Penantian Nina-II | Bintu_Lathif


“Hah?? Kalau dia pulang kerumahnya, itu berarti satu jalur dong sama aku. Ya Allah bagaimana ini kok bisa kebetulan seperti ini?”

“Assalamualaikum.!!” kuucapkan dengan nada yang merendah sambil mencium punggung tangan umine.

“Waalaikumsalam. Kok sudah datang?”

Beliau menjawab salamku dengan penuh kewibawaan. Aku sangat mengagumi sosoknya yang begitu teduh, sederhana, dan sangat mengayomi semua santrinya.

“Inggih um. Sudah pingin menghirup udara pondok!!”

Sepertinya aku tak bisa meneruskan proses sowanku terlalu lama karena aku semakin grogi dan tidak mampu mengendalikan diriku sendiri. Akhirnya tanpa perbincangan apapun aku langsung memutuskan untuk pamit. Aku merasa tidak nyaman karena disana juga masih ada kang itu, dan sepertinya, perbincangannya dengan umine masih harus berlanjut.

“Um . . Saya mau langsung pamit!!” kata-kataku pun terlihat sangat tidak pas didengar.

“Lho kok langsung aja to??”

“Inggih.” Aku hanya tersenyum tak bisa menjawab pertanyaan Umine. Langsung saja ku raih tangan umine dan menciumnya sebagai tanda pamitanku pada beliau. Setelah dari ndalem aku langsung ke asrama dengan pikiran yang tak karuan semrawutnya.

“Ya Allah. . . Aku ini kenapa to? Bantu hamba menghilangkan semua ini, Ya Robb! Hamba sadar siapa hamba. Hamba hanya orang biasa, sedangkan dia adalah putra dari kiai besar di kota Lampung. Tentunya tidak mungkin hamba bisa bersanding dengannya.” Rintihku dalam hati.

Aku tau perasaanku pasti hanyalah perasaan yang bertepuk sebelah tangan. Jadi sebelum semuanya terlihat begitu jelas, aku harus segera bangun dari mimpiku yang sangat konyol.

“Huh!! Pokoknya aku gak boleh mikirin macem-macem! Mulai sekarang, aku harus punya tekad yang kuat untuk belajar, ngaji, belajar, dan ngaji. Titik!!” Aku mencoba memantapkan tekadku yang selama ini terbayang-bayangi oleh gambaran seseorang yang belum tentu dia juga memikirkanku, bahkan mungkin juga dia tidak mengenalku.

*** Kisah Sebelumnya: Penantian Nina I ***

Sekarang aku sudah kelas Dua Ulya. Hanya dengan menghitung bulan aku akan menyelesaikan semuanya. Dan tentunya bayangan untuk boyongpun menari-nari di benakku. Aku membayangkan jika aku lulus dengan nilai yang memuaskan, pasti bapak ibuku sangat bangga padaku. Rasanya seneng banget. Ehhh... Di tengah-tengah membayangkan, tiba-tiba sound pemanggilan dari kantor berbunyi.

“Panggilan. Nina kamar Y.5 dapat telfon di kantor pesantren.”

Bunyi siaran itu terdengar sangat jelas menyebutkan namaku. Tanpa pikir panjang aku langsung menuju kantor pesantren yang ada di lantai bawah. Tidak selang terlalu lama, telfon itu berbunyi lagi, akupun langsung mengangkatnya.

“Assalamu'alaikum. Ini benar dengan Nina dari Lampung??” Aku sangat hafal dengan suara ibuku.

“Wa 'alaikumsalam. Iya buk, Ini Nina. Ada apa to buk kok tumben udah telfon??”

“Ada yang mau ibu bicarakan sama kamu, tapi ibu nggak bisa bilang di telfon nduk.”

“Masalah apa to buk sebenarnya?” Aku jadi penasaran dengan yang mau ibu katakan.

“Gini nduk, kalau bisa sampean pulang saja yo! Ibu sudah siapkan semuanya kok, mulai dari bisnya. Ibu sudah pesen jadi sampean gak usah repot-repot. Cuma tinggal pulang saja!!”

Mendengar permintaan ibuku yang begitu mendesak aku jadi semakin penasaran. Sebenarnya ada apa ini? Tapi aku juga bingung, kalau aku pulang bagaimana diniyyahku? Pasti aku akan ketinggalan banyak pelajaran. Sedangkan sebentar lagi aku kan ujian kelas akhir madrasah. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak mungkin menolak permintaan ibukku yang tentunya juga permintaan bapakku.

“Ya sudah buk, Nina mau pulang. Kapan buk bisnya Nina berangkat?” dengan sangat berat hati aku harus meninggalkan sekolahku.

“Besok nduk, ibu sengaja pesan yang eksklusif biar nanti cepet nyampe rumahnya.”

Akhirnya perizinanku sudah beres, aku langsung berkemas dan bersiap-siap menuju terminal. Alhamdulillah, aku berada di baris kedua dari depan. Maklum saja, namanya juga bis berkualitas, jadi aku merasa sangat nyaman. Tanpa kuduga-duga tiba-tiba ada seorang laki-laki yang duduk di sampingku, dan aku juga mengenal siapa orang tersebut. Ya Allah, dia adalah orang yang sangat kukagumi.

”Pak Badar, bapak kok bisa disini? Bapak mau kemana?” dengan terbata-bata aku mencoba tetap tenang di depan orang tersebut. Aku menggunakan sapaan pak karena dia merupakan salah satu pengurus di pesantren.

“Mau pulang.” Sebuah jawaban yang sangat cuek nggak ketulungan.

“Pulang kemana pak?”

”Ya tentu pulang ke rumahku, masa kerumah orang lain!!”

“Hah?? Kalau dia pulang kerumahnya, itu berarti satu jalur dong sama aku. Ya Allah bagaimana ini kok bisa kebetulan seperti ini?” gumamku dalam hati yang diiringi dengan tingkah kakuku yang semakin tak bisa ku kontrol. Aku segera memalingkan wajahku ke arah jendela. Aku ndak tau mau bagaimana, namanya juga orang grogi pasti semuanya serba salah. Tapi yang membuat aku kaget ternyata ia pandai juga mencairkan suasana, jadinya sedikit demi sedikit grogiku hilang. Rasanya seneng campur deg-degan campur bingung. Pokoknya semuanya campur jadi satu penuh dengan tantangan.

***

Tidak terasa sekarang aku udah sampai di tanah Jawa ujung barat dan nggak lama lagi bakal nyebrang lautan. Sebuah perjalanan yang paling aku senangi dari kesekian rangkaian perjalananku. Nggak butuh waktu lama sebenarnya untuk menyebrangi lautan antara Jawa dan Sumatra. Tapi, itu juga tergantung ombaknya mau bersahabat atau tidak. Kalau umumnya sih sekitar 3 jam, dan kalau ada kendala bisa juga sampai 5 sampai 6 jam terombang-ambing di atas lautan luas. Sepanjang tanah Jawa sudah ku lewati, lautpun sudah ku sebrangi. Kini aku tiba di daerah kelahiranku dan tentunya rumahku sekarang.

Sampai di depan rumah aku bertanya-tanya, kenapa ada banyak mobil yang parkir di depan rumah? Apa mungkin ada acara ya? Tapi acara apa, kok ibu tidak bilang apa-apa. Ya sudahlah, dari pada aku semakin penasaran, kuputuskan untuk langsung masuk dan melihat sendiri apa yang sedang terjadi.

“Assalamu'alaikum.”

“Wa'alaikumsalam.” Seperti biasa. Tanpa kesan yang macam-macam ibuku menyambutku. Tapi yang sekarang ini agak berbeda, ibu langsung menghampiriku dan mengajakku masuk ke ruang dalam. Tanpa berkata apa-apa, ibu langsung memintaku untuk ganti baju dan akupun tak bisa menolak permintaan ibu. Aku hanya berpikir mungkin saja orang-orang yang ada di ruang tamu itu adalah tamu bapak yang kebetulan sedang berkunjung. Dengan langkah terburu-buru ibu menggandeng tanganku keluar menuju ruang tamu yang dipenuhi tamu-tamu itu.

“Oooh. Ini to yang namanya nduk Nina!! Yang katanya mondok di Jawa itu kan?” Salah satu dari sekian banyak tamu menyapaku dengan senyuman yang penuh dengan kewibawaan.

“Iya.” Hanya jawaban singkat itu saja yang bisa aku keluarkan. Itu semua karena sebenarnya aku jadi tambah semakin bingung, sebenarnya siapa mereka? Tidak lama kemudian ia meneruskan perkataannya.

”Niat kami kesini adalah, tidak lain untuk meminang Nduk Nina untuk anak kami yang juga mondok di tempat yang sama dengan Nduk Nina.”

Hah!! Di pondok yang sama?? Siapa? Hatiku kaget bercampur dengan beribu pertanyaan yang semakin tak bisa terjawab oleh akal sehatku sendiri. Dan setelah ku buka mataku dengan seksama barulah aku lihat seseorang yang selama ini menjadi dambaanku. Seseorang yang selalu muncul dalam imajinasiku. Rasanya tak pernah sedikitpun aku mengira semua ini. Hanya satu yang dapat aku ucapkan sekarang,

“Alhamdulillahirobbil'alamin”.


THE END

Penantian Nina-II | Bintu_Lathif Penantian Nina-II | Bintu_Lathif Reviewed by Fenomena on Agustus 27, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.