Penantian Farah | Fia EL-Mahbub



Aku masih menyusuri taman bunga dengan hiasan kolam ikan disisinya, dan hamparan sawah yang tidak begitu luas dihadapannnya. Sudah menjadi agenda tersendiri untukku, mengunjungi taman bunga ini yang menyimpan seribu kenangan di masa kecilku dulu. 

“Far, suatu saat nanti, kalau kita udah gak bisa bareng lagi, jangan lupa ya, sempatkan sedikit waktumu untuk melihat keadaan taman ini, juga ukiran batu yang bertuliskan nama kita.” ucapan Fatah delapan tahun lalu masih terngiang jelas di telingaku. 

Kulihat sebuah batu besar dibibir kolam yang dulu sering menjadi tempatku dan Fatah menghabiskan waktu sore dan tempat persembunyian ketika aku dan dia bolos pelajaran olahraga. Batu itu tetap seperti beberapa tahun lalu, berdiri tegak dengan beberapa rerumputan yang menghiasi dasarnya. 

“Seandainya suatu saat nanti kita bisa bertemu, maka aku akan menunjukkan ukiranmu ini yang masih terlihat jelas dan indah ini, Fatah.” gumamku sembari meraba hasil kreasi tangan Fatah dengan paku yang ia temukan di pinggir jalan. 

Ya, Muhammad Fatah Haidar Ramadhan, sosok yang menjadi mentari dalam hidupku, setidaknya di masa kecilku ketika kami masih bersama-sama menimba ilmu di sebuah lembaga pendidikan di kota metropolit. Sosok yang seringkali menghapus segala resah dan tangisku saat aku masih menjadi Farah kecil yang lemah dan rapuh. Sosok yang pertama kali mengenalkanku dengan sebuah rasa yang Tuhan berikan kepada setiap insan di belahan dunia manapun, termasuk padaku, juga pada Fatah. 

“Benarkah setelah ini kau meneruskan sekolahmu di pondok pesantren di 

daerah Jawa Timur?” Tanya Fatah setelah kami menyelesaikan UN. 

Aku mengangguk pelan. ”Maaf jika aku tak bisa menemanimu lagi.” Ucapku parau. Fatah tersenyum menatapku, ”Tidak apa, yang penting setiap liburan kita masih bisa bertemu lagi.” Ucapnya. 

“Tapi…” Kata-katanya menggantung saat kulihat sebuah bunga berwarna putih dengan bias merah dipinggirnya jatuh tepat dipangkuan Fatah. 

“Tapi kenapa?” Tanyaku bingung. 

“Tapi, aku tidak tau. Apakah suatu saat nanti kita akan bisa bertemu kembali. Sedangkan aku, setelah kelulusan nanti akan ikut nenekku di Kediri.” Ucapnya tertunduk lemas. 

Kuhirup nafasku dalam-dalam, sulit bagiku untuk mengatakan sesuatu, mengingat tiga bulan lalu, kedua orang tua Fatah memilih untuk tidak lagi bersama, dan semua membuat Fatah juga ketiga saudara kandungnya menjadi hidup dalam ketidakpastian. 
“Tuhan, inikah hakikat cinta sejati? Mengikhlaskan seseorang yang dicintanya bersama dengan orang lain, walau sebenarnya, hatinya sakit nan terluka?” 

“Sudahlah, jangan sedih!” ucapnya sembari menghapus air mataku dengan kedua telapak tangannya.” 

“Ingat ya, tiga hari setelah idul fitri, pada jam empat sore, kamu harus ke taman ini. Dengan seperti itu, aku yakin kita akan bisa bertemu kembali, karena aku akan melakukan hal yang sama. Oke?” Ucapnya yakin. 

Aku mengangguk cepat, ”Janji ya?” ucapku memastikan. 

“Aku janji, Bungaku.” Ucapnya dengan mengucapkan nama panggilan khususnya untukku, seiring ia langsung menyodorkan jari kelingking kanannya padaku. 

”Ayo berjanji..” Pintanya. 

“Iya aku janji, Kumbang.” Ucapku memanggil nama panggilannya dan mengaitkan jari kelingkingku padanya. “Deal! Kita saling berjanji dan harus ditepati.” Ucapnya dengan ekspresi layaknya guru TK mengingatkan muridnya untuk mengerjakan PR. 

“Hmmm, kenangan tentangmu memang terlalu sulit untuk aku lupakan, kau lelaki terindah untukku, dan itu membuatku sulit untuk membuka hatiku pada lelaki selain dirimu, Fatah.” Gumamku seiring langkahku menjauh meninggalkan taman bunga. 

“Papa, ayo cepat kesana. Aku pengen ambil bunga.” Pekik seorang anak kecil dengan kepang dua di kepalanya. Sementara seorang lelaki dengan tinggi satu jengkal dariku baru saja membuka pintu mobil berwarna silver di pinggir jalan. 

“Papa cepattt!” Ucap perempuan kecil itu lagi sembari berlari menuntun sosok lelaki yang ia panggil papa. 

”Ia sebentar, nunggu Mama dulu dong, Nadin.” Ucap lelaki itu sembari berjongkok menatap putri kecilnya. 

“Selamat sore, Tante.” Ucap anak kecil itu saat aku lewat disampingnya. 

“Sore juga...” Sapaku balik, sembari tersenyum menatap wajahnya yang menggemaskan. 

“Papa, tantenya cantik ya...” Bisik anak kecil itu, membuat lelaki yang ia panggil papa mendongak menatapku. 

“Fa…rah. . . ” Panggil lelaki itu kaget. “Kau Farah kan?” Tanyanya meyakinkan. Sementara matanya tak lepas menatapku. 

Aku mengangguk pelan, ”Ya, aku Farah.” Jawabku. 

“Masihkah kau ingat denganku?” 

“Mungkinkah kau Muhammad Fa . . .” 

Lelaki itu berdiri menyejajariku, “Ya, aku Fatah. Muhammad Fatah Haidar Ramadhan.” Ucapnya, berharap aku masih mengenali sosoknya yang sudah tumbuh lebih dewasa dariku. 

Aku terdiam membisu, mendadak tenggorokanku kering dan bibirku sulit untuk mengucapkan satu kata pun. Terlebih saat seorang perempuan dengan balut hijab berwarna hijau berdiri di sampingnya. ”Ini Laila, istriku dan ini Nadin, putri kecilku.” Ucapnya sambil menggendong anak kecil dengan kepang dua di kepalanya. 

“Kamu sudah menikah, Fat?” Tanyaku menguatkan diri. Fatah mengangguk penuh penyesalan. Aku yakin, sepertinya ini bukan pernikahan yang ia harapkan, karena aku dapat memahami mimik wajahnya. Ya, mimik wajah seseorang yang sangat aku rindukan. 

“Maafkan aku, Far…” Dan itulah kalimat terakhir yang kudengar sesaat setelah kulihat senja kali ini terlihat seperti malam dan pekat. Aku pingsan. 

*** 

Aku mengerjapkan mataku, pening di kepalaku membuatku berat untuk bangkit dari ruangan dengan kolaborasi putih dan ungu dan beberapa tatanan lemari yang sangat khas kamarku. 

“Kamu sudah sadar, Far?” Tanya mbakku, Mbak Izza. 

Aku mengangguk, ”Aku kenapa?” tanyaku. 

“Kamu pingsan di taman, untung ada Fatah dan istrinya, jadi mereka yang mengantarkanmu pulang.” Ucap Mbak Izza. Ada sesak dalam tubuhku, saat aku mendengar kata-kata Fatah dan istrinya. Mungkinkah ini sakit hati??? 

“Oh ya, tadi Fatah titip salam. Kalau kamu sudah sadar, dia harap kamu mau mengangkat telfon line darinya.” Ucap Mbak Izza sambil memberikan handphoneku. 

“Aku mau sholat dulu.” Ucapku seraya bangkit dan meninggalkan Mbak Izza sendirian di kamar. Lima belas menit kemudian, dengan balutan mukena yang sedikit aku sisingkan, aku mengirim pesan lewat line pada Fatah. Sedetik kemudian, sebuah panggilan dari aplikasi line terdengar nyaring. Kuangkat telfonnya, dan kemudian muncul wajah seseorang yang selama ini aku rindukan. 

“Maafkhan aku, Far.” Kata-kata itulah yang menjadi awal percakapanku dengannya. “Aku yakin, pasti kau kecewa denganku. Aku yakin, pasti kau akan muak melihatku atau bahkan kau akan membenciku.” Ucapannya menggantung, saat mata kami saling bertatap. “Entah kau akan percaya atau tidak padaku, tapi jujur dalam hatiku yang terdalam, hati yang tak pernah tersentuh oleh wanita manapun, hati ini masih tetap mencintaimu, Far! Tetap dan tak akan pernah berkurang sedikit pun. Aku masih mencintaimu, walau aku harus menikah dengan wanita yang telah terenggut kesuciannnya oleh kakak kandungku sendiri.” Ucap Fatah seiring air matanya tumpah ruah membasahi wajahnya, dan itu membuat semburat luka di hatiku. 

“Lima tahun aku menantimu, aku mengambil jurusan TI di sebuah Universitas di Yogyakarta. Berharap setelah aku dapat gelar sarjana pertamaku, aku akan mengkhitbahmu dan menjadikanmu pendamping hidupku. Tapi segalanya berubah. Demi menjaga kehormatan keluargaku, aku pasrah dengan paksaan ibuku yang memintaku untuk menikahi gadis yang telah terenggut keperawanannya oleh kakakku yang kemudian bukannya bertanggung jawab, kakakku malah memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.” Ceritanya panjang lebar. Sementara aku hanya memilih diam dan mendengarkan kisah pilunya. 

“Suatu saat nanti, jika seseorang mengkhitbahmu, kabarkan padaku. Karena aku ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan semoga kalian menjadi keluarga yang SAMAWA. Maafkhan aku, Bungaku. Karena aku tak bisa menjadi kumbang yang membuatmu menjadi mekar nan indah. Aku, mencintaimu walau aku tak akan bisa memilikimu.” ucap Fatah mengakhiri sambungan telfon linenya denganku. 

Aku terduduk lesu, “Tuhan, inikah hakikat cinta sejati? Mengikhlaskan seseorang yang dicintanya bersama dengan orang lain, walau sebenarnya, hatinya sakit nan terluka?” 



THE END
Penantian Farah | Fia EL-Mahbub Penantian Farah | Fia EL-Mahbub Reviewed by Feno Blog on Juli 17, 2018 Rating: 5

2 komentar:

  1. Dalem banget maknanya, ditunggu cerpen berikutnya min...

    BalasHapus
  2. Hadeeuhhh..... Kokbaper yah gue?
    :)

    #Endingnyamengenaskan

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.