Gerakan 1000 Guthek




Sudah menjadi rahasia umum, bahwasanya pada ajaran baru tahun ini banyak sekali kejadian menarik yang terjadi di Darussalam, khususnya pesantren putra. Ada yang mungkin sudah diketahui secara luas hingga meluas ke area mbak-mbak, dan ada yang mungkin tidak begitu menarik sehingga tidak perlu untuk disebarluaskan.

Diantaranya yang telah masyhur, pergantian kepala pesantren putra beserta seluruh jajaran kabinetnya. Sejak masa awal kepemimpinanya hingga saat ini, mereka telah banyak mencanangkan berbagai program yang unik dan menarik. Ada juga mengenai peresmian perguruan tinggi berbasis pesantren atau Ma'had Aly, yang dikatakan akan menciptakan lulusan-lulusan yang layak untuk diberi gelar Ulama. Juga peristiwa bersejarah yang cukup mengharukan, yaitu pembongkaran asrama al-Qudsiyah dan al-Falah yang sempat mengakibatkan erupsi debu mematikan. Kemudian disusul dengan pembongkaran ndalem Kyai Mualim yang secara otomatis juga menggusur trio warung sego goreng kesayangan kang-kang. Akhirnya kini terpaksa diungsikan ke depan markas kang-kang embel madrasah.

Banyak juga peristiwa lain yang sebenarnya tidak begitu masyhur, akan tetapi menarik untuk dibahas disini, karena menjadi salah satu dari beberapa hal yang melandasi adanya tulisan ini. Diantaranya; di putra telah terbentuk sebuah badan intelejen yang bergerak di bidang oprak-oprak. Mereka beranggotakan remaja-remaja labil, kang-kang pawon kulon, dan relawan lain. Dan Gus Ma'ruf (GM) sang pencetus badan ini menamainya dengan BATALION 51. Badan intelejen ini bersenjatakan guthek prieng. Tugasnya khusus menangani kenakalan santri dalam hal bolos kegiatan. Baik sorogan, kegiatan ba'da maghrib, sholi-sholi, ataupun kegiatan ala santri lainnya.

Dan membahas oprak-oprak di pondok putra, sepertinya terjadi peningkatan yang sangat drastis. Ini dapat ditinjau dari tingkat kebisingan yang semakin meningkat, yang dihasilkan oleh pukulan ghutek yang mengenai bermacam-macam benda. Sehingga menimbulkan suara khas “thek, thek, thek, thek” tidak beraturan. Parahnya, ini merajalela di seluruh penjuru pondok.

Termasuk kegiatan ngoprak-ngoprak asrama, yang dulu dikenal sebagai spesialisasi prajurit keamanan kini juga mulai digeluti secara serius oleh berbagai kalangan. Mulai dari pak-pak pesantren baik yang senior atau junior, para asatidz diniyyah baik yang baru menyandang gelar ustadz ataupun yang sudah menyandang gelar ustadz kawakan, dan juga tak ketinggalan para santri yang menyandang status sebagai anggota BATALION 51. Mereka semua selama hampir 24 jam ikut meramaikan pondok dengan blusukkan ke asrama-asrama, guo-guo, leng-leng, dan tempat-tempat terpencil yang pada dasarnya sulit dijangkau akan tetapi berpotensi menjadi tempat persembunyian para kang-kang.

Dari sini, sebenarnya kita bisa melihat banyak hal menarik yang mungkin juga sedikit mengharukan. Seperti terjalinnya kekompakan yang sangat erat antara pengurus pesantren, dewan asatidz, dewan keamanan, dan teman-teman anggota batalion. Dan juga kepedulian mereka yang sangat besar terhadap para santri agar dapat mengikuti kegiatan dengan baik sesuai harapan semua pihak. Sungguh, hal-hal tersebut telah menciptakan sebuah keharmonisan yang sangat luar biasa di dalam pondok pesantren putra.

Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait peristiwa ini. Antara lain, alasan mengapa peristiwa ini bisa terjadi. Banyak timbul pertanyaan mengapa para asatidz yang dulunya dianggap tidak begitu memiliki kepedulian terhadap kehidupan warga asrama, kini malah berlomba-lomba menunjukkan kepeduliannya dengan ikut terjun langsung blusukkan ke asrama-asrama? Mengapa pak-pak pesantren yang dulunya dikenal sebagai makhluk super sibuk dengan berbagai program kerjanya, kini malah menambah kesibukan dengan ikut ngoprak-ngoprak para santri yang ada di asrama? Dan kenapa pula harus dibentuk badan intelejen yang beranggotakan kang-kang pawon kulon beserta kang-kang relawan yang lain, untuk ikut mensukseskan setiap kegiatan yang ada di asrama? Apakah tenaga dari prajurit-prajurit keamanan masih kurang memadai? Dan yang paling tidak bisa diterima oleh akal sehat saya, kenapa namanya harus “BATALION”? Opo yo ra enek jeneng liyo tah?

Dari pertanyaan - pertanyaan diatas, saya menemukan beberapa hal yang saya anggap cukup mengkhawatirkan, alasan mengapa peristiwa-peristiwa itu bisa terjadi. Pertama, santri-santri saat ini sudah mulai kehilangan semangatnya untuk menjadi santri. Mereka sudah mulai kehilangan semangat untuk mengaji, beribadah, sekolah, mengikuti kegiatan, dan semangat-semangat lain yang harus dimiliki oleh seorang santri. Sehingga untuk mengembalikan semua semangat tersebut, dibutuhkan tenaga ekstra yang tentu saja tidak cukup hanya dengan tenaga dari para prajurit keamanan, akan tetapi juga harus melibatkan pihak-pihak lain yang dianggap layak untuk ikut andil dalam hal ini.

Akan tetapi, selaras dengan pepatah “Nasi sudah menjadi bubur”, bahwa untuk mengembalikan semua semangat tersebut bukanlah pekerjaan mudah. Sehingga oprak-oprak yang awalnya ditujukan untuk mengembalikan semangat para santri, malah berubah menjadi sebuah kegiatan pemaksaan yang terkesan brutal meskipun masih dalam ranah prikemanusiaan, dan secara tidak langsung telah menciptakan watak ketidak-mandirian dalam jiwa para santri.

Akibatnya para santri menjadi bergantung pada oprak-oprak dan timbulah dalam otak mereka pemikiran bahwa sebuah kegiatan akan berjalan, apabila diiringi dengan oprak-oprak yang maksimal. Sebaliknya, apabila oprak-oprak tidak berjalan, otomatis kegiatan pun tidak layak untuk dijalankan. Sungguh ironis bukan?

Kemudian alasan selanjutnya yang menurut saya mendasari peristiwa-peristiwa di atas adalah, kinerja para pengurus asrama yang bisa dikatakan cukup memprihatinkan, sehingga memaksa para atasan untuk terjun langsung ke bawah guna menangani para santri yang tidak dapat diatasi secara maksimal oleh pengurus asrama. Dalam hal ini sebenarnya kepekaan pengurus asramalah yang patut untuk dipertanyakan. Banyak pengurus asrama saat ini yang tidak begitu mempedulikan nasib para warganya. Mereka acuh tak acuh dengan apa yang terjadi di asrama dan akan bertindak apabila mendapat perintah atau bahkan teguran dari para atasan.

Masih banyak dari mereka mengutarakan alasan bahwa mereka masih belum pantas atau belum cukup dewasa untuk ikut andil dalam menangani warga asrama, atau lebih seringnya mereka akan berkata, “Ngopeni awak'e dewe ae rong godak, kok arep ngopeni wong liyo?” Seperti itulah alasan mereka, yang sebenarnya malah membuat mereka tidak akan pernah dewasa. Karena alasan seperti itu hanya akan menjadikan mereka malas untuk ikut mengopeni warga asrama.

Kemudian timbul pertanyaan mengenai bagaimana cara untuk menangani kedua masalah tersebut? Kalau jawaban yang saya dapatkan dari guru besar saya. Yaitu, kita harus membiasakan diri untuk tidak selalu menunggu. Maksudnya, kita harus membiasakan diri untuk selalu bertindak tanpa menunggu perintah, atau tidak menunggu pihak lain memberi aba-aba baru kita mau bergerak. Contoh mudahnya, apabila telah tiba waktu diniyyah semisal, maka tanpa menunggu perintah dari pihak lain kita akan langsung sigap mengambil buku atau kitab yang akan kita pelajari.

Contoh lain, ketika status kita sebagai pengurus asrama, maka kita akan langsung tanggap dalam mengondisikan warga kita untuk berangkat diniyyah, dan tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada pihak lain untuk ikut ngoprak-ngoprak warga kita. Kalau gitu keren kan?

Dan juga, penting bagi kita untuk membiasakan hal tersebut kepada orang-orang di sekitar kita. Sehingga, apabila kebiasan seperti itu sudah tertanam pada diri tiap-tiap santri, maka kehidupan di pondok pesantren akan terasa labih ringan. Efek positifnya, hal itu akan berbanding lurus dengan penurunan jumlah pengoprak-oprak, karena sudah tidak ada lagi santri yang perlu dioprak-oprak. Efek positifnya juga, akan mengurangi tingkat kebisingan yang disebabkan oleh pukulan-pukulan guthek dari pihak pengoprak-oprak.

Mungkin cukup sekian tulisan yang bisa saya sajikan. Karena apabila saya tetap memaksa untuk menulis lebih dari ini maka saya yakin tulisan yang saya lebih-lebihkan tersebut tidak akan memberikan manfaat kepada saya apalagi kepada anda. Dan tentunya hanya akan menguras lebih banyak waktu anda untuk membaca tulisan tidak layak konsumsi ini, yang secara otomatis juga akan menyita waktu yang sebenarnya bisa anda gunakan untuk membaca cerpen di bawah ini. Oleh sebab itu saya mohon maaf telah menyita waktu anda dan terimakasih atas kesediaanya untuk membaca tulisan ini. Wassalam. (Amamy)
Gerakan 1000 Guthek Gerakan 1000 Guthek Reviewed by Feno Blog on Juni 07, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.