Malati | Oleh Arr


“Woi, jo tawur amu! Kualat kapok!”
“Iyo... iyo... aku ngerti, terus piye iki?”
“Yo ndang dibalekne, selak ghodob Abahe engko!”
“Ayo terno!, Aku wedi”
“Owalah, wani ghosob, kudu wani balekne dewe”
“Ndang to! Aku wedi tenan iki”
“Ayo wes, ayo..”

Akhirnya kedua santri itu mengembalikan sandal merk “selow” milik sang kyai yang telah dighosob oleh salah satu dari mereka. Semua itu dilakukan hanya demi satu hal, “ben ra kualat”.

“Kualat” adalah bentuk kata kerja (verba) yang dalam kamus kehidupan (terutama orang-orang Jawa-Madura) merupakan kondisi dimana seseorang mendapatkan balak/balasan setimpal (atau lebih ekstrim lagi adalah “kutukan”) akibat ucapan ataupun tingkah laku yang dianggap lancang ataupun mendurhakai pada hal-hal yang “malati”. Contohnya dalam kasus Malin Kundang si anak durhaka itu. Dia kualat dan akhirnya menjadi batu gara-gara lancang dan durhaka kepada orang yang sangat malati yakni sang ibu -makanya Bang Haji Rhoma Irama dalam lagunya menyebut ibu sebagai “keramat yang ampuh di dunia”- yang telah melahirkanya. 

Sebenarnya banyak sekali contoh-contoh dalam kehidupan yang berkaitan dengan hal ini. Sebut saja kehidupan orang-orang yang susah dan prihatin lantaran mereka benci ataupun lancang kepada 'ulama dan kekasih Allah.

Sedang “malati” adalah bentuk kata sifat (adjective) yang disitu melekat pada segala sesuatu yang dianggap keramat atau dimagiskan. Tidak pandang segala bentuk apapun itu, baik hanya batu, pohon, pun hewan, kalau memang iya dikeramatkan, sudah tentu malati. Kita ambil saja contoh, kucing. Dalam mitologi Jawa, dari dulu, era mbah-mbah kita sampai era i-Phone sekarang, hewan tersebut masih memiliki aura “malati” yang sangat kuat. 

Bukti empirisnya, ketika ada seorang berkendara tidak sengaja kok menabrak kucing dan ndilalah mati, maka dia akan mengubur kucing tersebut layaknya manusia. Hanya saja, tidak disholati dan dimandikan. Kemudian ia akan segera mencuci kendaraanya dengan air kembang.

Coba kalau yang ketabrak adalah ayam atau kodok, boro-boro menguburnya, yang ada mungkin malah memaidunya, “Ooooo….terahe kodok!” Kalau gak gitu “Ooooh….pitek guoblok!!! Wes ngerti enek pedah malah nyebrang” Atau mungkin macak seperti gak punya dosa. “Ada apa, Pa?”, “Owh, gak ada apa-apa ma, Cuma nabrak ayam doang.” sambil berlalu seperti tanpa beban. Atau mungkin malah acuh tak acuh maksimal, “Ada apa Pa?”, “Owh, nggak ada apa-apa kok Ma.” padahal sudah jelas-jelas ia menabrak seekor ayam dan mati. Dasar! Rumangsane pitek ra larang piye???.

Kiranya yang perlu kita cermati adalah, mengapa kok kucing mempunyai sifat malati seperti itu?. Apa karena dia punya bulu? Tupai punya bulu tapi ia tidak malati, berarti bukan. Apa karena ia punya taring? Singa punya taring tapi ia tidak malati. Apa karena ia clutak (tukang nyolongi lawuh) lalu ia jadi malati? Tikus lebih clutak dan nggragas tapi ia tidak sedikitpun malati. Dan terakhir, apa karena kucing nggak pernah mandi kemudian ia mendapatkan keistimewaan seperti itu?. Ha ha ha… kayaknya yang terakhir ini lebih nggak masuk akal lagi dan berada di luar nalar sehat manusia sempurna. Pasalnya cicak juga nggak pernah mandi tapi kita justru disunahkan untuk membunuhnya. Pokok bukan cicak rowo lo yaaa.

Lalu apa sebenarnya rahasia si kucing tersebut bisa malati luar biasa? Setelah memperhatikan, mengamati, merenung, menimbang dan mendiskusikan dengan “konco bluron ing kali” dapat ditarik sebuah postulat bahwa “kucing kuwi malati mergo istiqomah melek bengi” titik.

Coba kita amati, rata-rata hewan yang “istiqomah” melek bengi (nocturnal), kalau nggak malati mesti punya kemampuan khusus dan istimewa. Selain kucing, kita ambil contoh lowo. Tau lowo samean? lowo itu codot. Tau codot samean?, codot itu kelelawar. Kelelawar itu termasuk hewan yang aktif di malam hari (nocturnal). Dan oleh karena “riyadhohnya” tersebut, kelelawar oleh Sang Maha Pencipta diberi kelebihan khusus yang disebut “ekolokasi”, yakni kemampuan mengeluarkan sonar atau bunyi ultrasonic yang mana ia akan memantul ketika mengenai benda-benda padat dan yang selanjutnya akan direspon oleh otak kelelawar tersebut sehingga ia tidak pernah menabrak ataupun tertabrak benda di sekitarnya meskipun didalam keadaan gelap total.

Contoh lagi adalah burung hantu. Ia mempunyai kemampuan yakni dapat mengeluarkan “suara kejut” bunyi ultrasonic yang keras dan tiba-tiba, yang otomatis membuat kaget mangsanya yakni tikus wa akhwatuhu untuk segera lari. Dan disaat itulah ia mengejar dan menangkap mengsanya yang dijadikan menu “dinner” malam itu. Satu lagi adalah cicak. Cicak paling banyak jumlahnya di malam hari. Dan berkat tirakatnya tersebut, oleh Sang Pencipta dan perancangnya, yakni Dzat yang Maha Cerdas, ia dibekali sebuah kemampuan khusus yakni autotomi, sebuah kemampuan dapat memutuskan anggota badannya ketika terdesak oleh situasi berbahaya. Dan dalam waktu singkat bagian tubuh yang hilang tersebut akan dapat tumbuh kembali.

Subhanallah… subhanallah…subhanallah.
Sebenarnya jika mau merenung, betapa besar faidah dan manfaat yang akan kita peroleh jika kita mau mengistiqomahkan terjaga di malam hari dan berdzikir kepada-Nya. Oleh karena itu tidak berlebihan jika ada maqolah yang berbunyi seperti ini, “Jadikanlah malam hari sebagai kendaraan untuk mencapai kemuliaan” dan juga “Bagaimana engkau akan meraih kemuliaan dan cita-citamu sedang di malam hari engkau terlelap dalam tidurmu.”

Setidaknya dengan mengetahui hal ini kita sebagai santri bisa sadar. Kita ini santri, tapi malam hari tidur, diniyyah pagi keturon, sekolah pagi kesirep, takror siang ketiduran, diniyyah malam mata sudah banyak memerah tanda ngaber (ngantuk berat), akhirnya kesirep juga dikelas. Lalu kapan kita kan benar-benar serius belajar?. Ingat Kang! Mbak! Kita ini adalah generasi–generasi yang akan berada di garis terdepan di masa yang akan datang dalam rangka membela dan mempertahankan Islam, Aswaja, dan NKRI. Dan di pondok-pondok kitalah urusan-urusan tersebut akan ditancapkan. Wallahu a'lam.
Malati | Oleh Arr Malati | Oleh Arr Reviewed by Feno Blog on Juni 25, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.