Teman Ya Saudara | Part 4-Selesai




Kamu Sedang Baca Bagian 3. Baca Kelengkapan Kisah Ini:
>Part 1
>Part 2
>Part 3




Saat Zahid melamun di depan asrama, dia tiba-tiba ia teringat pada sosok wali kelas madrasah diniyyahnya yaitu ustad Hamid,dia ingin meminta pendapat ustadz Hamid tentang masalah yang sedang menimpa teman karibnya tersebut, mungkin ada solusi tepat untuk mengatasi masalah Galuh,

”Ustadz Hamid mungkin bisa memberi solusi tepat untuk apa yang sedang di alami oleh Galuh, baiklah, nanti sore aku akan menemui beliau.” gumamnya dalam hati.

***

Di lain tempat, Galuh dan adik-adiknya masih berada di rumah sakit menunggu ibunya yang masih tak berdaya di kamar Dahlia no 04. Dalam keheningan itu Galuh memberi sedikit rasa nyaman kepada adik-adiknya,

“Tenang saja, ibu insyaalloh baik-baik saja, Zahra dan Nia harus sering mendoakan ibu ya ketika sholat, supaya ibu lekas sembuh” ucapnya sambil tersenyum tipis

“Iya kak, insyaalloh kami selalu mendoakan ibu setiap setelah solat” sambung Zahra dan nia

“Bagus, ini baru adik-adik kakak”

Setelah diopname selama empat hari dan belum ada perkembangan signifikan untuk keadaan ibunya dan juga biaya rumah sakit yang semakin bertambah, Galuh mulai merasakan keputus asaan. Untung saja ibunya mempunyai asuransi kesehatan dari tempat beliau bekerja, itupun ternyata hanya menyisakan pengobatan untuk dua hari saja. Galuh semakin bertambah bingung.

Di saat itu pula ternyata Zahid di pondok sedang menggalang dana dari teman-temannya untuk membantu Galuh dengan bermodalkan kardus bekas mie instan yang bertuliskan “dana bantuan untuk Galuh”. Setelah selesai berkeliling asrama dia istirahat sambil menghitung banyaknya sumbangan yang di dapat, ternyata cukup banyak juga. Dan di saat itu jarwo bertanya kepada Zahid,

“Ide siapa ini hid, kok tiba-tiba kamu keliling asrama mencari sumbangan untuk Galuh?”

“Ini ideku dan diizini oleh mustahiqku, pak Hamid. Ini untuk meringankan beban Galuh, beliau iba dengan keadaan Galuh. Lagi pula beliau juga tak ingin Galuh tak lulus sekolah diniyyah, padahal kan tinggal beberapa bulan lagi ujian akhirnya. Oleh karena itu aku coba meminta solusi sekaligus izin sama pak Hamid untuk keliling meminta sumbangan untuk Galuh, dan beliau pun menyetujuinya, gitu,”

“Owalah hiid, hid, kamu memang teman yang benar-benar teman, aku salut sama kamu”

“Ah, biasa aja wo, diakan memang temanku, jadi wajarlah kalau aku membantunya .”

Dan tiba-tiba, Sukandar bergumam,

“Hid, kalo cuman satu asrama yang dimintai sumbangan apa nggak kurang to?” ujar Sukandar

“Lha Gimana ndar?” sahut Zahid.

“Ya sudah, aku tak cari teman-teman sekelas diniyyah kita, sekalian suruh bantu keliling pondok biar dapatnya lebih banyak.”

“Waaah ide cerdas tuh ndar, makasih bantuannya.” Sahut Zahid dengan nada gembira.

***

Setelah Enam hari berada di rumah sakit ternyata ibu Galuh semakin membaik, dan Galuh ternyata sudah memutuskan untuk tidak kembali ke pondok karena alasan tidak ingin merepotkan ibunya lagi, dan ingin membiayai adiknya yang masih duduk di SMP dan SD dengan mengolah kreatifitas yang sudah di dapatnya di pondok.

Di pagi hari itu pula ternyata Zahid berangkat ke surabaya menuju rumah Galuh untuk mengantarkan sumbangan teman-teman dan mengajak Galuh kembali ke pondok, setidaknya sampai wisuda kelas akhir dan perguruan tinggi.

Setelah sampai di Surabaya, Zahid langsung menuju alamat rumah Galuh yang di dapatnya dari database pondok. Ia tiba di rumah Galuh saat sore hari. Dan setibanya di depan rumah ia langsung mengucapkan salam,

“Assalamualaikum, Assalamualaikum.”

Dan akhirnya di jawab oleh adik Galuh yang masih SD yaitu Nia,

“Waalaikum salam.”

Setelah di bukakan pintu oleh Nia, Zahid langsung bertanya keberadaan Galuh,

“Mas Galuhnya ada Dek?”

“Mas Galuh Masih belum pulang Kak, Tapi kayaknya sebentar lagi juga pulang.”

Dari pintu belakang terdengar suara orang berjalan, dan ternyata itu adalah ibu Galuh,

“Temanya Galuh ya?” Tanya ibu Galuh. “Silahan masuk, tunggu sebentar Galuh pasti sebentar lagi pulang.”

“Oh iya buk, terima kasih.”

Setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya teman Zahid itupun datang. Ia sangat terkejut melihat teman mondoknya ternyata sudah berada di rumahnya, Galuh sedikit terteteh-teteh saat bicara. Dia tak menyangka teman mondoknya ini rela jauh-jauh berkunjung ke rumahnya. Dengan sedikit menghela nafas Galuh coba bertanya kepda Zahid,

“Hid!! wah, benar-benar nekat kamu, ada perlu apa kamu kesini, aku kan sudah bilang aku nggak akan balik ke pondok lagi.” Seru galuh dengan nada tinggi, “mungkin aku kesana tinggal mau sowan pamitan boyong, itupun entah kapan.”

“Jangan ngotot-ngotot gitu dong kalau bicara, niatku kesini itu pingin ngajak kamu ke pondok lagi. Temen-temen yang lain juga berharap kamu kembali ke pondok, tinggal satu bulan lagi ujian diniyyah lho. Ayolah luh, sebentar lagi juga ujian skripsi, rugi dong kamu susah payah ngerjain skripsi kalo nggak jadi sarjana. Setidakanya selesaikan ujian, setelah itu kamu pamit pulang gak apa-apa. Toh kamu juga belum pamitan sama romo yai kan?”

“Bukan itu masalahnya, coba bayangkan, siapa yag ngurus ibuku di rumah?”

Zahid terdiam, ia tak bisa berkata apa-apa, dan tiba-tiba terdengar suara ibu Galuh yang sedari tadi mendengarkan pebincangan anaknya,

“Galuh, kamu selesaikan dulu mondok dan sekolahmu, insyaalloh ibu tidak apa-apa, toh adik-adikmu juga tidak ada masalah di sekolah. Dan juga untuk urusan keuangan bulan-bulan ini insyaalloh tidak ada masalah. Kalau memang sudah selesai barulah ibu izinkan kamu untuk membantu ibu. Benar kata temanmu ini, tahap yang kau hadapi ini adalah tahap yang sangat menentukan. Jika kamu menyerah di kesemptan yang tinggal sedikit lagi selesai ini, ibu takut, rasa menyesalmu akan terus muncul sampai tua nanti, setidaknya selesaikan dan setelah itu tataplah masa depan.”

“Iya luh, aku kesini pun ingin menyamapaikan salam dari wali kelas kita kepadamu. Kata beliau jangan menyerah di tengah jalan, kita masih punya Allah yang selalu memberi kita ketabahan, dan kita masih mempunyai teman yang siap membantu di setiap waktu, ukhuwah islamiyyah itu di bangun bukan sekedar pertemanan tapi juga kepedulian. Jadi jangan khawtir, insyaalloh kalau kita mau bicara dan terbuka pasti ada jalan keluar, seperti itu luh kata beliau. Dan ini ada titipan dari anak kelas kita serta teman-teman pondok mungkin bisa membantu yang di rumah dan sebagian untuk menyelesaikan kekuranganmu di pondok.”

“Ya allooooh, kok sampai seperti ini to hid, ini ulah siapa coba?

“Hehe, ini saran ustadz Hamid. Aku, Sukandar dan teman-teman kelas kita yang keliling pondok.”

“Kamu itu memang benar benar akhun fillah hid.”

“Sudah-sudah, jangan terlalu dramatis-dramatis, ujung-ujungnya nanti kayak sinetron lo, haha!”

Dan pada akhirnya Galuh kembali ke pesantren Nurul Iman, setelah sekitar satu bulan akhirnya dia dapat menyelesaikan diniyyah dan kuliahnya, dia pamit untuk boyong dengan alasan ibunya sendirian mengurus adik-adiknya di rumah. Dan akhirnya KH. Mahfudz Farhan mengizinkannya. Sedangkan Zahid di terima untuk meneruskan pascasarjana ke Jordania, keduanya berjanji untuk terus menjaga persaudaraan yang sudah dibangun sejak mondok tersebut. Mereka menganggap teman itu ya saudara, saudara ta teman. Setelah sama-sama menjadi alumni keduanya sering bertemu atau reuni saat acara haul ataupun khataman ihya'. Keduanya sukses dengan di bidangnya masing-masing. Zahid menjadi dosen universitas di daerahnya dan Galuh akhirnya sukses menjadi wirausahawan dan kedua orangtuanya akhirnya bisa bersatu kebali. (Nizam Fahmi)



--<The end>--
Teman Ya Saudara | Part 4-Selesai Teman Ya Saudara | Part 4-Selesai Reviewed by Feno Blog on Juni 07, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.