Barokah Iku Penting | Zulfa



"Belajar iku penting, barokah yo penting. Uduk seng penting barokah. Belajar lan barokah iku kudu seimbang." 


Eksistensi barokah di kalangan santri memang sudah menjadi wabah pemikirannya. Bahkan menjadi virus yang terus mengontaminasi. Ironisnya, saat seorang santri berkata, "Yo wes lah kang, gak opo-opo aku ngene iki. Isoku yo mung ngene kate piye maneh, seng penting barokah!" Banyak kan kasus kayak gini. Sek sek sek, kok gak pati percoyo aku. Kalau saya boleh mengatakan itu hanyalah ujaran orang malas belajar, merasa pesimis, dan tidak bertanggung jawab atas apa yang dia punya. Iyo po ra ? (Team pro, takbirr......! Wkwkwk) 

Sebelum ke poin inti, kita ulas terlebih dahulu apa itu barokah, kok barokah bisa muncul? Wes langsung ae. Kalau di kamus karya Mbah Ali Warson Munawwir, barokah adalah memperoleh nikmat kebahagiaan. Sedangkan dalam arti terminologi (baca, pandangan penulis) adalah hasil suatu aktifitas yang ditekuni di masa lampau (pas sek nyantri) sehingga membuahkan hasil yang memuaskan. 

Oke, saya setuju bangetlah dengan definisi itu. Tapi yang gak saya setujui (grundel) yaitu ungkapan santri tadi, "Seng penting barokah." Beh jan koyok opo ae. Saya ulangi lagi, itu hanyalah ujaran orang malas belajar, merasa pesimis, dan tidak bertanggung jawab atas akal yang diberikan. (Team pro , takbir!!! Team kontra woles disek yo...! urung mari iki). 

Memang benar dia melakukan aktifitas lain yang sekiranya mampu lalu dia tekuni. Tapi kok yo kenemenen, mikire cupet banget, lha manusia diberi akal untuk berpikir membedakan antara positif dan negatif serta kita diberi kekuatan untuk melakukan perihal yang mampu kita lakukan dan bisa dirasionalkan. Padahal yo podo mangan segone, mung dewe ae seng males. Beh-beh wes panas koyoke. Mosok wes puncak klimaks? Durung lah!. Saya sarankan, stop berujar "Seng penting barokah." 

Kyai Kholiq pernah dawuh, "Belajar iku penting, barokah yo penting. Uduk seng penting barokah. Belajar lan barokah iku kudu seimbang." Hyuuh kapokmu kapan? Belajar atau thalabul ilmi itu kan wajib. Mana ada yang melebihi barokahnya ilmu. Dalam kitab Ihya' sudah sangat jelas sekali dituturkan bahwa orang-orang berilmu paling tinggi derajatnya. Bahkan ulama adalah pewaris para Nabi. Barokah itu gak diukur dengan materi boss, sugih lek gak tentrem, pak-pok, sami rawon broo..! 

Coba kita teliti, jika orang berilmu pasti akan bisa mengalokasikan apa yang kita punya dengan pikiran matang. Bagaimana konsekuensinya ketika bertindak atau melakukan ini, itu dan lain sebagainya. Semua itu pasti ada solusi tersendiri bagaimana cara dia mengarahkannya. Wes kang, mbak! Asal terciptanya manusia sebenarnya diberikan kodrat yang sama, diberi akal untuk berpikir. Hanya saja bagaimana kita menggunakannya, untuk apa akal itu? Buat tindakan positif atau negatif. Karena manusia itu diberi kesempatan memilih (ikhtiyar) melakukan sebuah tindakan. 

Kalau boleh saya katakan, masalah belajar bukan berarti kita harus ngadep kitab atau buku. Kita bisa belajar dengan cara lain yang mungkin bisa bermanfaat bagi kita. Tinggal kita aja pinter-pinter mikir mana yang bisa diambil ilmu atau bukan. Tapi ya ojo salah tompo sek. Hasil pasti sesuai usaha lah. Bukan berarti semuanya sama. Kita lihat dulu bagaimana sengsorone wong golek ilmu ngadep kitab utowo buku direwangi melekan, ngunu yo urung tentu paham kabeh. Hahaha.... 

Wes lah, sepurane yo seng kesungging, eh kesinggung woles ae jangan antagonis. Ingat pesannya Mbah Yai Syafa'at, “Openono barang kang ono mongko bakal maujud barang kang ora ono yaiku barokah.” So, lakukanlah apa yang kamu bisa. 

Barokah Iku Penting | Zulfa Barokah Iku Penting | Zulfa Reviewed by Feno Blog on Juli 17, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.