Dalam Diam (End) | Kabut.Jingga



 21 April. Hari yang akan selalu kuingat sapanjang sejarah hidupku. Di mana aku gelisah di kamarku. Semua oorang menyaksikan ijab qobul di rumah depan. Aku memutuskan untuk tidak keluar. Biar. Biar aku menantinya di sini. Waktu terasa lama berlalu. Kenapa dia tidak juga datang?? Apa dia tidak lancar mengucapakan kalimat qobul?? Apa dia lupa berapa jumlah maharnya?? Huff… Abi… 

Tik. Tik. Tik. Detik di jam dinding terus berjalan. Setiap satu detiknya menerkam aku dengan rindu.

Krek… pintu dibuka. Ia masuk tanpa salam.

“Abi!” seruku berlari memeluknya. Erat. Menangis. Hei, ada apa denganku?? Dia tetap mematung. Tidak balas memeluk.

Merasa kepedean, akhirnya kulepas. Kulihat wajahnya. Dia tersenyum, menampakkan giginya yang rapi.

“Ada…. Aqua?” tanyanya menatapku.

Kupukul dadanya. Huh, menyebalkan. Dia tertawa. Kami duduk di tepi ranjang. Diam. Tik. Tik. Tik.

Detik jam kembali berdetik. Tak tau harus bicara apa.

“Kau menantiku ya?” tanyanya. Ya iyalah!!

“Kau menyukaiku dari dulu ya?” tanyaku tak mau kalah.

Dia tertawa.

“Baru sadar ya?” tanyanya. Aku manyun.

Dia menggapit tanganku.

“Bu.” panggilan itu kini mendesirkan hatiku. “Aku sudah membuktikkan kalimatku. Aku sudah mutakhorijin, menggapai seluruh cita-citaku lalu datang padamu. Dan Tuhan berbaik hati mengabulkan semuanya. Aku mencintaimu sejak Tuhan menghadirkan dirimu dalam hariku. Tapi aku memilih bersabar, membiarkanmu nandang tresno pada yang lain. Maaf, hanya bisa mencintaimu lewat do'a, merindukanmu lewat malam kelam. Tapi sekarang, aku akan mencintaimu dalam arti sebenarnya. Izinkan aku jadi imammu,” tuturnya.

Aku sudah meringis terharu. Kembali kupeluk dia.

“Tapi Bu, aku pernah baca kalau ada orang bilang 'izinkan aku jadi imammu', jangan seneng dulu. Imam itu biasanya ma'mumnya banyak lho.” katanya santai. Langsung kulepas pelukannya. Kucubit perutya. Dia berteriak-teriak.

“Tapi ma'mumku cuma sampean, Bu.”

“Bohong!”

“Beneran!”

“Nggak percaya!”

“Apa perlu tak kentutin biar kentut sendiri yang menjelaskan??!”

Aku tertawa. Memeluknya semakin erat.

*** Baca Kisah Sebelumnya: Dalam Diam VI***

Kuraih buku kecil milik suamiku di atas meja kecil. Dia sedang wudlu untuk shalat malam. Kubuka dan kubaca tulisan di dalamya.

Jika Tuhan tidak menjodohkanmu dengan orang yang namanya diam-diam kau sebut dalam do'amu, maka mungkin saja Tuhan akan menjodohkanmu dengan orang yang diam-diam menyebut namamu dalam do'anya. Abiyasa Bagaskara-Nisfu Syahira.

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Abi-ku keluar dengan wajah penuh tetesan air wudlu. Aku langsung memluknya. Dia mendengus pasrah.

“Huhh… Batal lagi-batal lagi. Kenapa sih paling seneng meluk aku?”

“Terimakasih sudah diam-diam menyebut namaku dalam do'amu selama ini.” Kataku.

“Iya, sudah kumaafkan.”

Aku mendongak.

“Apanya yang dimaafkan??” tanyaku.

“Kesalahanmu. Yang selama ini tidak pernah menyebutku dalam do'a selama ini.”

Aku tertawa.

“Aku melepas pelukan menuju meja kecil. Kuraih handphone di atasnya.

“Bener ini dengan Mbak Nisfu?”

Aku mengernyitkan dahi.

“Ini Zura, mbak. Maaf tidak pernah menghubungi. Nomorku hilang. Ini nomor Mas Fika. Kami sudah menikah tiga bulan yang lalu. Maaf tidak mengundang. Takut mengganggu kesibukkan penulis novel yang padat jadwal. Kudengar hari ini Mbak menikah dengan Mas Abi. Semoga menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah wa Rohmah . Amin...”

Aku terpaku di tempatku…

***

TAMAT
Dalam Diam (End) | Kabut.Jingga Dalam Diam (End) | Kabut.Jingga Reviewed by Feno Blog on Juli 14, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.