Tawassul cinta (1) | Nasrudin



Kutatap seraut wajah yang tergambar di cermin kamar. Disana sebentuk wajah dengan gurat kedewasaan yang mulai tergambar. Sebaris kumis tipis melintang. Beberapa lembar jengot yang tidak pernah di biarkan tumbuh lebih panjang. Kutatap bagian kepala yang mulai beruban. Uban zaman sekarang tidak perlu menunggu umur enampuluh untuk datang hinggap di kepala. Tua, kataku pada diriku sendiri. Sejenak padanganku beralih ke kalender yang tergantung di dinding kamar. Aku tersenyum kecut manakala ku ingat bahwa bulan ini dan pada tahun ini aku berusia 30 tahun. Tigapuluh tahun, gumamku sendiri.

Kurebahkan badanku di tikar tipis yang ada di lantai kamar sempit ini. langit-langit kamar menjadi obyek tatapanku. Kuraih korek gasku dari laci dampar, kusulut Djisamsoe. Asapnya mulai membubung bergulung. Membentuk lingkaran-lingkaran.

Hampa. Gelisah. Hambar. Itu saja yang kurasa. Betapa aku hibur dan aku lipur rasa hati, tetap saja ada sudut hati yang selalu tersisa dalam kekosongan. Betapa aku sibukkan diri dengan berbagai hal, tetapi pada saatnya rasa itu datang mencengkeram juga. Kuku-kuku kesepiannya menghunjam kedalam relung terdalam sanubariku. Genggaman resahnya melemaskan segenap syaraf otakku sehingga menjadi bebal dan dungu. Pelupa. 

“Masih muda pikun,” begitu kata temanku manakala aku melakukan kekonyolan. Kadang kunci lemari yang aku simpan dalam sakupun bisa kulupa dan cari kesana kemari. Atau sebatang rokok yang kuselipkan di daun telingapun bisa aku lupa. Kesepian itu kadang datang menusuk-nusuk dalam dadaku. Berdesir rasanya seakan secangkir es yang disiramkan di ulu hatiku. Rasanya menusuk ulu hati, menjalar ke bagian dada, naik ke wajah dan membuat air mataku merembes. Begini rupanya rasanya sepi.

Nanti kau tahu rasanya sepi bagaikan pisau mengiris hati

Nanti kau tahu asanya rindu, bagai tertusuk duri sembilu

Hati akan tersiksa, batin akan merana, kerananya…..(Saleem)


Tigapuluh tahun, bisikku lirih berbicara pada diri sendiri. Dan tak pernah setitikpun kisah cinta mampir di lembaran hidupku.

“Tulang rusukmu paling genap kang,” gojlok rekanku saat malam-malam ngopi dan rokoan di sudut jemuran.

“Atau memang jodohmu belum terlahir.”

“Endokmu!!” kataku menjawab sekenanya.

“Sampeyan mau jadi menantu Kyai?” katanya berubah serius. Aku menatapnya ragu. Apalagi yang mau kau gunakan menghabiskanku?

“Tunggulah anakku lahir, hahahah......” dua teman lain tak bisa menahan tawa.

“Ada lagi kemungkinan yang lebih masuk akal,” ganti si Saprol angkat bicara.

“Jodohmu itu memang cantik, semok, aduhai, tetapi mungkin sudah mati,”

“Memang,” kataku bersiap membalas lelucon mereka, “Jodohku sebenarnya adalah emakmu dan mbahmu serta cucumu nanti, tapi karena emakmu dan mbahmu menolak di jodohkan Tuhan denganku akhirnya mereka mberojol keluar duluan. Sedang anak dan cucumu sembunyi sehingga memilih jadi endok kalian.”

“Begini saja kita bikin geng khusus mutakhorijin dan Asatidz dengan nama “Rambo” dan pimpinannya sampeyan Kang Syarif,” kata Aufa yag malah mendapat panggilan “Ompreng”. Ia dulu adalah juru masak kelompok kami. Karena ia selalu memilih tugas sebagai penanak nasi, maka ia mendapat gelar gratisan itu.

“Opoo kuwi?” sahut Rahman yag biasa kami panggil “Konyeng” menimpali.

“Ra Mbojo-Mbojo!!!”

“huahahahahaaaaaa!!!!!”

Jangkrik!!! Makiku dalam hati mengingat obrolan santai itu. Saat sama-sama ngobrol dan saling gojlok dan mengahncurkan begitu tidak ada rasa apapun dalam hatiku. Tidak ada sakit hati dalam kamus guyon anak pondok. Tetapi setelahnya. Ah, aku kenapa jadi ngengkleng.

Tigapuluh tahun bukanlah usia anak kemarin sore. Bukan santri baru untuk ukuran anak pondok. Tigapuluh tahun. Teman sekolahku di rumah sudah menggendong anak semuanya. Ketika liburan Idul Fitri aku pulang, seakan aku menjadi orang paling ingah-ingih di kampung. Kluntang kluntung, ngetan ngulon sendiri. Ke si Komar sudah beranak dua. Ke si Karim sudah beranak satu dan istrinya sedang bunting. Ke si Siti malah sudah cerai dua kali. Wah sudah tahu rasanya dua perjaka nih, pikirku nakal. Ke si Hasanah malah sedang bunting besar-besarnya. Yang ada adalah generasi anak bau kencur. Usia SMP dan SMA yang kesana kemari membonceng pacarnya. Aku muak melihat mereka tetapi juga miris melihat keadaanku.

Aku paling anti pacaran. Sejarah sekolahku adalah sebagai anak paling cerdas. Jos. Itulah aku kawan. Tetapi bersihnya catatanku rupanya menimbulkan bencana di masa depan, setidaknya itulah anggapanku. Aku tidak bisa mencuri hati seorang gadis. Aku gagap dalam urusan pedekate, istilah anak sekarang. Itu baru sekarang terasa.

Bila kau bukan anak Kyai, bukan pula anak juragan, dan bukan pula berwajah tampan, saranku adalah jangan pasif. Cari jodohmu segera. Dan bila kau anak Kyai….ah, nanti saja aku punya cerita khusus untukmu, Gus.

Aku masih menatap langit-langit. Satu persatu kepingan-kepingan kisah bermunculan dalam layar buram di atas kamar, diantara kepulan asap rokok yang melingkar-lingkar.

Liburan semester beberapa tahun lalu, aku telah berupaya menggapai jodohku. Oh iya, pesantren kami menggunakan sistem test semester. Dimulai dari syawwal, maka ditetapkan ujian tengah tahunan itu pada pertengahan bulan Rabiuts Tsani atau Bakda Maulid. Libur sepuluh hari.

Hilyatul Abidah, namanya. Nama yang indah seindah lukisan Tuhan di wajahnya. Seindah budi pekertinya. Kata Pak Ustadz budi dan bodinya nilai delapan. Alis hitam di wajahnya yang putih bersih melintang indah. Matanya, bening, teduh dan sejuk namun berkilauan memancarkan pesona sejuta rasa. Hidungnya khas timur tengah. Dagunya indah dengan belahan di sana. Senyumnya itu……ah, tidak bisa aku gambarkan. Indah. Aku tahu dia menjadi incaran para Ustadz, menjadi rebutan para embel, dan menjadi perbincangan para Gus. Aku??? Ustadz yang baru di angkat tahun itu.

Singkatnya, moment liburan saat itu aku mencoba bertaruh nasib baik untuk “mendaftarkan diri” menjadi imam untuk sang bidadari Pondok Putri Pesantren kami, Darul Falah, Kediri.

Hp butut harga seratusan ribu menjadi senjataku untuk mengadu keberuntungan. Hp itu sudah beberapa bulan bersembunyi di kandangnya. Kucoba belajar sedikit jurus raja gombalnya Sule dan Andre. Atau sedikit sastra Khalil Gibran. Tapi yang ini murni hak ciptaku:

“Izinkan amil hatiku mendarat di mu’rob hatimu, wahai sang bidadari. Izinkan senandung hatiku menyapa dan mengusik alam jiwamu.

“Aku adalah kalimat huruf yang tak bermakna tanpamu. Aku adalah amil yang kesepian tanpa ma’mulmu. Izinkanlah aku.......”

Sret!! Sending message......

Gak ada respon. Gak ada jawaban. Guoblog!!! Makiku dalam hati. Gak pap kan Ustadz misuh dalam hati??? Anggap aja nggak dosa. Berani bertaruh berapa aku belum apa-apa kok sudah kirim begituan. Sejauh mana ia mengenalku? Aku tepuk jidatku sendiri membayangkan apa yang akan dijadikannya jawaban. Ya, dan seminggu itu aku hanya wira-wiri dengan hp di tangan. Pulsaku utuh. Kulihat santri-santri ingusan itu asyik berkencan dengan entah siapa. Bangun tidur, telpon, tidur lagi, bangun, telpon, tidur lagi. Atau tiduuuur lalu bangun dan telpoooon sampai batre harus di cash sambil tetap menelpon. Tidak tidur semalaman demi ngobrol dengan pujaan. Bangsat!! Makiku sendiri. Kalau dulu aku memaki karena ingkar dan menghukumi haram perbuatan itu, tetapi sekarang makianku aku tujukan kepada diri sendiri yang selangkah tertinggal oleh mereka. 



Tahukah kau apa yang selanjutnya terjadi??? Hhhhhh....Ba’da Maulid undangan tersebar dengan nama Hilyatul Abidah sang bidadari itu bersanding dengan salah satu Gus dari sebuah Pesantren di Banyuwangi. Para pemburu akhirnya memble. Bagian negaran gremengan, Qismut Tarbiyyah hanya bisa bilang “Payaaah”, Qismul Amn cukup pukulkan rotan.

Pelajaran pertama yang aku tulis di pintu lemariku adalah: Jangan naksir santri putri yang sangat cantik, karena sudah di pesan para Gus.....leres Gus?????

Tawassul cinta (1) | Nasrudin Tawassul cinta (1) | Nasrudin Reviewed by Feno Blog on Juli 05, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.