Membelah Duit | Tinta Hikmah


Ayo..!! Siapa yang tidak tau dengan duit, acungkan tanganmu. Duit atau yang sering kita sapa dengan kata “money” merupakan suatu alat tukar-menukar yang sah yang dipakai oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ituu sihh kalau menurut saya pribadi rek, nggak tahu kalau menurut kalian.

Mungkin anda semua juga sudah faham betul tentang apa itu duit. Karena saya juga sangat yakin 100% pengeluaran keuangan anda jauh lebih besar daripada pemasukan. Apalagi kalau pas liburan. Ada yang ke Ijen lah, ke Bromo lah, ke seluruh plosok water boom lah, dan lain-lain.

Mpun. Langsung ke inti pembahasannya nggeh. Kalau diperhatikan judul artikel diatas, pasti membingungkan bukan? Mungkin juga bisa dibilang jadul. Tapi apa salahnya kalau saya teruskan saja. Mudah-mudahan bisa radak apik serta memberikan manfaat buat pembaca.

Kata duit disini mempunyai dua makna. Makna secara hakikat dan makna secara majaz. Secara hakikat, arti duit tidak jauh seperti penjelasan yang sudah saya paparkan diatas. Yaitu sebagai alat tukar-menukar yang sah, yang digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Adapun secara majaz, kata DUIT mempunyai 4 makna yang tersimpan di dalamnya:

1. Huruf D, bermakna do'a


Sebagaimana sudah diterangkan dalam QS. Ghofir [40]:60. “Dan Tuhanmu berfirman, berdo'alah kepadaku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.

Dalam ayat diatas, kita semua diperintahkan untuk selalu berdoa kepada Allah Swt. Baik disaat kita butuh ataupun tidak, butuh kaya ya doa, ora butuh kaya ya tetep doa.

2. Huruf U, bermakna usaha

Bekerja apapun, hafalan model apapun, (yang penting gak jungker balik), dan belajar kitab apapun, kalau tidak disertai dengan usaha jeri payah, akankah kalian yakin bisa berhasil? Kalau dalam nadzom al-Imrithi, “La tarum 'ilman wa tatruka at-ta'ab.” Janganlah kamu berharap mendapatkan ilmu, jika kamu meninggalkan ke-ngoyo'an atau susah payahnya dalam belajar.

Menurut saya, hal ini sudah tidak bisa dipungkiri lagi kebenaranya. Bagaimana tidak, coba kalian perhatikan petani yang menanam padi dan sejenisnya, mereka pasti berusaha keras untuk banting tulang merawatnya demi mendapatkan hasil panen yang bagus, baik dari segi perawatan, matunnya (Eh. Bahasa Indonesianya apa ya?), ngobati wareng, memupuk, dan lain-lain.

Berbicara tentang ngoyonya pak tani, ada tulisan Mbah Yai Syafa'at yang terpampang jelas di dinding asrama R. Tulisan itu sangatlah pendek, singkat, dan saya yakin didalamnya memuat makna yang sangat dalam. Qola Syaikhuna: “Sopo wonge ngoyo, mongko bakal ngoyot.”

Setelah saya baca tulisan tersebut, terus terang saja, saya ndak faham apa artinya. Malah saya sempat di-bully gara-gara itu. Ketika saya bertanya maknanya, mereka ada yang menjawab begini, “Siapa yang ngoyo di pondok, maka hidupnya ya bakalan ngoyot di pondok.” Makane ojo ngoyo lak ndek pondok, bene boyonge penak. Saya pun membenarkan jawabanya. Yahh maklum, karena waktu itu saya masih begitu culun dan polosnya sama seperti sekarang. Wkwkwk. Piss.

Bertahun-tahun saya hayati tulisannya Mbah Yai, dan kemungkinan besar, maknanya ya tidak jauh dengan nadzom Imriti diatas. Mungkin yang dimaksud ngoyo itu adalah mencari ilmu dan belajarnya, bukan ngoyo turunya tokk..!! Sehingga dengan usaha ngoyo belajar, ilmu yang dicari di pesantren selalu dikaji dan diperdalam hingga sampai akarnya. Juga ngoyot ke dalam pikiran sampai tembus ke hati. Dan ilmu seperti inilah ilmu yang tidak akan tergoyahkan apalagi terlupakan, sebab sudah membekas dan tertancap erat di dalam hatinya.

3. Huruf I, maknanya ikhtiyar

Ikhtiyar adalah memilih sesuatu yang sudah menjadi keinginannya sendiri, bukan karena paksaan. Contoh, santri itu tugasnya kalau ndak jama'ah, ya ngaji, ya ngabdi, ya rabi, Hehe. Nah, seandainya santriwan/wati disuruh ngaji bandongan, pasti mereka memilih kitab yang sesuai dengan kebutuhan dan ke-sreg-kannya masing-masing. Untuk mbak-mbak yang hampir mutakhorijat, jika kitab yang disediakan ada Qurrotul 'Uyun dan Fathul Izar, pasti yang dipilih ya kitab itu. Ehm ehm.

Lain halnya dengan kang-kang “Mukhlas”. Sebut saja gitu. Golongan calon mutakhorijin lak dadi. Jika kang-kang Mukhlas kok disuruh ngaji yang sama persis dengan mbak-mbak Mukhlas, hal ini sangat berbahaya. Nanti malah pada geger. Ada yang sempat kejang-kejang, ada yang bengak-bengok, ada pula yang basahh (baca:ngiler). Wow.. Mpun-sampun. Jangan dijeru-jerukan. Kasihan pembaca yang durung baligh.

4. Huruf T, artinya tawakal

Tawakal (pasrah) merupakan kunci terakhir keberhasilan seseorang, yang apabila ia sudah berusaha, berdoa, dan berikhtiyar, ternyata belum mendapatkan hasilnya belajar. Mungkin salah satu jalan terakhirnya ya satu, yaitu Tawakal.

Apa artinya? Kita pasrahkan saja semua urusan kita pada Allah Swt. Ibarat orang belajar memahami kitab kuning, kok wes mentok uteke turr ndak faham-faham, maka saya sarankan agar leren sejenak, dan ingatlah Allah agar tidak stres. Bahayanya lagi jika sampai membanting-mbanting meja, kitab, apalagi gurunya ikut dibanting. Waduhh.. Bakale keamanan akan datang dan berkata, “Monggo langsung mawon teng kantor kang.”

Sudahlah... Serahkan saja semuanya kepada Allah. Ndak usah mbok gawe mumet. Mesakke gurune lak sampek dibanting. Hehe.

Mengapa bertawakal? Karena pada hakikatnya Allah yang memiliki segala ilmu. Bertawakkal-lah dan kembali lagi pada tingkat awal (doa), serta tingkatkan kedua dan tiganya lagi. Insyaallah dengan begitu kita akan selalu dekat dengan Allah. Mari kita simak sejenak muhasabah pada QS. At-Tholaq ayat 3: “Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi urusannya.”

Tapi perlu diingat, bahwa tawakkal itu adalah tangga yang terakhir. Jadi jika kalian kok belum melampaui tangga pertama, kedua, dan ketiga, moro-moro langsung ke tangga keempat (tawakal), maka ibarat kalian mau menulis sesuatu di kertas tulis kosong, tapi pena yang kalian gunakan adalah pena yang tidak ada tintanya. Bukankah semua itu hanya sia-sia belaka bukan?

Cukup sekian, semoga bermanfaat!!
Membelah Duit | Tinta Hikmah Membelah Duit | Tinta Hikmah Reviewed by Feno Blog on Juni 25, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.