Teman Ya Saudara | Part 3



Tiba-tiba sukandar berkata,

“Aku tadi melihat Galuh masuk ke kantor keamanan dan keluar membawa surat izin terus langsung keluar pondok tanpa membawa apapun”.

Mendengar hal tersebut Zahid tersentak kaget, dan dia berlari ke kamar dan melihat barang-barang Galuh. Ternyata semuanya masih ada. Zahid pun bingung ada apa sebenarnya yang terjadi pada Galuh, kok tiba-tiba pergi tanpa pamit kepada teman dekatnya ini.

Setelah semalaman Zahid mencari Galuh dan tidak mendapatkan hasil apapun, dia memberanikan diri bertanya ke kantor keamanan perihal izin Galuh tadi sore,

”Pak Mahmud, Zahid mau bertanya”

“Tanya masalah apa hid, masalah anak yang melanggar?” ujar pak Mahmud yang jabatannya adalah kepala bidang keamanan pondok pesantren nurul iman.

”Enggak pak, mau tanya perihal izin Galuh kemarin sore, dia izin kemana ya pak?” sahut Zahid.

”Owh, Galuh to, kata dia sih mau pulang ke Surabaya adiknya sunatan”

”Tapikan adik Galuh perempuan semua pak! Masak sunat?”

”lha masak? Bohong berati dia! Wah,, kurang ajar anak itu, sudah suka bikin ulah, pembohong lagi!!” jawab pak Mahmud dengan nada kasar.

”Ya sudah pak, itu saja yang mau saya tanyakan, permisi! ASSALAMU'ALAIKUM”

”WA'ALAIKUMSALAM” jawab pak Mahmud dengan keadaan masih merah padam mukanya karena di bohongi oleh Galuh. Dan Zahid cepat pamit karena dia tidak ingin menambah kemarahan pak Mahmud.

Dalam suasana hening Zahid masih berfikir keras, kira-kira ada perkara apa yang membuat Galuh membohongi dewan keamanan saat izin, dan tidak pamit pada teman-teman kamarnya saat pulang ke rumah.

Tiga hari setelah kejadian itu, Zahid masih terlihat khawatir dengan keadaan Galuh yang hingga kini belum memberikan kabar sama sekali padanya. Saat Zahid dengan temannya bebincang-bincang tentang pulangnya Galuh tanpa pamit, tiba-tiba panggilan keamanan berbunyi,

”Panggilan, saudara Zahid kamar Q.2 di tunggu kedatanganya di kantor keamanan,, telfon,,”

Zahid yang kaget langsung berdiri, dan menuju ke kantor keamanan, karena dia yakin yang menelefonnya adalah Galuh. Setelah beberapa lama menunggu di bilik kantor keamanan, tiba-tiba terdengar suara pak Mahmud,

“Hid, ini telfon untukmu,!”

“Iya pak” jawab Zahid sambil menghampiri pak Mahmud yang menyerahkan hp. Dan tanpa membuang waktu Zahid langsung membuka percakapan,

“Assalamualaikum, dengan siapa ini?

“Waalaikumsalam, aku Galuh hid, maaf ya hid, aku kemarin pulang ngggak pamit sama kamu”

“Heh, Maaf? begitu ya sekarang kamu, seenaknya sendiri,”

“Dengerin dulu dong hid, jangan keburu marah, aku pulang itu karena ada masalah yang sangat mendesak hiid,”

“Ya jangan keterlalauan dong, apa susahnya sih pamit, emang masalahnya apa?”

“Maaf lah, aku nggak pingin ngrepotin kalian semua, Ibuku masuk rumah sakit hid,”

“Haaah, Innalillahi wainna ilaihi roji'uuun,, sakit apa luh?” Tanya Zahid dengan nada keras campur kaget, sampai-sampai pak Mahmud ikut kaget dan menyeruak

“Hiid!! Jangan teriak-teriak kalo telefon, bikin kaget saja!!”

“Oh iya, maaf pak”

“Ada apa hid?” tanya galuh.

“Itu,, pak Mahmud menegurku karena terlalu kencang bicaranya. eh, ngomong-ngoamong Ibumu sakit apa luh?”

“Anu hid,, ibuku sakit kanker otak satadium awal hid, kemungkinan aku gak bisa kembali ke pondok lagi, adik-adikku yang masih kecil nggak ada yang ngurusin di rumah, dan aku mau minta bantuan kamu untuk sementara urusin barang-barangku yang ada di sana ya, ”

“Lho, lho, lho!!!!! Jangan gitu kamu luh, kok seenaknya kamu boyong,” jawab Zahid yang kaget dan tidak percaya.

“Ya nggak gitu hid, mau bagaimana lagi, kasihan adik-adikku. Ya sudah dulu hid, aku minta tolong yang tadi, jangan lupa ya!! Udah deh, nggak usah di anggap berat persoalanku ini, kamu nyantai aja, aku hanya minta doanya!! Assalamualaikum”

“Waa, waaalaikum salam” Zahid menjawab salam dengan keadaan kurang percaya dengan apa yang telah di ucapkan oleh Galuh.

Dengan keadaan gontai Zahid kembali ke asramanya, karena dia menganggap apa yang telah dikatakan Galuh adalah pukulan telak baginya, dia tidak bisa melawan ucapan Galuh, karena pertimbangannya adalah kehidupan keluarga yang broken home. Zahid bingung bantuan apa yang tepat di berikan kepada temannya itu supaya dia tetap bisa melanjutkan sekolahnya yang sesungguhnya sudah hampir tamat. Sejujurnya Zahid merasa bangga dengan keputusan yang di buat oleh Galuh. Di satu sisi dia juga iba kenapa di saat akhir-akhir seperti ini ada halangan yang begitu berat yang harus di tanggung oleh Galuh. -Bersambung

(Nizam)




Teman Ya Saudara | Part 3 Teman Ya Saudara | Part 3 Reviewed by Feno Blog on Juni 07, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.