The Real Task | MS Basayif



Pada artikel sebelumnya, anda telah diajak oleh Hifji Flick (Review Daur Tsani) untuk bermain dan menari-nari melalui beberapa kerangka logika ala dia. Bahasa filsafatnya premis, kalau bahasa mantiqnya muqoddimah. Mengupas satu per satu fakta yang pada akhirnya mengantarkan anda pada suatu konklusi, natijah, atau kesimpulan berupa; adanya daur hanyalah sebuah formalitas. Bukan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, apalagi untuk melaksanakan ketertiban dunia. Betapa itu merupakan suatu penjelasan yang amat mempesona, dan kita pun manggut-manggut kala membacanya.

Sebenarnya, siapapun anda mudah saja untuk membuat kerangka logika demi kepentingan tertentu. Bahasa zaman now-nya, melakukan suatu penggiringan opini. Tinggal anda mengarang premis atau muqoddimahnya, susunlah sesuai keinginan, buatlah kesimpulan sendiri. Beres. Kalau pingin lebih detail lagi mengenai komponen-komponen filsafat, saya sarankan anda untuk membeli buku Filsafat Mantiq karyanya mahasantri Ma'had Aly. Insya Allah tahun ini terbit. Walah... malah promosi.

Oh iya, tak lupa, di bagian akhir, dia mengajak kita, khususnya para admiral untuk berpikir mencari solusi paling mashok untuk mengatasi masalah daur.

Lantas, apakah kesimpulan itu bermasalah? Eeee... gimana ya. Begini saja. Daripada menyalahkan, mending saya buat tulisan tandingan. Sebelum masuk ke inti, saya sarankan anda mengambil sepucuk edisi Fenomena yang kemarin, biar jadi pembanding tenanan.

Sebagai pemanasan, saya setuju dengan dia, bahwa adanya daur sebagai sarana pelunas bebas tanggungan bukanlah jawaban yang tepat. Tapi, (ada “tapi”-nya lho ya) ada keuntungan besar jika persyaratan mengikuti daur harus melalui fase mengebeki bebas tanggungan. Walaupun sebenarnya saya juga tipe orang yang agak sengit alias sebel dengan bebas tanggungan. (Malah curhat, gak penting banget sih). Faktanya, kita adalah santri di pondok besar, bro! Dengan santri nyaris 5000, bukan perkara mudah untuk melunaskan serentak orang sebanyak itu. Boro-boro suruh nglunasi perkara yang ada kaitannya sama uang, lha wong trimo suruh budhal jama'ah saja butuh BATALION 52 kok. Piye jal?

Kan masih bisa pernyataan? Oke. Anda benar. Tapi prediksi saya, antara orang yang bayar secara tunai dan yang via pernyataan, masih lebih banyak yang tunai kok. Paling presentasenya 40 VS 60, atau setidaknya 30 VS 70. Nyatanya pada H-3 daur, antara Biro sama Pak atau Buk Penerima Pernyataan lebih kebek Biro ki. So, anda simpulkan sendiri saja, bisa tho? Lumayan lho duitnya bisa buat meninggikan Madrasah Barat, GP VI, dan gedung-gedung lain yang pembangunannya belum rampung.

Dan juga, pada fase pembayaran, kita akan banyak menemukan santri yang SPPnya nunggak sejak daur sebelumnya. Laiyo opo nggak. Kalau kata guru saya dulu, SPP yang telat dibayarkan itu tergolong ghosob kita terhadap pondok. Weleh, apa ya nggak ngeri kalau gitu. Njajal Nasawwuf tipis-tipis gitu lho. Yaa.... walaupun saru sebenarnya, fungsi daur sebagai pelunas pembayaran itu nggak bisa dipandang sebelah mata lho. Coba daur tanpa bayar, lak ya bangkrut pondoknya. Ngrumati anak-anaknya wong yang jarang mbayar. Hehe.

Nah, kita mulai masuk ke intinya. Tulisan Hifji Flick kemarin begini: “Untuk apakah diadakan evaluasi daur? Apa yang diharapkan dengan adanya daur? Dan jawaban yang tersisa mungkin hanyalah daur sebagai formalitas.”

Formalitas? Sebenarnya menyandarkan predikat “formalitas” kepada kegiatan semulia daur bagi saya juga saru sih. Tapi melihat fakta di putra, kayaknya memang gitu. Nggak tau kalau di putri. Saya nggak pernah kesana. Mungkin demi kevalidan data, daur tsalits besok saya suruh jaga di putri gak papa juga. Hahaha. Muodus janan. Tapi (lagi-lagi ada tapinya), ada banyak lho talamidz/ah yang belajar sebelum memasuki ruangan daur. Bahkan ada yang mbelan-mbelani ngrepek dan menurun juga kan. Kata menurun disini pake bahasa Jawa, artinya mencontek. Bukan bahasa Indonesia yang artinya mudhun. Bukan!

So, ada sebagian santri yang menjadikan daur sebagai paradigma standar pembelajaran. Dan itu ada nilai plus tersendiri. Kapan lagi dotkom mereka bisa belajar tenanan kalau nggak mergo ujian. Nggak papa dulu lah, belajar gak karena Gusti Allah atau menghilangkan kebodohan. Gak usah Nasawwuf dulu kalau urusan ini. Belajar karena Alloh atau karena menghilangkan kebodohan itu berat. Nggak akan kuat.

Yang perlu digaris bawahi bagi tipe orang yang memprioritaskan daur adalah, daur is not everything. Betapa hinanya kita hidup di dunia jika hanya menjatuhkan standar kualitas pada 12 hari daur dalam setahun. Jangan bangga dan jumawa jika anda mendapat nilai daur yang berkelas. Ada fase syawir dimana kita harus menunjukkan bahwa kita mampu bersuara, ada fase hafalan yang memiliki ancaman yang menakutkan; hafal atau bersedia ditunggakkan. Dan fase-fase lain yang tak kalah bergengsinya dengan daur.

Di dua paragraf terakhir, Hifji Flick memberikan masukan sekaligus tantangan buat para admiral. “Bagaimana caranya agar daur lebih “disegani”. Bagaimana caranya agar Daur mempunyai atmosfir seperti ujian kurikulum atau UAS kuliah.” Begitu tulisnya. “Apakah tetep mlempem atau akan ada racikan-racikan baru yang bikin gurih.” Tambahnya di fase injury time artikelnya yang kemarin.

Bagi saya ini boomerang. Seandainya para admiral diniyyah benar-benar bikin racikan yang lebih gurih, ini malah bikin kita kelimpungan dan kewalahan. Disitu disuruh gitu. Disini disuruh gini. Disono disuruh ngono. Dimana lagi disuruh gimana lagi. Lak suwi-suwi kendat kalau gini terus. Kita manusia, bukan smartphone dengan RAM 10 giga. Lha wong smartphone yang begitu canggihnya saja ada fase dimana kita harus nge-charge ulang, dan fase menghilangkan cache (tembolok) yang berserakan menambah beban.

Yang enak gimana? Biarkan saja daur itu begitu. Mengikuti takdir Tuhan untuk menjadi makhluk bernama daur. Karena daur adalah daur. Dia adalah daurku sejak 1990. Dia bukan UAS dengan segala keribetan siakad dan KRS-nya. Buat yang semangat monggo belajar yang tenanan, buat yang malas-malasan jangan terus memandang sambil meremehkan. Sedang-sedang saja lah. Melihat fakta diatas, sepertinya mengevaluasi evaluasi daur bukanlah tugas pokok bagi para admiral.

The real task, atau tugas sesungguhnya adalah, mewujudkan sebuah kesadaran dan penyadaran. Kesadaran bagi kita pribadi dan penyadaran bagi mereka yang sudah naik pangkat jadi ustad. Istilahnya, kita sedang membutuhkan kepekaan tingkat tinggi. Sebuah kesadaran dan kepekaan bahwa diniyyah itu penting, bukan yang penting diniyyah. Sebuah kesadaran dan kepekaan bahwa cita-cita yang paling mulia bagi talamidz adalah duduk manis di panggung utama berstatus mutakhorijin/jat Madina. Faktanya dari sekitar 4573 santri, presentasenya begini: 3211 itu Ula, 1010 Wustho, dan 352 Ulya. Nggak percaya? Silahkan lihat sendiri Rekapitulasi Ahad Legi yang terakhir. Habis tinggiiii banget, trus anjlok. Brukkk.

Pertanyaannya; kok bisa gitu, apakah karena hafalan Alfiyyah -yang menjadi standar lulus wustha- itu berat, trus banyak yang nggak kuat? Wah, kalau begini alasannya jelas anda terjangkit virus beratisasi dan Dilanisasi ala Pidi Baiq. Jangan lagi ya, itu virus yang berbahaya bagi agama, bangsa, dan negara. Atau karena apa?

Jawabannya mungkin, karena masih banyak yang pergi ke pondok mung numpang ngombe. Sayangnya, ngombe disini ngombe ijazah formal, bukan diniyyah. Tujuan ngombe tercapai, dan yang lain pun terabai. Kayaknya sih gitu. Lulus diniyyah memang merupakan harapan yang cantik. Tapi banyak yang belum mencintainya. Gak tahu kalau dapat hidayah. Tunggu saja.
The Real Task | MS Basayif The Real Task | MS Basayif Reviewed by Feno Blog on Juli 05, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.