ke arahku sebentar lalu naik ke pentas bersama orang tuanya. Kini air mataku benar-benar menggenang. Aku menoleh ke arah ibu' yang duduk di belakang, di barisan orang tua. Ibu' juga menatapku dengan tatapan seakan tau yang kurasakan.

“Laki-laki itukah yang telah mencairkan hati beku putriku??” begitu maksud tatapan itu.

Selamat! Selamat!, ustadz!!

Acara selesai. Semua mahasiswa berhamburan. Mencari orang tua sendiri-sendiri. Aku juga berlari menuju bapak dan ibu'.

“Bapak, ibu', nungu di mobil dulu nggeh. Nisfu foto-foto dulu. Nanti sowan bareng.” Kataku. Ibu' malah tersenyum menyelidik.

“Kenapa tadi? Kok berkaca-kaca?” tanya ibu'.

“Ibu'...nanti saja, ya!” aku sudah berlari ke kerumunan teman-teman. Foto bersama, selfie, bercanda untuk terakhir kalinya. Semua bahagia. Tak ada yang menyinggung tentang perpisahan. Karna semua tahu, kami sama-sama tidak suka kata-kata itu. Semua teman merayakan kesuksesan ustadz Fika. Mengucapkan selamat, menawari tempat traktiran, menawari tempat wisata. Ia hanya tersenyum.

“Terimakasih. Tidak perlu. Diberi kenangan saja aku sudah bahagia.” Ucapnya. Hatiku meleleh mendengar kalimat itu.

“Nduk Nisfu,” dia memanggil namaku. Semua mata mengarah padaku.

“Ada waktu sebentar? Ingin bicara.” Katanya.

Dan aku terpaku di tempatku. Teman-teman sudah menyerbu ribuan ledekan.

“Ternyata mau ngrayain sendiri...”

“Jangan lupa pajak jadiannya..”

Dia hanya mencibir.

“Opo to rek...”

Lalu berjalan duluan. Aku membuntut di belakang. Oh tuhan...apa yang akan dia bicarakan? Tentang perasaan?, dia mengajakku menjauh dari keramaian. Duduk di atas lantai, angin sepoi-sepoi menerpa kulit kami. Kali ini aku tidak setegar biasanya. Sejak pertama kali memutuskan untuk mencintainya, aku sudah bertekad menyimpanya sendiri dan berusaha biasa sebergejolak apapun cinta itu di dada. Kali ini aku tak bisa lagi biasa. Aku menunduk. Dalam. Berkecamuk dengan fikiran sendiri. Dia belum juga membuka percakapan. Hanya desahan nafasnya yang terlihat berat.

“Apa tidak beresiko, ustadz?” lirihku. Dia melihat kekiri dan kekanan.

“Tidak, insyaallah. Hanya sebentar.” Aku mengangguk.

“Nduk,” aku menggigit bibir. Mengangguk.

“Apa sampean ndak melihat peubahan pada diriku?” tanyanya. Aku kembali mengangguk.

“Dian, murung, seperti menanggung beban.” lanjutnya. Aku mengangguk.

“Itu bukan sekedar badmood, Nduk. Bukan. Dari kecil, emosionalku selalu terjaga. Aku terkenal ceria, ramah, dan tidak bisa bersikap acuh. Perubahanku tidak terjadi begitu saja tanpa alasan.”

Aku masih terpekur di tempatku. Melihat paving-paving kampus.

“Cinta. Kau pernah merasakanya, nduk?”

Nafasku tertahan. Tapi kepalaku mengangguk.

“Aku baru kali ini. Dan kau yang membawanya.”

Aku semakin tak bisa bernafas. Apa? Bisa diulang?

“Kau yang membawa cinta untukku hari itu. Seorang bidadari bergaun pink yang senyumnya memporak-porandakan siang malamku sejak itu. Bidadari bermata salju yang membalik hidupku 180⁰. Ya dia. Bidadari bergaun pink yang memiliki senyum madu dan mata salju.”

Aku mendongak, menatap matanya. Dunia seakan berhenti berotasi. Dan aku bagai terhempas dari ketinggian langit ketujuh. Berdebam. Masuk kedalam kerak bumi. Aku terhimpit. Tubuhku menyatu dengan tanah jauh di pojokan sana. Hatiku diperas hingga darahnya memuncrat kepermukaan bumi. Sakit. Perih.

***

Bersambung...Sesok neh, seng ngetik kesel....!!!

Dalam Diam | Part 4 Oleh Kabut Jingga Dalam Diam | Part 4 Oleh Kabut Jingga Reviewed by Feno Blog on Juni 25, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.