Mahkotanya Mbak Santri | T.Aja

mahkota santri

Gak perlu beli kerudung. Kalo kerudung segi empat itu biasanya nyrawang, rambutnya kelihatan. Gak perlu pakai pashmina yang harus diputer 7 kali.
Sebenarnya apa sih kerudung yayasan itu? Kerudung yayasan akan saya singkat jadi KY, biar gak rempong. KY adalah kerudung putih yang wajib dipunyai oleh setiap mbak santri. Kalau kamu nggak setuju, saya nggak peduli. Saya kira, setiap pondok pesantren pasti ada yang namanya KY. Ketika KY diterapkan di Darussalam. Tidak tanggung-tanggung, KY yang biasanya hanya dipakai ketika sekolah dan keluar kampus saja, harus dipakai untuk kemana-mana. Pokok keluar gerbang, ya harus pake KY. “Kok opo-opo kudu pake yayasan?” Ujar salah seorang santri. Emang iya sih, baju yayasan, rok yayasan, kerudung yayasan, bahkan ada juga kemben yayasan. Wes gak usah dibahas seng kui. 

Nah, dengan berlakunya KY bagi mbak-mbak, pro kontrapun terjadi. Ada yang bilang, “Bosen! Mbendino nggae KY, wes rupane putih, gampang reget, gur ndue sitok pisan! Nggak dicuci seminggu, bahkan ada yang sebulan. Bau yang semerbak pun tak bisa terhindarkan. Hang tenang! Solusinya, minyak wangi satu botol ditumpahkan ke kerudungnya. Hahaha. Apa ada yang kayak gitu? Mboh lah, saya juga ngarang. 

Tidak hanya kontra, kaum yang pro pun nggak sedikit. Ialah mereka yang semakin bahagia dengan launchingnya KY. Gak perlu beli kerudung, gak rempong. Kalo kerudung segi empat itu biasanya nyrawang, rambutnya kelihatan. Gak perlu pakai pashmina yang harus diputer 7 kali. Gak butuh jarum, suatu benda kecil yang rawan sekali hilang dan paling bikin bingung ketika kehilangannya. Akhirnya, jepit rambut dan klip kertaspun bisa jadi alternatifnya. 

Tak ketinggalan, para keamanan pun ikut merasakan kemanfaatan KY ini. Dulu, “Hayo mbak, beli pentol di sini, denda 50.000”. “Saya lho anak MS!” entah itu bohong atau jujur. Akhirnya kan ibu-ibu keamanan yang klejingan. Sekarang, dari jauh sudah terdeteksi warna bordirnya, langsung aja, “Mbak, 50.000”. Bereskan? 

KY yang telah dijahit sedemikian rupa hingga rupanya menjadi demikian sangat mengerti kebutuhan mbak santri. Bagian depan dijahit sehingga tidak akan terbuka-buka seperti ketika pakai kerudung segi empat biasa. Bordirannya yang melingkar di wajah membuat si pemakai terlihat cantik (yang cantik) dan mempesona. 

Nah, karena tampilan KY yang mekrok seperti bunga matahari, tak jarang menampilkan panorama yang kurang menarik. Yaitu rambut maupun anak rambut (poni) yang mencuat keluar sak karepe dewe. Padahal rambut itukan aurot. “Kamu cantik, tapi rambut kamu kelihatan, aku nggak suka. Nggak tau kalo besok pake kasah. Tunggu aja.” Inilah asal usul kewajiban memakai kasah (iyo ta?). Ada yang namanya kasah ninja (wuiih), kasah marshanda (ini artis apa kasah?), kasah jaring (jaring opo? Jaring kutu. Pernah teman saya itu usil, “Eh, kutu!” ketika yang diusilin sudah panik dan pucat, ternyata “Kutuliskan kenangan tentang....nyanyi starla. Hahaha). 

Sayangnya, karena kasah-kasah yang saya sebutkan tadi coraknya kurang menarik menurut mbak-mbak, muncullah ide-ide kreatif. Kerudung segi empat, beli di Matahari (pelelangan gusuran), dipotong jadi empat. Jeng jeng jeeng, jadilah kasah dengan corak dan motif yang super cantik. Lambat laun, kekreatifan mbak-mbakpun semakin menjadi. Tidak hanya kerudung, baju, rok, jubah, bahkan sarung bantal pun disulap menjadi kasah. Subhanallah, inilah pemanfaatan barang bekas yang patut diberi penghargaan. Prok 100x. Tapi itu dulu, tahun lalu. Sekarang sudah 2018 dan yang lagi ngetren sekarang namanya kasah rajut. Sekedar informasi, kasah ini nyamaan sekali dipakai. 

Tak jarang, mbak-mbak menyalahi aturan. Memakai kerudung yang bukan yayasan. Ketika dirazia, bilangnya “Dicuci, kotor!”. Sebenarnya itu sih bukan alasan. KY itu tidak terlalu tebal, tidak berat, kamu pasti kuat, mudah kering, nyuci pagi, niscaya siangpun sudah kering. Jika cuaca panas tentunya. Apalagi sekarang sudah dilaunchingkan peraturan terbaru. “SETIAP SANTRI WAJIB MEMILIKI KY MINIMAL DUA”. Jadi kayaknya alasan diatas nggak bisa diterima lagi deh. 

Mengenai KY, teman saya ada yang bilang kalo kang-kang itu sampai hafal dengan warna KY nya mbak-mbak. Tenan opo ra to? Iyo tepak sing hafal. Biru: pondok lor. Pink: kidul. Asr Y: ungu. AA: toska. An-Najah: kuning kunyit. As Salam: Hitam keabu-abuan. SMP Plus: hijau. Hijau pupus: MTs U. Merah: MA. W: putih: MS, dan yang terakhir plus terbaru, kerudung hitam dengan bordir abu-abu, kerudung abu-abu dengan bordir hitam: Ustadzah MADINA. 

Kan jadi gampang kalo bisa hafal. Iya kan? Ada mbak lewat, yang kebetulan memakai kerudung bordir biru, seragam orda pula. “Kamu mbak pondok lor ya?” Mengangguk. “Kamu warga orda CBP2S ya?” Mengangguk. “Aku ramal kita akan bertemu di pelaminan.” Gubrak! Semapot. 

Niat awal sih, bikin artikel yang bermanfaat, kayak motto ponpes kita gitu. Tapi sekarang jadi nggak yakin. Ini bisa disebut artikel atau bukan. Ini bermanfaat atau enggak. Terserahlah. Makasih sudah mau baca.
Mahkotanya Mbak Santri | T.Aja Mahkotanya Mbak Santri | T.Aja Reviewed by Fenomena on Agustus 14, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.