Penantian Nina | Bintu Lathif


cerpen penantian nina


Di depan mataku ada seorang kang santri yang sedang berbincang-bincang dengan Umi, dan dia adalah seseorang yang selama ini aku kagumi dan tak seorang pun yang mengetahuinya.
“Ayo nduk cepat, nanti kita ketinggalan sholat iednya!!”

Ajak ibuku dengan nada yang terburu-buru. Tanpa pikir panjang aku langsung menghampiri ibu yang sedari tadi menungguku di teras depan. Yeah.....seperti biasanya, hanya waktu hari raya idul fitri aku bisa berkumpul keluarga di rumah, dan itu pun masih ditambah lagi tiga tahun

sekali aku pulang. Maklum saja, aku adalah santri pondok pesantren Darussalam yang tempatnya berada di ujung timur pulau Jawa. Dan pastinya itu sangat jauh dari rumahku yang ada di kota Lampung. Jadi hal itu sudah pasti menuntutku jarang pulang ke kampung halaman.

“Kenapa to buk keburu-buru...Nina kan masih pakai kerudung!! Jadi nggak bener deh.”

“Eh,,,ya jangan gitu! Kalau kita nggak dapat baris depan gimana?? Gak enak nanti. Gak bisa khusyu'!”

Alhamdulillah, karena kecerewetan ibuku, kami dapat shof depan dan bisa menjalankan sholat dengan khusyu'. Rasanya sangat menyenangkan bisa menjalankan sholat ied bersama keluarga. Selesai dari masjid, aku langsung ke rumah saudara-saudara yang rumahnya berada di sekitar masjid. Karena di rumah tidak ada yang bantu ibu, aku tak boleh pergi jauh-jauh dari rumah. Selain itu, bapak juga adalah orang tertua di daerahku. Jadi, aku sudah pasti bakal ketemu semua orang di rumah.

“Nina!! Kamu Nina kan?? Masih inget aku nggak?? Aku Hery, temanmu SMP dulu!!” Sapa seorang laki-laki yang lewat di sampingku. Dia terlihat gagah, tinggi, dan bersinar. Rasanya beda banget, nggak kayak waktu dulu. Aku hampir tak mengenalinya kalau dia tak menyebutkan sendiri namanya.

“Ya pasti ingat to. Masa aku lupa sih sama temen sendiri.” Padahal sebenarnya juga sudah agak lupa. Tapi dari pada aku malu, lebih baik gak usah ngaku aja deh.

“Udah berapa tahun kamu nggak pulang dari Jawa?” Biasalah, dia mulai berbasa-basi denganku.

“Belum lama kok, baru tiga tahun!!”

“Hahaha…tiga tahun kok gak lama. Pasti kamu kerasan banget!! Oh ya, ngomong-ngomong sekarang sudah semester berapa??”

“Aku nggak kuliah. Aku cuma mondok aja. Sesuai keinginan orang tuaku, mereka kan pengennya punya anak yang ahli ilmu agama. Jadi sekarang aku di Jawa memperdalam ilmu agamaku. Kalau kamu sendiri gimana?” Aku balik bertanya.

“Sebenarnya sih punya rencana mau ke Jawa, tapi belum tau juga, soalnya belum ada alamat yang dituju”

“Gimana kalau bareng aku aja?”

“Ya...boleh juga, entar aku pikirin dulu. Eh... aku duluan ya!! Mau ke rumahnya nenek!!”

“Oh ya, silahkan!!”

Setelah kupersilahkan, dengan terburu-buru dia langsung melanjutkan perjalanannya. Dia memang orang yang selalu melakukan pekerjaannya dengan cepat dan tentunya juga pintar. Bahkan karena kepintarannya banyak temenku yang naksir sama dia. Emm.. Kalau aku sendiri sih, mungkin hanya rasa kagum aja, gak lebih. Selama ini aku tak pernah menganggap istimewa salah satu teman laki-lakiku. Karena bagiku rasanya sangat tidak mungkin bisa punya hubungan dengan anak laki-laki seperti temen-temenku. Rasanya hidupku telah diprogram oleh kedua orang tuaku. Jadi aku tak mungkin punya jalan sendiri. Yang ada hanya tetap sami'na wa ato'na (patuh dengan apa yang mereka inginkan). Tapi, tak sedikit pun aku menyesal telah jadi anak bapak dan ibuk. Aku tau mungkin kalau aku gak ikut apa yang dikatakan mereka, aku tak akan bisa seperti sekarang.

***

“Ya Allah…besok aku akan berangkat ke pondok. Ini malam terakhirku berada di rumah. Semoga perjalananku besok engkau berikan keselamatan sampai tujuan dan aku bisa kembali belajar lagi dengan semangat yang membara. Dan semoga aku bisa menjadi orang sukses yang dapat dibanggakan bapak dan ibu!! Amin.” Itulah salah satu pintaku pada Yang Maha Kuasa dalam tahajjudku malam ini.

“Sudah siap semua nduk, nggak ada yang ketinggalan?” Ibuku bertanya sambil menata barang bawaanku. Maklum saja, dari Sumatra ke Jawa pastinya aku harus membawa banyak oleh-oleh.

“Sudah kok buk. Semuanya sudah Nina cek, nggak ada yang ketinggalan.”

Tiba-tiba air mataku menetes begitu saja. Aku tak sanggup lagi menahannya. Ku peluk erat-erat tubuh ibuku.

“Buk, do'akan Nina ya buk!! Semoga Nina selamat sampai tujuan, dan semoga di pondok nanti Nina bisa belajar dengan sungguh-sungguh.”

“Itu sudah pasti nduk. Ibu dan bapak di rumah nggak pernah lupa doakan kamu. Gimana mau lupa, Nina kan anak ibu dan bapak satu-satunya.”

“Hemmm... Iya buk, terima kasih ya buk.!” Aku hanya nyengir mendengar jawaban ibu. Senang sekali rasanya mendengar jawaban ibuku.

“Oh ya buk, nanti yang ngantar Nina ke terminal siapa?” Tanyaku sambil mengusap air mata yang masih tersisa di pipiku.

“Bapak sama ibuk yang ngantar”

***

Akhirnya, setelah berjalan sekitar setengah hari, sekarang aku sudah memasuki pulau Jawa. Sebuah pulau yang penuh dengan kemegahan, gedung-gedung pencakar langit yang ada di setiap sudut jalan rasanya tak dapat terjangkau oleh mataku. Maklum saja, memang di Jawa kan tempat orang-orang berbisnis, nggak kayak di Sumatra yang masih pelosok. Tapi tenang, bukan itu yang aku pikirkan sekarang. Yang aku pikirkan sekarang adalah, sebentar lagi aku akan berada di pondok, belajar lagi, mengaji lagi dan terus ngaji. Suasana yang kata orang gitu-gitu aja tapi sangat sayang untuk di lewatkan.

Hmmm... Akhirnya aku bisa bernafas lega setelah melihat plang bertuliskan “PP. DARUSSALAM 10 KM”. Ternyata tak begitu jauh dari Lampung. Nggak seperti yang orang lain katakan. Mungkin, aku merasa Lampung dan Jawa dekat karena keinginanku memang kuat. Dan bersyukurnya lagi, aku bukan orang yang gampang mabuk perjalanan. Jadi, semuanya terasa lebih enteng.

***

“Wooiiii... Mbak-mbak!! Mbak Nina datang!!” Salah satu santri yang lebih dulu datang berteriak memberikan kabar kedatanganku pada yang lainnya. Ternyata aku bukan orang pertama yang datang.

“Mana, mana mbak?”

“Itu lho.. Ayo kita bantu!! Sepertinya, bawaannya terlalu banyak!!” Ajak mbak santri yang paling besar di antara mereka. Namanya Nadhif. Dia selama liburan tak beranjak sama sekali dari pondok. Bukan karena dia tidak ingin, tapi keadaan lah yang memaksanya. Dia adalah salah satu anak dari panti asuhan yang ada di daerah Bali. Ibu panti memutuskan mengirimnya ke pesantren karena keunggulannya dari anak-anak lain di panti itu. Jadi, Nadhif tidak bisa seperti anak lain di pondok yang dapat kiriman dari rumah dengan normal. Dia hanya bisa bersyukur kalau kiriman dari panti datang dan menerima saja jika memang ibu panti belum bisa mengirinnya. Kulihat mereka bersama-sama benghampiriku.

“Mbak Nina kok datangnya lebih cepat, kenapa??” Tanya Nadhif padaku.

“Ndak apa-apa, enakan di pondok dari pada di rumah. Gimana, sudah banyak yang datang??”

Aku balik bertanya kepada Nadhif.

“Belum banyak kok mbak, baru ada anak lima. Sini mbak kami bantu!!”

“Terima kasih ya!” Ku balas pertolongannya dengan sebuah senyuman.

Seperti biasanya, santri yang baru pulang diwajibkan sowan ke ndalemnya pengasuh. Akupun ingat dengan qonun-qonun itu, tapi aku masih merasa kecapekan. Jadi, akupun berinisiatif untuk sowan besoknya saja. Dan aku memutuskan langsung istirahat di kamarku yang letaknya di lantai dua. Maklum, namanya baru liburan pasti kotornya minta ampun. Tapi aku tak pikir panjang, langsung ku ambil bantal dan merebahkan tubuhku yang kecapekan karena perjalanan jauh dari Sumatra ke ujung Jawa sebelah timur. Tak butuh waktu lama akupun langsung tertidur karena rasa ngantuk yang begitu kuat.

***

Haaah, pagi kota Banyuwangi memang berbeda dengan pagi di kota Lampung. Dengan langkah yang masih sedikit sempoyongan aku berjalan menuju pintu ndalem Umine.

“Mbak, uminya ada?” Aku bertanya pada salah satu abdi ndalem yang sedang menyapu di teras belakang.

“Ada mbak, monggo langsung masuk mawon! Uminya ada di ruang biasanya”.

Dia mempersilahkanku untuk langsung masuk ke dalam, akupun tanpa keraguan langsung menuju tempat di mana biasanya umi menerima mbak santri yang hendak sowan. Tapi betapa kagetnya aku, jantungku berdetak lebih kencang serasa mau copot. Di depan mataku ada seorang kang santri yang sedang berbincang-bincang dengan Umi, dan dia adalah seseorang yang selama ini aku kagumi dan tak seorang pun yang mengetahuinya. Karena sudah terlanjur separuh basah aku putuskan untuk tetap masuk.



BERSAMBUNG . . .
Penantian Nina | Bintu Lathif Penantian Nina | Bintu Lathif Reviewed by Fenomena on Agustus 14, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.