Malaikat Satu Sayap| Part II Oleh Silviasya Pelangi


 Aku semakin tak mengerti dengan semua ini. Hatiku bagaikan dipermainkan oleh A'un. Dan aku baru sadar kalau wanita yang sedang berbicara dengan A'un adalah Yasmine.

“Jangan kaitkan ini semua dengan Farah Ahmadun. Kamu tau kan Farah tak bersalah. Ia tak tahu apa-apa. Aku hanya menjalankan amanah dari almarhum untuk menjaga Farah dan harusnya kamu kasihan sama Farah karena sejak lahir dia menderita kelainan ginjal. Ini semua salahku, A'un!!” jawab Yasmine.

Baca Kisah Sebelumnya: Malaikat Satu Sayap I

“Apa kamu mau kembali ke masa lalumu, saat kamu batal menikah dengan lelaki itu, saat kedua orang tua kalian tak menyetujuinya karena kalian beda agama?”

“Ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan masa lalu itu.” Wanita itu menyangkal perkataan A'un.

“Lalu karena alasan apa, Yas?”

Mereka terdiam beberapa saat, dan aku melihat wanita itu menangis. Tapi A'un hanya diam.

“Oke. Jika ini mau kamu, aku akan turuti. Tapi satu hal, jangan pernah kamu sesali keputusanku.” Ku lihat A'un begitu saja pergi meninggalkan Yasmine.

“Ternyata selama ini Yasmine dan A'un adalah sepasang kekasih yang mengorbankan cinta mereka demi aku.” Kataku dalam hati.

Kuhabiskan setengah hariku di dalam kamar. Sedangkan Mama, Papa, dan Kak Yoseph pergi sembahyang ke gereja.

Baru beberapa bulan aku mengenal Yasmine, mengenal A'un, dan dan baru dua minggu lalu ku putuskan untuk memeluk agama Islam. Meskipun aku sudah berjanji kepada Mama beberapa waktu lalu tidak akan berpindah agama, namun bagiku hidup itu pilihan. Begitu juga dengan kepercayaan.

“Maafkan aku, Ma. Aku sudah ingkar janji. Aku diam-diam memeluk agama Islam, Meski tanpa sepengetahuan kalian.” Gumamku dalam hati. Dan aku mengambil sebuah kerudung biru pemberian Yasmine dua minggu yang lalu saat aku putuskan menjadi muallaf.

“Kamu cantik Maria..”Aku terkejut ketika Kak Yoseph yang tiba-tiba masuk kamarku memujiku cantik. Seketika itu ku lepas kerudungku.

“Kak, salahkah kalau aku memakai hijab? Aku ingin seperti malaikat yang selalu kakak ceritakan.”

“Yasmine maksudmu?” jawab kakakku. Aku hanya mengangguk.

“Kak, Maria sudah mengucapkan dua kalimat syahadat kemarin, di musholla Darussalam. Maria sekarang menjadi muallaf. Maafkan Maria, Kak.”

Kring... kring... kring... Hpku berbunyi. Rupanya sebuah sms dari A'un.

“Assalamualaikum warohmatullah, Maria. Aku tunggu kamu di rumah Yasmine sekarang.”

Aku dan Kak Yoseph segera meluncur ke rumah Yasmine, aku ingin menunjukkan ke A'un dan Yasmine kalau sekarang aku memakai hijab. Sesampainya disana, ku lihat bendera kuning dikibarkan. Banyak orang yang mengenakan baju hitam. Hatiku semakin tak karuan. Aku berusaha berfikir positif, aku yakin tidak terjadi apa- apa. Namun tangisku pecah seketika saat kulihat Yasmine telah berbungkuskan kain putih dan hanya terlihat wajahnya yang cantik itu tersenyum. Aku langsung memeluk ibu Yasmine. Dan Kak Yoseph pun ikut menangis.

“Ibu, ini tidak benar kan?” Aku menangis sejadi-jadinya.

“Maria, kuatkan hatimu. Yasmine sudah tenang di alam sana.” A'un mencoba menenangkanku.

“Nak... Sebelum Yasmine pergi, ia menitipkan ini untuk kamu dan A'un.” Ibu Yasmine memberikan buku ungu kecil berjudul malaikat satu sayap yang pernah ku baca dulu.

Aku membuka buku itu. Yang dahulu di halaman pertama ada foto Yasmine, A'un dan Kak Yoseph, kini ada fotoku, Yasmine, A'un, Farah, dan Kak Yoseph. Ku buka lembar kedua. Disana ada tulisan tangan Yasmine.

Jember, 08 Nopember 2015

Dear diary.... Untuk sahabatku Riana, maaf aku tak bisa lagi memengajarimu membaca al-qur'an, mendengarkan ceritamu tentang Ahmadun (A'un), karena aku akan pergi ke sebuah tempat yang jauh dan untuk waktu yang lama. Semangat ya untuk mengerti lebih banyak lagi tentang Islam.

Jember, 09 Nopember 2015

Hari ini hari hari ulang tahun Farah dan hari terakhirku bersama Farah. Farah, maafin kak Yasmine ya. Hanya sepasang ginjal yang bisa ku berikan sebagai kado di ulang tahun yang ke 5 ini. Jangan bandel lagi ya. Yang rajin kalau mengaji. Dan suatu saat nanti, Farah akan bertemu dengan ayah kandung Farah. Namanya Yoseph.

Jember, 10 Nopember 2015

A'un, hari ini akan terjawab semua pertanyaanmu beberapa waktu lalu, saat ku batalkan pernikahan kita. Dan aku yakin Maria mampu menjadi istri sholihah untuk kamu. Karena aku tahu betul dia sangatlah mencintaimu. Aku nitip ibu sama abah ya. Kalau aku sudah tak ada di sini lagi, tolong jenguk mereka. Karena aku tak bisa menemani dan menjaga ibu sama abah di hari tuanya. Aku sayang kalian semua.

Yasmine


Tangisku semakin pecah saat ku baca buku diarinya. Sosok malaikat satu sayap itu kini benar-benar pergi. Hanya untaian do'a yang bisa ku berikan untukmu.

***

Sejak saat itu pula, Kak Yoseph bertemu dengan anak kandungnya, Farah dan memutuskan masuk Islam. Kini semua keluargaku menjadi muallaf. Atas izin Allah dengan perantara malaikat satu sayap itu.

THE END
Malaikat Satu Sayap| Part II Oleh Silviasya Pelangi Malaikat Satu Sayap| Part II Oleh Silviasya Pelangi Reviewed by Feno Blog on Juni 25, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.