Dalam Diam (V) | Oleh Kabut Jingga




“Kau ingat, Nduk??” Suara petir itu menyambar lagi. Aku berusaha lepas dari himpitan. Mencoba realita. Hatiku pecah jadi berkeping keping. Disolasi dan dipaksa untuk bekerja. Kepalaku mengangguk.

“Dia temanku. Namanya Dewi Azzura.” Suaraku terdengar hilang. Seketika ia menelungkupkan kepalanya saat mendengar nama itu. Tuhan.... beginikah rasanya? Aku ingin menangis. Tapi tidak mungkin.

“Berbulan-bulan aku menahan semua ini. Bertahan untuk tidak bertanya padamu, bertahan untuk menghapus bayanganya, bertahan untuk tidak ingin tahu namanya. Kukira itu hanya sesaat. Tapi semakin kemari hatiku semakin sakit karena dibohongi diri sendiri.” Lirihnya masih tertelungkup.

Aku mendongak kelangit. Seakan ia siap jatuh menimpaku. Awan-awan berarak menutupi langit yang kelabu.

“Nduk, bisakah kau membantuku? Bisakah kau membawa bidadari itu sebagai tabib hatiku??”

Kepalaku kupaksa mengangguk. Lalu menoleh ke samping. Kuseka air mataku.

*** Baca Kisah Sebelumnya di "Dalam Diam (IV)"***

Waktu terasa lambat bagiku. Aku ingin segera pergi. Aku berlari menghampiri ibu dan bapak. Jelas mereka segera bertanya mengapa air mataku berlinang. Aku hanya cepat tersenyum. Bilang perpisahan bersama teman-teman sungguh menyedihkan. Selanjutnya kami sowan-sowan, berpamitan dengan semua orang di pondok ini. Aku bertekad meninggalkan tempat ini, juga ribuan kenangan yang pernah terukir. Kupeluk Zura untuk yang terakhir kalinya. Dia tak bisa berhenti menangis. Mungkin aku mbak yang kejam. Sering meninggalkanya dan sekarang akan pergi tak kembali.

“Belajar yang rajin. Alfiyahnya cepat dilalar. Wisuda seribu nadzommu insyaallah mbak datang. Diniyyahnya harus selesai sampai ulya. Biar bisa kuliah lewat jalur mu'addalah. Ya?”

Dia mengangguk-angguk dengan air matanya.

“Oh iya, dengarkan Mbak Nisfu. Liburan besok, kalau ada laki-laki menghubungi nomermu, itu berarti temen Mbak Nisfu. Terserah kamu mau berteman sama dia apa nggak. Tapi perlu kamu tau, dia laki-laki yang baik. Ingin mengenalmu secara baik. Maafkan mbak sudah lancang memberikan nomormu padanya.”

Entah faham atau tidak Zura mengangguk sambil terus menangis. Aku menghapus air matanya lalu pamit pulang.

Selama perjalanan pulang, ganti aku yang menangis tersedu dipangkuan ibu'. ibu' menyelidiki berkali-kali. Aku bilang kenangan bersama teman sangat banyak dan tak terlupakan. Kesalahanku pada pengasuh begitu banyak tak terhitung, masa-masa diniyyah sangat membekas di hatiku. Tapi bukan ibu' namanya kalau langsung percaya begitu saja. Ibu' selalu tau putrinya sedang terpuruk, sedang tak kuat menanggung banyak beban. Ibu' bisa merasakan betapa hatiku hancur berkeping-keping. Dan kepingan itu rasanya menusuk anggota tubuh lainya. Ibu' terus bertanya sampai aku tak bisa berbohong lagi.

“Putri ibu' patah hati,” lirihku. Ada kelegaan yang luas saat kalimat itu kuucapkan. Akhirnya kukeluarkan semua yang menyumpal hati. Tangan ibu' membelai.

“Sejak kamu bertekad mencintainya dalam diam, seharusnya kamu juga bertekad untuk tidak takut kehilangan, putriku. Kau harus faham. Sesuatu yang kau cintai tidak mesti kau miliki. Tapi kadang manusia terlalu percaya diri. Selalu berambisi untuk memiliki yang dicintai, padahal, raga kita saja bukan milik kita. Jadi jangan sedih. Cinta dan memiliki adalah dua hal yang berbeda. Sekarang, kau tentukan langkah. Akan berdiam di sini atau berlari menggapai cita-cita? Masalah cinta, biar tuhan sendiri yang menetukan.”

Kuhapus air mata. Duduk bersandar di kaca jendela. Rinrik gerimis mulai turun, memberi isyarat bahwa akan ada hujan deras. Kucoba mengulas senyum tulus.

Tuhan, aku telah ikhlas melepasnya. Seperti mendung itu melepas anak-anak gerimisnya ke bumi karna ia tau kelak anak-anak itu akan kembali padanya.

***

Beberapa tahun kemudian...


Kekasih, dengarkan

Aku mencintaimu lebuh dari yang kau tahu

Aku tak butuh alasan atau pengertian

Hanya ingin diam, bersyukur, dan terus berusaha

Kekasih, dengarkan,

Aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana

Seperti air mengalir yang entah dimana muaranya

Terus, terus, dan terus mengalir

Seperti gunung es di lautan

Terlihat sepucuk di luar, namun betapa besar di dalam

Kekasih tolong dengarkan

Silahkan kau berkelana, mengenal banyak orang,

Mencintai satu di antara mereka, bahkan memiliki

Aku hanya ingin bersabar

Menanti waktu membawamu kemari

Karena cintaku padamu, adalah cintaNya kepada kita



Serentak tepuk tangan membahana di langi-langit aula. Aku mengakhiri puisiku. Tersenyum pada mereka. Mata-mata beliau yang mengobarkan semangat membara, remaja yang menggelora. Masa yang dulu pernah kulewati tanpa cinta. Mereka lebih beruntung karena lebih dahulu mngetahui pengertian cinta yang sejati.

Hari ini, aku berada di salah satu sekolah negeri di Jakarta. Bedah novel untuk kesekian kalinya. Kutatap mata mereka, kukatakan bahwa cinta adalah kepastian yang telah dilukis tuhan di catatan langit. Tak perlu risau, tak perlu buang-buang waktu. Karena dikejar ataupun tidak ia pasti datang suatu saat nanti. Saat ini terus belajar dan mengejar cita-cita dan harapan. Begitu kesan yang selalu kusampaikan saat bedah novel “Dalam Diam” karya terbaruku.

Sekali lagi mereka bertepuk meriah. Aku tersenyum. Memperbaiki moral bangsa salah satunya dengan memberi pengertian kepada pemudanya tentang cinta yang benar. Sehingga mereka tidak memiliki waktu luang untuk melakukan hal-hal negatif seperti kemirisan yang sering terjadi di negeri ini. Bismillah...... semoga aku bisa terus berkarya untuk negeri tercinta ini.

Acara selesai. Sekelompok remaja cewek menghampiriku meminta tanda tangan.

“Kak Nisfu cantik, apalagi dengan jilbab pink ini,” katanya polos. Aku tersenyum.

“Padahal umur kakak sudah hampir kepala tiga. Kira-kira bagaimana ya kalau yang memakai jilbab anak muda yang cantik ini?” tanyaku mengelus kepalanya yang tanpa penutup. Ditersenyum malu.

“Akan kucoba kak” lirihnya.

“Bagus.”

Percakapan kami terpurus dengan suara dering sms. Kurogoh saku. Ibu.

Aku langsung pamit pulang. Naik taksi menuju kos. Melepas lelah di atas ranjang kesayangan. Kubuka pesan ibu.

“Nduk, kapan pulang ke Jogja?”

Aku diam sebentar. Kanapa ibu sms begini. Bukanya ibu tahu aku akan pulang tiga bulan sekali. Dan bulan kemarin aku baru saja pulang.

“Ada apa bu?”

Pikiranku menerka-nerka. Ibu sakit? Atau bapak? Ada acara keluarga?

“Pulanglah. Ada seorang menunggumu. Kemarin kemari bersama orang tuanya. Meminangmu. Ibu dan bapak tidak bisa menerima tanpa kamu. Jadi, pulang ya.”

Balasan itu membuatku hampir meloncat dari ranjang. Apa? Meminangku. Aku menelan ludah. Darahku mengalir deras. Benarkah ada yang berminat meminangku. Padahal, aku hanya ingin mencintai. Tanpa balasan, tanpa balik mencintai.

***
Bersambung lagi . . . bersambung lagi
Kapan khatamnya...?
Dalam Diam (V) | Oleh Kabut Jingga Dalam Diam (V) | Oleh Kabut Jingga Reviewed by Feno Blog on Juli 02, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.