Surga di Telapak Kaki Ayah (II) | Oleh Ardianshah



Diceritakan sebelumnya (Surga di Bawah Telapak Kaki Ayah I) bahwa Reno mencari Ibunya dengan berbekal selembar kertas alamat yang diberikan oleh ayahnya. setelah 4 bulan lamanya akhirnya ia bertemu dengan Mbah Zaman yang menguak kenyataan masa lalu ayahnya, yaitu lelaki yang menerobos bara api demi menyelamatkan dirinya.

*****

Hampir sebulan lebih aku meninggalkan desa di mana aku mengenal Mbah Zaman dan penduduk sekitar yang menceritakan tentang kehidupan Ayah dulu yang ternyata seorang santri, akupun tak heran karena Ayah kerapkali mengajariku banyak hal tentang agama, hingga membuat aku tumbuh dengan ilmu yang jarang dimiliki pemuda desa seumuranku.

Dan kini setelah sebulan perjalananku yang penuh alang rintang, akhirnya aku sudah berdiri di depan pintu rumah tuaku, memandang lekat pintu yang masih tertutup rapat.

" Ayah..! " ujarku memanggil Ayah. Air mata masih menetes pelan dari pelupuk mataku, ada sesal yang tak lagi mampu kutahan." Ayah...!" lanjutku, namun pintu yang kuharap akan terbuka beriring senyuman Ayah yang menyambut kedatanganku, tak kunjung terjadi.

Akupun terus memanggil nama Ayah, berulang ulang, sampai akhirnya seorang lelaki menghampiriku.

" Nak Reno...! Kamu kemana saja selama ini !" ujar Pak Rahmadi, tetangga sebelah rumah kaget saat melihat kedatanganku.

" Maaf Pak...! Saya dari desa Sumber Rejo.....Saya sedang mencari ibu....Saya rindu dengan ibu !" balasku polos.

Pak Rahmadi hanya hening, menyimpan sesuatu yang tampaknya enggan untuk aku harapkan.

" Kamu memang benar....! Kamu mencari ibumu...Tapi kamu telah melupakan sosok yang lebih penting dibanding ibumu...!"

" Maksud Bapak apa ? Ayah ada dimana ?" tanyaku sedih seraya mengusap sisa-sisa air mataku yang sudah terhenti.

" Kamu ikut Bapak.....! Bapak mau menunjukkan sesuatu kepadamu !"

Akupun melangkah mengikuti Pak Rahmadi.

****

Aku hanya berdecak heran saat pak Rahmadi mengajakku ke pemakaman umum, lalu berhenti di sebuh nisan yang tampak masih baru, dengan air mata yang kembali meleleh aku membaca nama yang tertera di nisan yang tak lain adalah nama Ayah yang kucinta, Sutaji.

" Ayahmu meninggal sekitar dua bulan lalu....!"

Aku hening, dengan balutan air mata, pandanganku membaur dengan duka, semua yang terjadi membuat sesal dalam jiwa, membuat aku benar-benar tak mampu untuk tetap berdiri.

Aku tersungkur memeluk nisan Ayah, duka benar-benar membuat jiwaku lemah, kini karena kesalahanku aku tidak hanya kehilangan sosok ibuku, aku juga kehilangan sosok Ayah yang telah merawatku.

" Nak Reno yang sabar...Semua hanya titipan....Termasuk Ayah kamu..., dan sudah saatnya Ayahmu kembali kepada Dia Yang Maha Berhak atas segala sesuatu...! Apa Ayahmu tidak menitipkan sesuatu untukmu ?" tanya Pak Rahmadi.

Aku diam, lalu teringat surat yang Ayah titipkan kepadaku agar aku menyerahkan untuk ibu. Dengan nafas memburu aku segera membaca lembaran surat itu.

Untuk putraku.....Ahmad Reno....

Ibu..Tentu engkau ingin mencari ibumu Nak ! Karena engkau tahu.....Surga berada ditelapak kaki ibumu...Seperti yang biasa Ayah ceritakan usai shalat bersamamu.....Ataupun saat mengantarmu tidur...Hingga Ayah mengizinkanmu pergi untuk mencari ibumu....., dan Ayah rasa, setelah kamu mengetahui semua tentang ibumu, lalu tentang Ayah yang ternyata bukan Ayah kandungmu......Ayah harap kamu sudah semakin dewasa...

Kamu sudah bisa menjadi sosok tegar, hingga saat kamu juga harus kehilangan Ayah...Kamu sudah siap ! Ayah mengizinkan kamu pergi mencari ibumu.....Karena Ayah tidak ingin kamu bersedih melihat kepergian Ayah......Ayah harap, setelah kamu membaca surat dari Ayah ini....Kamu harus tersenyum, hapus air matamu...., dan tumbuhlah menjadi anak yang mandiri.....Tumbuhlah menjadi sosok yang tegar dalam menjalani hari....Ayah yakin kamu mampu...

Ayah sangat menyayangimu Nak...........Izinkan Ayah menyusul ibumu di surga....



Tes.....

Air mata kembali menetes pelan, jatuh tepat di atas kertas, dimana rangkaian huruf surat perpisahan dari Ayah tertulis, aku mendesah pelan, menyimpan sesal dalam jiwa terdalamku, mencoba tersenyum sesuai dengan yang Ayah pinta, namun aku tak mampu, larena jiwaku benar-benar terluka, dan dengan sebuah senyum yang kupaksakan beriring air mata aku mendesah sebagai seorang anak yang hanya terlahir dengan kasih sayang dari seorang Ayah, tanpa pernah merasakan cinta dari seorang ibu.

Surga ditelapak kaki Ayah....Aku mencintainya....! Jagalah dia dalam kasih dan cinta-Mu....Amin..

Pak Rahmadi hanya hening, menatapku yang masih kembali memeluk nisan Ayah seraya berurai air mata. Duka.

Blokagung. Waktu dhuha.

8.30 WIS 2 Januari 2013.
Surga di Telapak Kaki Ayah (II) | Oleh Ardianshah Surga di Telapak Kaki Ayah (II) | Oleh Ardianshah Reviewed by Feno Blog on Juni 27, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.