Dalam Diam (VI) | Oleh Kabut Jingga

cerpen santri dalam diam

“Nduk?”

“Oh iya, Ibu."
"Insyaallah, minggu besok.”

“Memangnya siapa?”

“Katanya temanmu kuliah dulu. Anaknya baik, ramah, dan sederhana”

Deg. Aku tercenung sebentar. Membaca sms itu berulang kali. Siapa? Mungkinkah dia?. Lama sekali aku sudah mengabaikanya. Hatiku sudah berlumut, tak punya waktu untuk membersihkannya, untuk sekedar melihat sebuah nama yang terukir disana.

“Namanya bu?” bergetar tanganku mengetiknya. Tak lama, Hpku bergetar. Tak berani membuka. Kulihat keluar jendela kamarku, disana ada pohon sengon. Tuhaaan...

Kuraih. Kubuka. Daaan... “Abiyasa Bagaskara. Kau kenal.”

Aku membisu terbungkam antara tak percaya dan bingung.

Abi?

*** Baca Kisah Sebelumnya: Dalam Diam V***

Aku terdiam di atas sajadahku. Tiba-tiba rasa rindu menyeruak menyusup ke sela- sela sel-sel darahku. Puluhan memori terputar dalam ingatanku. Tentang seorang lelaki dengan sarung dan sweaternya yang lusuh. Jambulnya yang menyembul dari kopiah. Laki-laki baik yang selalu membuat orang lain tertawa. Laki-laki ceria dan punya semangat tinggi, meski kadang berbuat bodoh dan cengar-cengir. Satu-satunya lelaki yang memanggilku 'bu guru' karena pernah kuajari cara mengedit makalah.

Abi.. aku kangen. Sangat kangen.

Darimana kau dapat alamatku? Kenapa kau membawa orang tuamu? Kenapa kau berani sekali meminang gurumu sendiri? Bagaimana kabarmu, bi? Masihkah seperti yang dulu?

Saat kuangkat kedua tanganku, meneteslah seluruh air mataku. Tak sanggup kusebut nama itu. A-B-I-Y-A-S-A B-A-G-A-S-K-A-R-A. Tak mampu kuucap doa apapun. Hanya bisa mengingat tatapanya terakhir kali sebelum jarak dan waktu jauh memisahkan kami.

“Bu Guru, terimakasih ya..”

Aku baru menyadari tatapan itu penuh arti. Arti yang akhirnya kumengerti kini.

Abi.. Aku rindu..

Perjalanku terasa sangat lama. Kecepatan bus yang kutumpangi terasa merangkak seperti kura-kura. Aku ingin segera berlari dengan kakiku sendiri. Tapi, ah! Tuhan…. Apa yang sedang kurasakan ini? Kenapa begini? Ah! Apa aku jatuh cinta? Pubertas ke berapa ini? Ibu… putrimu jatuh cinta. Dan sekarang tidak akan tinggal diam.

Sampai di rumah, kusandarkan semuanya di pundak ibu. Tidak tau ingin berbicara apa. Bagiku semuanya berlalu begitu cepat.

“Ibu rasanya ini hanya halusinasi? Apa Nisfu sedang mimpi indah karena terlalu sering menghawatirkan jodoh?” tanyaku. Ibu tertawa. Suaranya makin meringkih. Tapi tawa ibu tetap sama.

“Kamu memang mimpi nduk. Tapi kamu baru saja bangun dan mimpi itu kenyataan. Sudah, jangan kebanyakan berhayal, tidak baik untuk tulisan-tulisanmu. Persiapkan diri, besok Janoko itu akan datang kemari lagi.” Kata ibu.

“Apa ibu menyukai dia?”

“Jangan bercanda, ibu sudah punya bapak”

“Ibu... Bukan itu maksudnya.”

Ibu kembali tertawa.

“Suka. Suka sekali. Dia santun, bersahaja, lucu, dan insya Allah bertanggung jawab, menjadi suami yang baik untukmu.”

Aku tersenyum. Memerah malu.

***

Hari itu tiba. Ketika laki-laki yang disebut-sebut ibuku sebagai Janoko itu datang bersama rombongan keluarganya. Aku tak mampu membayangkan bagaimana pertemuan kami. Tak berani mengintip lewat jendela kamar. Hanya mondar-mandir di dapur. Sok sibuk mempersiapkan apa-apa. Ibu berkali-kali meledek tapi kucueki. Ah, ibu seperti tidak pernah merasakan seperti ini dulu.

“Ayo keluar. Antar tehnya.” Kata ibu. Aku merajuk-rajuk.

“Ibu sajalah…”

“Ibu juga keluar. Ibu bawa roti, lha tehnya suruh jalan sendiri?”

Aku melangkah. Bismillah. Ada tanya begitu besar. Seperti apa dia sekarang.

Dan aku masuk ke ruang tamu. Mencari-cari wajahnya pertama kali. Mata kami beradu. Sedetik cukup waktuku untuk melihat sama perubahanya. Mata berbinar, rambut tanpa jambul disisir rapi, wajah yang basah air wudu, baju koko yang rapi, ada sedikit jambang di dekat telinganya. Senyumnya tetap sama. Tidak manis. Dia menampakkan gigi rapinya. Aku ingin menangis, membuang nampan ini dan berlari memeluknya. Abi… beberapa hari kemarin aku begitu merindukanmu. Aku duduk di sisi bapakkku. Abi menunduk menatap plastik meja yang bergambar bunga mawar. Tatapnya begitu dewasa. Kedua orang tua kami bercakap-cakap begitu akrab. Sementara aku dan dia hanya diam menunduk, tak berani menatap satu sama lain. Dan tibalah pada pertanyaan itu.

“Bagaimana, nduk?” Tanya bapak. Aku bingung sebentar. Melihat seluruh yang ada di ruang tamu.

Bismillahirrohmanirrahim… Aku mengangguk pelan.

“Alhamdulillah…” suara itu menggema.

Kulihat Abi mengucap syukur sambil mengusap wajahnya lama. Aku terhenyak. Begitu bahagia terpancar dari wajahnya. Ia menoleh ke arahku. Tersenyum. Aku sungguh tak kuasa. Langsung merunduk.

***Bersambung Lagi***

Dalam Diam (VI) | Oleh Kabut Jingga Dalam Diam (VI) | Oleh Kabut Jingga Reviewed by Feno Blog on Juli 05, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.