Fenomena, Fenomenor, Fenomania, Fenophobia | M. Abdul Hamid


Fenomena. Bagi saya bukan nama yang asing, Bukan kosakata aneh ataupun perbendaharaan kata baru. Melainkan, sebuah kata yang sudah sering terdengar. Mungkin njenengan-pun begitu. Hanya saja, mungkin sedikit mengernyitkan dahi, bila ternyata Fenomena itu jadi isim jenis. Jadi nama buletin. Bukan sebagai kata isim shifat seperti yang selama ini kita tahu. Sayapun begitu. Dulu, ketika Fenomena masih seumur jagung, saya ditawarin seorang teman untuk langganan Fenomena. Saya tanya “Fenomena? Opo kui?” Nah, belajar dari pengalaman, biar njenengan semua tahu, Fenomena itu apa? Yang bikin siapa? Kenapa Fenomena? Ceritanya gimana? Isinya apa? Ok! Untuk mempersingkat waktu, langsung mawon nggeh… 

Emmm…. 

Begini, Fenomena itu nama buletin. Buletin yang lahir gara-gara ada sekelompok orang yang ingin merombak mindset orang lain. Awalnya, Fenomena dibuat untuk membangun dan menggugah pikiran kita terhadap segala sesuatu yang akan, sedang, atau telah terjadi di sekitar kita. Siapa tahu, dengan peristiwa tersebut kita bisa tadabbur dan ta’ammul. Dan dengan peristiwa tersebut, kita bisa mengambil ibrah dan hikmah. 

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Fenomena artinya ; hal-hal yg dapat disaksikan dg pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah (spt fenomena alam); gejala (*)-bisa dibayangkan apa jadinya jika kata fenomena disandingkan dengan nama penyakit seperti tipes atau kreminen, trus diucapkan dokter yang ngomongin soal penyakit pasiennya. Maka dari itu, dipilihlah Fenomena sebagai nama yang dianggap sesuai dengan ide yang mereka miliki. Mengubah dengan cara apa? Menulis! Karena, dengan tulisan kita bisa mengikat apa yang kita tahu, sekaligus nambah ilmu. Jangankan nulis, lha wong baca tulisan aja udah bikin orang mikir. Apalagi yang nulis… 

“Buletinnya Bocah Paling Goblok Sedunia” sengaja dijadikan sebagai jargon. Mungkin, agar orang-orang yang merasa kurang mumpuni dalam menulis mau menuliskan ide, pandangan, dan pendapatnya tanpa ragu dan malu. Toh, ini buletinnya orang goblok! Hehehe… Namun, bukan berarti nggak ada qo’idah yang baku bagi tulisan yang akan dimuat di Fenomena. Tetap ada. 1. Spirit untuk menyumbang pada sesama. 2. Spirit untuk menjadi yang lebih baik. 3. Spirit untuk mempererat kerukunan antar sesama. Intinya, tulisannya bertujuan demi kebaikan! Fenomena itu ibarat jalan, siapapun yang pengen lewat, asal tujuannya baik, ya monggo-monggo saja… 

Tak pelak, dengan hadirnya Fenomena, media buat nulis di Darussalam makin ramai. Apalagi, beberapa bulan sebelumnya, jabang bayi MkD (MedIS, People-sekarang Blokagung, Balaghi) baru keluar dari rahimnya. Hmm… 

Di tengah keramaian seperti itu, belum ada buletin yang secara intens terbit untuk mengkritisi kondisi terkini PPDS. Eh, sudah ada deng! Maaf buat Mas Al-Aqlu dan Mbak Zahira, hampir terlupa. Hanya saja, keduanya….--silahkan baca features MedIS edisi Jum’at 01 Maret 2013. Dengan hadirnya Fenomena, hal itu dapat teratasi. Tak heran, kalau popularitas Fenomena makin menanjak. 

Berbeda dengan buletin lain yang ada di PPDS. Kalau buletin yang lain gratis, Fenomena ndak. Ngoten niku bukan tanpa alasan. Sebatas info, Fenomena itu foto copy-nya, konsumsinya, akomodasinya, dan segala tetek-bengek lainnya murni di awali dari kantong pribadi. Yang paling berjasa saat itu adalah Pak Imron Rosyadi, yang sekarang jadi Ketua Pesantren. 

Nah, untuk perjalanan selanjutnya tentu nggak boleh dong Fenomena tergantung sama isi kantong donatur….untuk itulah, agar Fenomena bisa independen dari segi isi, dana dan segalanya, jadilah dipasarkan dengan harga ongkos potokopi plus sedikit laba buat beli permen. 

Sedangkan untuk Fenomena episode kedua, karena kemarin hampir dua tahun bertapa, dana awalnya juga hampir menggunakan donatur, eh…pas lagi rembukan sama para pendahulu, tiba-tiba Pak Qomar bilang kalau masih ada harta karun peninggalan fanomena terdahulu. Alhamdulilllah gak jadi bikin proposal deh…..kita gak jadi minta-minta….. 

Selain itu, dampak dari hadirnya Fenomena muncullah tiga geng besar. 

Pertama, Fenomenor. Istilah Fenomenor mengemuka pertama kali dalam Fenomena edisi 45/Jum’at Pon/ 30/04/2010. Adalah Cak Pink (Ust. Assyafiqi) yang pertama kali mempopulerkan kata ini. Dalam tulisannya waktu itu, Cak Pink menggunakan kata Fenomenor khusus untuk Pak Biul, sebagai founding father Fenomena. Tapi,menurut saya, Fenomenor itu ya… orang-orang yang pernah nulis di Fenomena. Atau minimal pernah ngasi ide sama orang yang nulis di Fenomena. Alasannya? Nggak ada. Biar pantas saja disebut geng. Masak geng isinya cuma satu orang?! 

Perlu diketahui, berdasarkan pengamatan para ahli, ternyata Fenomenor berasal dari gabungan dua kata. Fenomena yang artinya (*). Yang kedua, menor (silahkan artikan sendiri). Kalau digabung jadilah kata Fenomenor. 

Sebenarnya, banyak orang yang mengartikan Fenomenor sama seperti wazan Faailun yang bermakna pelaku/pekerja. Aturannya, jika ada kata berakhiran ‘or’ maka bermakna pelaku/pekerja. Seperti pada kata investor yang artinya penanam modal. Tapi sayang, mereka kecele. Padahal, masih banyak kata berakhiran ‘or’ yang ndak gitu. Contohnya, kompor, congor, kolor, dsb. 

Yang kedua, Fenomania. Secara generik, Fenomania terbentuk dari dua kata; Fenomena, dan Mania. Fenomena artinya (*) dan mania (silahkan cari sendiri). Jadi, ya… gitu wes! Fenomania, adalah orang-orang yang berlangganan Fenomena. Setahu saya, Fenomania itu sebenarnya orang-orang yang kurang kerjaan banget. Seperti saya. Secara, ditengah aktifitas kita yang seabrek, ternyata masih ada orang yang berusaha menyempatkan diri untuk baca tulisan orang goblok! Mereka inilah orang-orang yang terjangkit virus Fenomena. 

Dalam familia fenomena, ada beberapa ordo yang terdapat di dalamnya. Stadium satu, biasanya kalau baca Fenomena biasa-biasa saja. Paling-paling yang di baca hanya judul dan tulisan yang di halaman awal saja. Stadium dua, kalau baca salam PPc nyengir kuda. Stadium tiga, kalau seminggu nggak baca Fenomena, hidupnya terasa hampa. Stadium 4, kalau baca Gos Ashom (sekarang rubriknya ganti nama: CODOT) biasanya sampe nangis tersedu-sedu. Stadium hampir ketemu malaikat Izrail-di atasnya stadium lanjut dan akut- kalau ngeliat Fenomena langsung pingsan saking histerisnya. Kalo nggak ngeliat Fenomena, malah kena epilepsi. 

Terakhir, Fenophobia. Seperti Fenomania, Fenophobia juga terdiri dari dua kata. Fenomena, yang artinya (*) dan Phobia yang artinya adalah…… (yang tahu jawabannya bisa langsung hubungi saya. hehehe) Khusus untuk golongan ini, biasanya bisanya cuman nyibir golongan pertama dan golongan kedua. Karna, mereka nggak suka atau mungkin nggak bisa baca-tulis. Maka dari itu, dengan kemampuan metafisiknya, para Fenomenor sudah sejak lama memprediksi tentang pentingnya wadah yang nantinya akan menampung korban dari keganasan para Fenophobia. Akhirnya, lahirlah PPc -yang sebenarnya prematur- sebagai solusi. Sebagai aliansi dari Fenomenor dan Fenomania dalam rangka melawan kejahatan yang ditimbulkan para Fenophobis. Maka dari itu, sampai sekarang para anggota PPc masih tetap sering sms-an dan telponan sama Power Ranger, Ultraman, bahkan Sailormoon, untuk menjaga bumi dari keberingasan para Fenophobis. Hebat kan? 

Layaknya sebuah pertunjukan, Fenomena mempunyai daya tarik tersendiri. Mempunyai lakon yang memerankan karakternya sendiri. Mempunyai judul sendiri. Namun, apalah arti sebuah pertunjukan tanpa adanya penonton?? Nah, maka dari itu, bolehlah kita tambah satu lagi kelompoknya. Namanya Fenonton. Usahlah saya jelaskan dari mana asal kata itu. Saya yakin njenengan semua sudah bisa nebak dari mana asalnya. 

Kelompok ini, mempunyai karakteristik yang khas, yakni mereka sama sekali tak peduli atau bahkan sama sekali tak tahu-menahu soal Fenomena. “Hidup akan terus berlanjut dengan atau tanpa kehadiran Fenomena,” mungkin begitulah keyakinan mereka… Permasalahannya, kalau memang kelompok ini acuh tak acuh, kenapa harus disebutin juga dalam tulisan ini? Fungsinya apa? Oh, itu,,, fungsinya jelas. Tulisan ini JELAS makin panjang, JELAS makin nggak jelas, JELAS makin ngawur, JELAS makin nggak karu-karuan! Dan yang pasti, JELAS makin makan banyak tempat pas diterbitin nanti. Hehehe… 

NB : Tanda (*) berarti ruju’. Belajar praktek ngesahi kitab.
Fenomena, Fenomenor, Fenomania, Fenophobia | M. Abdul Hamid Fenomena, Fenomenor, Fenomania, Fenophobia | M. Abdul Hamid Reviewed by Feno Blog on Juli 02, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.