Cak Rusdi | Indikasi Suargo



Nama aslinya Rusdi Amrulloh. Terkenal sebagai penulis dengan nama pena Rusdi Mathari. Aku tak mengenal siapa Cak Rusdi. Dan yang pasti, tentu saja Cak Rusdi tak mengenalku. Yang aku tahu, dia hanyalah seorang wartawan kawakan yang rajin menulis cerpen bertema tasawuf di setiap bulan Ramadan. Berkat tulisan-tulisan Cak Rusdi yang dalam dan sarat makna, aku menyukai salah satu website anak-anak Jogja: Mojok.co

Tulisan Cak Rusdi selalu saja sederhana. Berkisah tentang keseharian masyarakat desa yang apa adanya. Hanya saja, di setiap sisipan kalimatnya, selalu ada saja makna-makna yang amat dalam terselip rapi. Tentunya, Cak Rusdi tak ingin karyanya terlalu berat dipahami orang awam sepertiku. Sejak dua tahun terakhir, di setiap bulan Ramadan, aku rajin membaca kisah cerpennya. Tentang Cak Dlahom, Mat Piti, Romlah, Dullah, Busaeri, dan tokoh lain yang dibuat olehnya.

Semula, aku mengira dia adalah anak pesantren yang berkelana ke dunia tulis menulis. Dengan modal mesantrennya, lantas Cak Rusdi ingin mengenalkan dunia tasawuf ke masyarakat awam melalui cerita sederhana.

Dan ternyata aku salah. Dia adalah anak SMA biasa. Hidup tanpa dan jauh dari dunia pesantren. Melalui kehidupan ala pemuda yang penuh warna. Bahkan, menurut teman-temannya, dia adalah peminum, anggota geng, suka berkelahi, dan anak rock and roll. Pasti kamu bisa menebak lah kira-kira bagaimana kesehariannya. Tapi itu adalah Cak Rusdi yang dulu. Sebelum kisah ini:

Suatu hari, ia dan beberapa orang kawan yang baru saja minum-minum, pulang ke kosan. Rusdi yang merasa kepalanya seperti digantung batu berukuran besar, memutuskan untuk langsung tidur. Yang tak diketahuinya, beberapa orang kawannya membawa seorang perempuan.

Beberapa penduduk kemudian menggerebek mereka. Rusdi yang sedang tidur turut kena ciduk. Ia bingung, tentu saja. Mereka dibawa ke kantor polisi. Seorang wartawan kemudian menulis kejadian itu dengan bombastis, bahwa sejumlah mahasiswa perantauan pesta seks, alkohol, dan narkoba. Rusdi marah besar, sebab itu kabar bohong. Ia mencari wartawan itu dan menantangnya berkelahi. Mereka berkelahi, dan Rusdi berhasil menghantam wartawan itu hingga tersuruk ke selokan.

"Wong lanang iku kadang perlu gelut, Ran. Harga diri itu harus dibela," katanya.

Rusdi lalu minggat dari kampus dan merantau ke Jakarta. Ia memutuskan jadi wartawan yang memegang teguh prinsip. Ia pantang menulis berita bohong dan terburu-buru, seperti wartawan yang ia gebuk.

Dan sejak itu, kehidupannya pun berubah. Dia benar-benar menjadi wartawan yang handal. Melalui gaya menulis yang sederhana, dia bebas menuliskan apa saja. Satu hal yang menarik dari Cak Rusdi, dia suka menulis hal-hal yang sederhana, yang sering dilupakan banyak pihak. Termasuk kisah-kisahnya tentang Cak Dlahom. Kalau kamu pernah membaca cerpen-cerpen Gus Mus -semisal Kang Kasanun, Gus Jakfar, Amplop Abu-Abu-, maka cerpen tentang Cak Dlahom tidak jauh seperti itu.

Bahkan, aku rela mencopy semua file tulisannya dan mengumpulkannya dalam satu folder. Aku menamainya folder Nyufi. Folder itu merupakan kumpulan tulisan Cak Rusdi selama dua edisi Ramadan. Jumlahnya ada sekitar 28 tulisan. Belakangan, aku mendengar kabar bahwa kumpulan cerpen yang dia tulis di mojok.co itu kini telah dibukukan dengan judul: “Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura.”

Entah mengapa, walau aku sudah mengerti kalau Cak Rusdi adalah mantan peminum, tetap tak surut rasa kagumku kepadanya. Justru, bagiku itu hal yang hebat. Cak Rusdi bukanlah anak kiai, tidak pernah nyantri, dan sudah pernah terjebak dalam glamornya kehidupan duniawi. Hebatnya, kini dia sudah taubat dan menjauh dari masa lalu kelamnya. Jadi seandainya Cak Rusdi benar-benar membenci kehidupan dunia, itu semata karena dia telah merasakan hidup di dalamnya. Istilahnya, dia adalah orang lapangan. Pernah melihat dengan mata kepala sendiri dan bahkan merasakan dengan indra sendiri.

Sedangkan aku? Hanyalah orang yang mendengar dari kiai bahwa kehidupan dunia itu sementara, jangan sampai mudah tergoda! Itu adalah jebakan syetan! Awas, khomr itu haram! Kita harus berlomba meraih pahala amal akhirat! Dan nasehat-nasehat yang biasa aku dengarkan di depan dampar-dampar pengajian dan kubaca dalam lembaran kitab karya ulama para tauladan.

Aku pun tak mengerti. Jika kelak Allah mengujiku dengan cobaan kehidupan dunia, aku akan kuat bertahan atau malah terjerumus ke perbuatan yang akan berujung siksaan. Na'udzubillah. Baiklah, memang sekarang anggaplah aku baik-baik saja. Dalam dunia sederhana yang setiap harinya selalu menuntutku untuk beramal baik. Mengaji, sholat berjamaah, sekolah, kuliah, dan kegiatan lain yang untuk saat ini berhasil mengalihkan fokusku.

Kalian tak perlu terpana kala melihat santri jauh dari mabuk-mabukan, main kimcil, balapan motor dan kehidupan kotor lainnya. Mengapa? Ya karena mereka tak mendapatkan fasilitas ke arah sana. Mereka dikekang dalam lokasi yang sulit untuk ditembus, dengan aktifitas padat yang bikin ide-ide nakal tak bisa berhembus.

Baru, kalian boleh terpana kala melihat anak luar (non pondok) bisa aman dari mabuk-mabukan dan sejenisnya. Mengapa? Yaps. Karena mereka sebenarnya punya fasilitas untuk ke arah sana, tapi mereka enggan melakukannya. Entah karena memang kere, nggak payu, atau karena memang murni enggan melakukan kemaksiatan.

Dan bagiku, yang lebih membuat terpana adalah mereka yang pernah terjebak dalam kehidupan malam dengan budhu'-budhu' gratisan, nge-fly bersama teman, mabuk-mabukan, bercengkrama sepanjang malam dan melalaikan tahajudan, dan kini telah berhasil hijrah. Melupakan kehidupan kelamnya dan bersiap menatap masa depan cerahnya. Mereka justru biasanya lebih rajin beribadah daripada kita. Mereka benar-benar merasa bersalah atas perbuatannya selama ini, bersungguh memohon ampunan, dan semangat memburu ganjaran. Seperti Cak Rusdi misalnya. Sumpah! Orang kayak mereka benar-benar keren.

***

Sayangnya, kabar yang tak disangka-sangka kini telah berhembus jua. Seminggu lalu, Jum'at 02 Maret 2018, Cak Rusdi telah dipanggil untuk menghadap Sang Kuasa. Cak Rusdi kini tak lagi kuasa melawan kanker yang menggerogotinya sejak setahun terakhir. Prediksiku, banyak yang bakal rindu kepadanya. Kepada Cak Dlahom dan kisah-kisah yang telah dibuatnya.

Cak Rusdi, walaupun kau tak mengenalku, dan akupun tak pernah bertemu denganmu, aku ucapkan terima kasih atas karya-karyamu yang telah menyegarkan Ramadanku. Semoga itu menjadi salah satu kado istimewamu kepada Allah di hari penimbangan amal kelak.

Untuk tokoh keren kita yang satu ini, sejenak kita merundukkan kepala sembari mengucapkan doa duka cita. Al-Fatihah.
Cak Rusdi | Indikasi Suargo Cak Rusdi | Indikasi Suargo Reviewed by Feno Blog on Juli 23, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.