Antara Cinta dan Cita-cita | Tinta.Hikmah

antara cinta dan cita-cita


Apa argumen anda mengenai dua opsi tersebut? Mungkin saja jawabannya berbeda-beda. Teman saya bernama Fiky pernah berkata, bahwa cinta itu bisa membuat kita menjadi buta akan segala hal. Artinya ia hanya berusaha memfokuskan pada satu hal, tanpa memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, biasanya ia juga tak menghiraukan ucapan orang lain selain yang dia cintai. Contoh: “ngendeng hafalan nadzoman”. Ngendeng (red: nggentur) hafalan ini merupakan sebuah tradisi yang dilakukan oleh sebagian santri Blokagung ketika sudah mendekati acara Haul Masyayikh. Jika ia berhasil hafalan, maka sukses naik kelas, dan Jika tak berhasil, ya… sepurane ae rek! Tinggal kelas maneh ae… dan saya sarankan jangan meniru adegan seperti ini. Wkwkwkw…. 

Orang bercinta, itu lebih memilih duduk bersama kekasihnya ketimbang duduk bersama orang lain. 

Dulu, pada saat saya masih duduk di bangku SMA, saya pernah menanyakan tentang 2 opsi diatas kepada salah satu teman cewek di kelas. Sebut saja namanya Zay (samaran). Kira-kira potretnya seperti ini. 

“Mbak, antara cinta dan cita-cita itu ada apa ya?” tanyaku. 

“…(Gayane miker)… kayaknya ada aku dan kamu deh!” jawabnya sambil cengengesan. 

“Kok bisa?” tanyaku. 

“Iya, biar kamu rindu padaku…” jawabnya. 

“Jangan, rindu itu berat!!! Biar saya saja…” wkwkwkwk (so' swiiit). 

Dalam hal ini guru saya pernah menasehati. 

“Le… antara kata cinta dan cita-cita itu yang membedakan adalah huruf “N”. Ia mempunyai 2 ma'na yang berbeda. N yang pertama berma'na Nur (cahaya). Semisal sampean cinta dengan ilmu Nahwu Jurumiyyah, bahkan saking cintanya, kamu rela membuka pelajaran Nahwu baik siang maupun malam. Nah, di situ berarti kamu mendapatkan Nur dari Allah SWT, yaitu Nur untuk memahami ilmu Nahwu. Dan syukur-syukur jika kamu sampai hafal dan faham Nadzom Imrithy dan Al-Fiyyah. Sebab, dengan begitu, pintu kesuksesan (cita-cita) selalu ada di depan matamu. Tinggal melihat seberapa usaha dan kesungguhanmu dalam belajar. “ 

Akan tetapi, hukum sebaliknya tetap berlaku. Artinya, jika kamu salah mengambil langkah jalanmu, maka “N” akan berubah menjadi ma'na Nar (neraka). Semisal kamu hafalan Nadzoman dengan beranggapan bahwa, dengan berpacaran saya pasti bisa lebih cepat menghafal nadzoman Imrithy dan Alfiyyah, maka anggapan ini sangat keliru. Yang ada, hafalan Nadzoman Al-Fiyyah tidak akan tersimpan dalam ingatan. Yang ada malah kepikiran mbak Alfiyah terus-terusan. 

Kenapa bisa demikian? Kerena cinta itu sendiri mempunyai 3 faktor utama. Sebagaimana yang sudah dinukil dalam kitab Nashoihul 'Ibad, kalau nggak salah sih hal 18 baris ke 11 dari atas, kurang lebihnya begini: 

Orang bercinta, itu lebih memilih ucapan kekasihnya ketimbang ucapan orang lain. Sehingga ketika gurunya menasehati, seolah telinganya enggan untuk mendengar. 

Orang bercinta, itu lebih memilih duduk bersama kekasihnya ketimbang duduk bersama orang lain. Ini sudah sangat terbukti. Banyak di antara mereka yang berpacaran (bercinta) lebih bersemangat ketemuan, janjian nonton film Dilan, malmingan, daripada masuk diniyyah, ngaji bareng kiyainya, dll. 

Orang bercinta, itu lebih memilih kerelaan kekasihnya ketimbang kerelaan orang lain. Semisal begini, manakah yang kamu pilih antara kekasih minta untuk dibeliin kalung dengan permintaan mustahiq dan Kyai untuk ro'an mengangkat pasir dan koral? Mana yang akan gasik sampian dahulukan? 

Oleh karena itu, janganlah mau berpacaran sebelum kamu hafal al-Qur'an 30 juz!!! Eits… saya tambah lagi, jangan mau perpacaran kalau tidak mau menikahinya. Bercita-cita tinggi saja tak akan sempurna tanpa didasari dengan bersungguh-sungguh. Makannya, bersungguh-sungguhlah kamu dalam belajar, karena barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkan hasilnya. Camkanlah nak pesan gurumu ini…. 
Antara Cinta dan Cita-cita | Tinta.Hikmah Antara Cinta dan Cita-cita | Tinta.Hikmah Reviewed by Feno Blog on Juli 23, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.