Filosofi Pembagian Nol | Yousef



Sebelumnya kami mohon maaf, mungkin wawasan ini agak basi. Tapi dirasa perlu dan penting untuk men-share pengalaman ini. Karena menurut saya, masih segelintir orang yang mengetahui mengenai hal ini, yakni perwakilan dari IPNU Darussalam dan IPNU SMA Darussalam. Adapun pengalaman yang kami maksud adalah keikutsertaan dalam KONFERCAB IPNU ke-17 dan IPPNU ke-15, yang berlokasi di SMK Ibnu Sina, Genteng. Acara tersebut berlangsung selama tiga hari, yakni dari tanggal 23 sampai 25 Desember 2017. Hah? Desember? 2017? Sudah satu tahun yang lalu?Kan sudah dibilang, coretan pena ini sudah sedikit agak basi, mungkin. 

Tapi tenang saja, hal ini tidak akan mengurangi keoutentikan dan kekongkritan sanad redaksi ini. Alias langsung dari mulut ke telinga, bukan telingan ke telinga. Hal yang kami ingin tulis di sini bukanlah mengenai acaranya, melainkan salah satu subtansi tentatif pada acara tersebut, yaitu pidato penutup yang disampaikan oleh Dr. Fahri (kalau ndak salah. Maklum lupa, kan sudah setahun yang lalu). Doktor muda yang dimiliki NU, lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya. Beliau merupakan perwakilan dari kepengurusan PWNU Jawa Timur. Ada sedikit rasa kagum kepadanya, selain beliau masih muda yang sudah mencapai maqom 'doktor', beliau memiliki tubuh yang tinggi, akal yang cerdas, karismatik, dan yang paling kami banggakan adalah, baliau merupakan pemuda Nahdlotul Ulama (NU).

Baiklah, jika anda sudah mulai penasaran, kami akan mencoba maraba beranda di otak kami, apa yang tersisa di sana tentang pembahasan ini.

Apakah filosofi dari pembagian 'nol'? Kok bisa, bilangan nol dibagi berapapun hasilnya nol, dan bilangan berapapun dibagi nol hasilnya tak terhingga. Kalau tidak percaya, siapkan kalkulator dan hitung sendiri.....(menunggu anda menghitung). Sudah dihitung? Anda penasaran kenapa kok bisa seperti itu? Tulisan ini mengajak anda untuk lebih dalam menyelam dan lebih dalam menggali sesuatu yang mengganjal di fikiran kita. Langsung saja...

Dalam pidatonya beliau berkata “.....Saya telah lebih dari 20 tahun sekolah, mulai dari TK, SD, SLTP, SLTA, S1, sampai S2, tapi baru menemukan filosofi ini kemarin ketika saya proses disertasi (semacam skripsi, tapi untuk S3) untuk merai gelar doktor. Jadi anda tidak perlu mencapai gelar doktor untuk mengetahui filosofi ini. Cukup dengarkan saya saja. Filosofi apa yang saya temukan? Yakni tentang mengapa bilangan nol dibagi bilangan berapapun hasilnya tetap nol, dan bilangan berapapun dibagi nol hasilnya tak terhingga, yang dilambangkan dengan garis yang bergelombang (maksudnya “∞”) dan ketika dihitung dikalkulator hasilnya 'math error'.

Ternyata begini, dalam pembagian ½ (satu dibagi dua), bilangan 1 (satu) disebut sebagai pembilang dan bilangan 2 (dua) disebut sebagai penyebut (kalau salah tinggal balik, ojo digawe ruet). Coba sekarang, pembilang kita ibaratkan sebagai amal baik, perbuatan, kerja dalam organisasi, sebuah pengabdian atau ibadah. Dan penyebut kita ibaratkan sebagai harapan akan balasan terhadap apa yang telah kita lakukan. Dalam pembagian ½ (satu dibagi dua) hasilnya adalah 0,5 (setengah). Jadi, ketika kita melakukan 1 amal baik contohnya roan, dan mengharap 2 balasan contohnya agar terlihat kuat dan mendapat ganjaran, maka sejatinya kita hanya mendapatkan 0,5 (setengah).

 Ketika kita melakukan 4 amal baik dan mengharap 2 balasan, maka sejatinya kita hanya mendapatkan 2 saja. Dan na'udzu billah, ketika kita tidak melakukan amal baik apapun, akan tetapi mengharap 1, 2, 3 atau lebih balasan maka sejatinya kita tidak mendapatkan apapun alias 'zonk'. Ini adalah filososfi pertama tentang nol dibagi berapapun bilanganya hasilnya tetap nol. Dan ketika kita melakukan 1, 2, 3, 4, 5 atau bahkan lebih amal baik dan TIDAK MENGHARAPKAN APAPUN alias lillahi ta'ala, maka sejatinya kita mendapatkan sesuatu yang tak terhingga. Dan Allah-lah yang akan membalasnya, insyaallah. Ini adalah filosofi kedua yang bilangan berapapun dibagi nol hasilnya tak terhingga. Luar biasa.”

Sudah jelas bukan, mengenai filosofi pembagian 'nol'. Dan yang kami harapkan ialah, bagaimana kita bisa bersikap seperti filosofi kedua, yakni tidak beramal kecuali lillahi ta'ala. Allah adalah segala alasan kita berbuat apapun (tentunya hal baik). Ketika ditanya “kenapa kamu melakukan ini semua?” jawablah “Allah-lah alasanku”, kan keren kalau begitu. Filosofi ini sangat layak bagi para kalangan yang merasa telah mengabdikan diri pada pondok pesantren, seperti para pengurus tanpa terkecuali, kang-kang embel, mbak-mbak embel (ehh, bukan mbak embel, tapi mbak abdi ndalem, ada yang ndak terima nanti), dan juga untuk kita semua, yakni para santri untuk selalu lillahi ta'ala dalam melakukan amal kebaikan.

Mungkin cukup itu coretan pengalaman kami. Hanya pidato beliaulah yang sangat menarik dalam acara KONFERCAB tersebut, tentunya selain nasi-ayam kotaan sebagai konsumsi. Selain pidato dan konsumsi? Sungguh, rasanya pilu untuk mengingatnya (huss!!). Haha, hanya yang bersangkutan yang tahu.
Filosofi Pembagian Nol | Yousef Filosofi Pembagian Nol | Yousef Reviewed by Feno Blog on Juli 14, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.