Manusia Bebas Tanggungan | oleh Hifji.Flick



manusia bebas tanggungan

Kemarin saya nggak sengaja, bercakap-cakap dengan seorang wali santri.

Ngirim yugane pak?”, saya tanya.

Jawaban bapak itu ironis sekali, “Nganu, niki bayarne bebas tanggungane tole.”.

Ohh… griyane pundi pak?”

“(Tiiittt….) sensor!!”

Ohh..tebeeh. Mboten saget sering-sering ngindangi yugane nggeh berarti pak?”

Nganu, kulo pokok rong ulan pisan, pokok gak enek telong ulan wes rene meneh. Kan yo mesti ngurusi blangkone tole iki. Karo sekalian ngirem.”
Wahh… Dalam hati saya protes, masak sesering itu sih ngurus bebas tanggungan?. Sampai-sampai seorang wali santri mengurangi substansinya ngirem anake karena niatnya adalah nglengkapi bebas tanggungan. Maka saya coba itung-itung, saya coba kalkulasi, untuk mendapatkan bukti empiris, apakah pernyataan bapak tadi benar? Ternyata hasilnya mencengangkan.

Untuk selanjutnya agar lebih sederhana, akan saya sebut kata bebas tanggungan dengan istilah BT saja. Karena akan mumet dan muneg-muneg sekali nanti jika saya tetep ngengkel pake kata bebas tanggungan. Oke, here we go, mari kita hitung bersama-sama.

Sekarang misalnya seorang santri sekolah kurikulum, maka dalam setahun dia mesti ngurus BT 4 kali. Dengan perincian 2 kali BT UTS dan 2 kali BT semester. Belum lagi dari diniyah maka santri akan rutin dapat 3 kali BT dalam setahun. Dengan perincian daur awal, daur tsani, dan daur tsalis. Tambahkan lagi BT liburan. Jadi rutin dapat 2 kali dalam setahun. Dengan perincian sekali libur maulid dan sekali libur lebaran. Maka, dapat dipastikan dalam setahun seorang santri harus melengkapi BT, mengurusi pembayaran, minta tanda tangan dan stempel sana sini, serta dengan segala tetek bengeknya sebanyak SEMBILAN kali!, Wow… amazing kan! Saya juga tidak menyangka.

Belum lagi jika kalian kelas akhir, seperti 'pengalaman' teman saya, Maka tambahkan pula BT ngambil ijazah yang sebanyak tiga lembar. Hmm… Lengkap sudah penderitaanmu nak..!

“Bebas tanggunganmu wes lengkap cuy?”

“Hadehh...boro-boro, bebas tanggungan ijazahku ae gong kebek, sampek wes ketumpukan bebas tanggungan UAS, malah saiki ketambahan bebas tanggungan daur. Cantolan klambiku kebek bebas tanggungan saiki. Gak tak gawe nyantolne klambi meneh.”

Menggelikan sekali bukan. Kudu-kudu guyu mesakne. Memang ada betulnya pernyataan bapak wali santri tadi. Ngirem anake sekalian ngurusi babas tanggungan. Eh, kuwalik deng, ngurusi bebas tanggungan sekalian ngirim anake. Saking seringnya.

11 (bulan) X 30 (hari)= 330 (hari) 330 : 9 (jumlah bebas tanggungan dalam setahun) = 36,6

Maka sodara sodara yang budiman, rata-rata kita musti ngurusi yang namanya BEBAS TANGGUNGAN, setiap 37 hari sekali ! hohohohoo…. Data yang spektakuler. Tidak pernah kita sadari selama ini. Atau mungkin yang merasakan adalah 'orang rumah' ya? Selaku pemeran utama pelunas BT. Seperti bapak-bapak tadi misalnya. Lha sangkek seringe, gong enek sebulan setengah,

“Halo, pak'e, yotro damel blaa bla bla blaa…bebas tanggungannn paakk...”.

“Iyo le, nduk sabar sek”

Hmmm…tapi yo piye meneh. Jerene koncoku jenenge santri yo too… kudune sami'na wa atho'na. Terlepas dari itu semua yang seakan-akan kita dicetak menjadi manusia bebas tanggungan. Kita doakan saja semoga orang tua kita diberi rizki yang lancar, dan semuanya bisa segera lunas dan bebas dari yang namanya bebas tanggungan. Aminn (banter)

Sebenarnya kalo dipikir-pikir, sensasi bebas tanggungan yang sudah penuh dan mendapatkan kartu melebihi dari mendapatkan rangking saat ujian itu sendiri. Kalo boleh dikata, sensasi bebas tanggungan yang sudah penuh itu kayak habis menang undian sabun colek liburan ke Bali. Hahaahaa…True story men.

*tidak semuanya begitu, tapi demikianlah dari curhatan-curhatan yang terdengar di Lorong-lorong asrama dan pojok-pojok kamar. Tidak perlu serius ^_^.
Manusia Bebas Tanggungan | oleh Hifji.Flick Manusia Bebas Tanggungan | oleh Hifji.Flick Reviewed by Feno Blog on Juni 12, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.