Sekelumit Cerita Maulid | oleh: @Kepala Suku




Diakui maupun tidak, acara maulid Nabi Muhammad itu memang acara yang spesial sekali bagi umat muslim. Siapa saja, dari golongan apa saja, anak siapa saja, cucu siapa saja, bahkan buyut siapa saja, yang penting dia muslim, pasti bahagia. Bagi yang benar-benar mencintai Nabi sebenar-benarnya cinta, tanpa manipulasi dan pencitraan, kebahagiannya karena menyambut hari lahir sang pujaan. Bagi yang yang rasa cintanya kepada Nabi masih terkontaminasi oleh pencitraan, setidaknya kebahagiannya ketika bisa mencicipi makanan gratis. Sepertinya begitu (berdasarkan pengalaman).

Di Indonesia, tradisi perayaan maulid itu memiliki banyak variasi. Sumbut-lah dengan Indonesia yang memang kaya akan budaya. Kalau di Jogjakarta ada perayaan sekaten, di Padang ada Bungo Lado, di Banyuwangi ada ndog-ndogan, dan tradisi lain yang apabila anda buka di Youtube akan lebih komplit. Intinya, tradisi dengan berbagai variasi itu semua mengajak orang untuk berbahagia. Sebagai representasi bahwa mereka benar-benar bahagia dengan kelahiran Sang Pemimpin Agung.

Kalau di Cangkring - Jenggawah - Jember, tempat saya lahir dan besar disini, ada tradisi istimewa setiap kali malam Maulid Nabi. Biasanya, orang-orang desa membawa bherkat dengan isi yang bermacam-macam. Seperti kue, buah, dan nasi. Isi bherkat itu murni, tanpa ada pencitraan, atau pemburukan. Artinya, barangsiapa yang mampu membuat bherkat dengan isi yang mewah, maka buatlah! Dan barang siapa yang hanya mampu membuat ala kadarnya, sesuai dengan stabilitas ekonomi yang dimiliki, maka tidak ada dosa baginya. Alhasil, jika kelompokkan, maka bherkat-bherkat itu ada yang mugholadhoh, mutawassithoh, dan mukhoffafah. Ini bherkat, bukan najis lho ya! 

Sebelum lanjut, Jangan lupa, Mampir ke Cerpen Feno.

Nah, setelah masing-masing membuat bherkat. Selanjutnya bherkat itu dibawa ke Masjid lokasi Maulid, kemudian dikumpulkan jadi satu. Disana sudah menunggu amil bherkat yang bertugas mengumpulkan dan menjaganya agar tetap aman. Tanpa pandang bulu. Ya karena memang bherkat itu tidak punya bulu. Setelah dikumpulkan jadi satu, orang-orang pun meninggalkan bherkat untuk membaca Kitab Al-Barzanji. Selanjutnya, saya sarankan anda tidak usah baca enam paragraf dibawah ini.

Disaat ini, biasanya bherkat-bherkat itu saling ngobrol. Saling bertanya antara satu sama lain. “Heh, kresek merah, jajannya kamu apa saja?”

“Wah... jajanku pizza, Kresek putih!” (Iya... Pizza di Indonesia itu bisa jadi jajan lho ya. Karena yang bukan jajan cuma nasi.”

“Wahh... cuman pizza? Cemeeenn!! Aku lho gedhang goreng!”

“Hiks... hiks... Iya nih. Aku memang cemen. Tuanku cuma bisa membuat pizza kok. Malu aku...”

Begitu seterusnya. Kresek-kresek itu saling bertanya. Saling memuji, saling membully, membanggakan kehebatannya sendiri-sendiri. Ada pula yang tukar akun BBM, Instagram, Line, dan sosmed lain. Siapa tahu orang yang makan bherkat keselek gadget, terus mereka bisa chattingan dalam lambung. Bisa stalking Instagram. Melihat jajan-jajan kekinian, dan browsing lauk pauk zaman now.

Ketika si Tuan sudah duduk kembali dari mahallul qiyam, mereka mulai dirundung kesedihan. Saling mendoakan. Saling mensuport. Supaya mereka semua bisa selamat dunia akhirat, dan bisa sampai pada lambung orang yang hatinya bersih dari penyakit hati. Asseek....

Oh tidaaak... Sayangnya anda tetap membaca enam paragraf diatas.

Selesai acara, barulah mereka bubar. (Ya memang orang itu bubar ketika acara selesai). Mereka kembali menuju lokasi bherkat itu dikumpulkan, kemudian mengambil bherkat sekenanya. Siapa ambil, dia dapat. Siapa tak ambil ya dia tidak dapat. Salahnya nggak ngambil.

Disinilah letak nilai persaudaraannya. Ada yang bawa bherkat mugholladzoh, eh dapatnya cuma mutawassithoh. Ada yang bawa bherkat mutawassithoh, eh dapatnya cuma mukhoffafah. Ada yang bawa bherkat mukhoffafah, eh dapatnya mugholladzoh. Lumayan kan. Ada yang nggak bawa berkat, eh dapatnya mugholladzoh. Nguece tenan. Ada yang bawa bherkat mugholladzoh, eh dia kehabisan bherkat. Hihihihi. Kaa siii haaan. Kalau paginya sholat dhuha, insya Allah akan mendapatkan bherkat yang sesuai dengan cita-cita. Sepertinya begitu.

Alhasil, adanya sistem pengelolaan bherkat seperti itu, kita juga bisa meniru akhlaqul karimahnya Nabi Muhammad. Yang mana beliau adalah pemimpin yang tak pandang bulu dalam mengasihi siapapun. Beliau diutus untuk rahmat bagi seluruh alam, tidak hanya tertentu untuk umat Islam saja!

Ceritanya masyhur kan, ketika setiap hari Nabi menyuapi wanita Yahudi buta yang selalu saja menghina beliau. Sampai-sampai ketika Nabi wafat si perempuan malah kelejingan. Masyhur pula ketika Nabi menyuruh Abu Bakar untuk memerdekakan budak kulit hitam, Bilal bin Rabah, yang menjadi muadzin Rosul. Nah lho. Nabi Muhammad gak pernah ngurus entah orang itu hitam ataupun putih. Eh, pembelaan.

Masyhur pula bagaimana Rasul menyatukan etnis Madinah dan Makkah ketika beliau hijrah. Sehingga tidak ada perbedaan antara mereka. Bahkan, ketika Nabi Muhammad pernah cuek kepada urusan orang buta, dan lebih mementingkan urusan para kafir pembesar suku Quraisy, Allah langsung menegur beliau dengan menurunkan surat 'Abasa Watawalla. Karena Nabi itu ma'shum. Sedikitpun Allah tidak akan rela Nabi Muhammad melakukan suatu kesalahan. Itu semua hanya sekelumit tauladan Rasul yang saya paparkan. Anda jauh lebih mengerti daripada saya.

In the end, dalam diri Rasul itu terkandung uswatun hasanah. Teladan yang baik bagi seluruh manusia. Dan bukanlah seorang teladan jika dia masih suka membeda-bedakan status sosial, ras, agama, suku, dan kulit (pembelaan maneh). Mungkin, dengan adanya tradisi Maulid seperti ini di desa saya, setidaknya sudah mencontoh teladan Nabi Muhammad. Sedikit harapan dari saya, semoga kelak bisa mendapat syafa'at beliau di hari kiamat kelak. Allahumma sholli ‘ala Muhammad.

Ini sih ceritaku. Mana ceritamu?
Sekelumit Cerita Maulid | oleh: @Kepala Suku Sekelumit Cerita Maulid | oleh: @Kepala Suku Reviewed by Feno Blog on Juni 08, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.