Tinggal Kenangan


Namanya Hamim Jazuli Rohman. Dua kata awal namanya sama persis dengan kiai kharismatik Pesantren Ploso. Gus Miek. Karena itu pula, teman-teman banyak yang memanggilnya “Gus Miek”. Bagiku, Hamim termasuk seseorang yang kuat menghadapi apapun. Ya, aku memang sudah bersahabat sejak lama, bahkan sudah aku anggap keluarga sendiri. Sejak awal mondok, kami seangkatan di SMA Darussalam. Lulus bersama, dan bersama melanjutkan kuliah di IAIDA. 

Namun, perjalanannya kuliah tak berlangsung lama. Di ujung semester satu dia pamit undur diri. Ingin fokus di pondok saja, katanya. Anaknya humoris. Wajahnya selalu ceria, riang gembira. Di asrama, dia cukup terkenal karena kerap bergurau dengan teman-teman. Dan karena itu, mereka banyak yang suka dengannya. 

Sebagaimana lumrahnya santri, dia juga turut mengabdi. Amanat menjadi seksi kegiatan asrama Al-Ghozali sekaligus tim oprak-oprak diembannya bersamaan. Kesehariannya disibukkan menjadi pengurus asrama. Belum lagi di Orda, dia juga menjadi pengurus ISTAD (Ikatan Santri Tegaldlimo Asuhan Darussalam). Biasanya, untuk mengisi waktu luang di pagi hari, Hamim juga ikut mengabdi di Ausath Kos. Bersama teman-temannya mempersiapkan sarapan untuk para santri. Walaupun lumayan padat kegiatannya, Gus Miek bukan tipikal anak yang kendor dalam urusan diniyyah. Dia tetap rajin dan semangat. 

Baca juga:

Semua kegiatan dia lakukan dengan rutin. Istiqomah. Tapi itu dulu, sebelum sakit datang menghampirinya. Disini, izinkan aku menceritakan detik per detik dari akhir hembusan nafasnya. Sekedar menjadi obat rindu, sembari berharap agar segala yang telah dia perbuat tidak segera berlalu. 

Awalnya hanya sakit gigi biasa. Dia mengeluh ingin pulang dan periksa ke dokter. Semacam ada yang tidak nyaman di giginya. Namun itu tak berlangsung lama. Tiga hari berikutnya sudah sehat dan kembali ke pondok. Kembali mengaji dan bercanda dengan teman-teman. Menikmati indahnya kehidupan pesantren seperti sebelumnya. Tak lama berselang, pondok mengadakan peringatan Haul Syeikh Abdul Qodir Jailani. Para santri bersorak gembira. “Asyiiik... mayoran mayoran.” Kata mereka. 

Sayangnya, kegembiraan itu tak dialami pula oleh Hamim. Dia malah tergeletak lemah di kamar. Tubuhnya menggigil. Tangannya terus mengelus-elus bagian rahang. Saat ditanya, dia hanya menjawab lirih, “Loro untuku kumat maneh...” 

Keesokan hari, ayahnya datang menjemput untuk diperiksakan lagi. Aku dan teman-teman yang lain biasa saja. Tak terlalu memikirkan dalam-dalam. Ah, itu mah hanya sakit biasa. Dianya saja yang berlebihan, mungkin. Begitu pikir kami. 

Minggu, 23 Desember 2018 

Kisah sedihnya dimulai dari sini. Setelah beberapa hari tak ada kabar, tiba-tiba dia menghubungiku. Memberitahu kalau tengah dirawat di RSUD Genteng sejak Minggu sore. Aku pun mengabari teman-teman yang lain. Sekaligus mengajak mereka untuk sambang ke RSUD. 

Malam selasa, bersama sekitar anak sembilan, aku berangkat ke RSUD menjenguknya. Sesampainya disana, aku kaget bukan main ketika melihat bagian rahangnya membengkak. Badannya nampak sangat lemas. Kondisinya cukup parah. Sampai-sampai, untuk sekedar bicara, makan, dan minum saja susah. Kata dokter, ini sudah bukan sakit gigi biasa. Ada infeksi di bagian gusi. 

Ya, sejak awal berasa nyilu di giginya, Hamim memang sering menusuk-nusuk bagian gusinya menggunakan kayu kecil yang biasa digunakan untuk membersihkan mulut. Nahasnya, itu malah membuat gusinya infeksi dan membengkak sampai seperti sekarang. Disana, aku dan teman-teman hanya bisa menunduk. Prihatin akan kondisinya. Tapi Hamim tetaplah seperti Hamim yang dulu. Dia bukan tipikal anak yang ringkih. Tatkala kami prihatin dengannya, dia justru lebih prihatin lagi dengan seorang pasien disebelahnya. 

Anggap saja namanya Rijal. Usianya masih seumuran dengan kami. Di usia yang lumayan terbilang muda, dia divonis menderita usus buntu. Kondisinya jauh lebih parah daripada Hamim. Kemungkinan untuk sehat amatlah kecil. Dan nampaknya dia sudah nyaris menyerah. Pasrah. Kepada orang tuanya, Rijal merintih. “Pak... Buk... Aku sudah tidak kuat. Lebih baik aku mati saja...” Rijal memelas. 

Rintihan suaranya membuat suasana di kamar RSUD makin mencekam. Aku menunduk. Terdiam seribu bahasa. Entah, pemandangan apalagi yang ingin Tuhan perlihatkan padaku. Ingin rasanya segera beranjak meninggalkan tempat ini. Aku sudah tidak kuat lagi. 

Namun tiba-tiba, sembari menahan rasa sakitnya, Hamim beranjak dari pembaringannya. Dengan sekuat tenaga dia berusaha duduk. Aku dan teman-teman hanya bisa melongo melihatnya berjuang untuk duduk. Di benakku timbul tanda tanya, “Apa yang akan dilakukan Hamim...?” 

Spontan dia menoleh ke arah Rijal. Tangannya menggenggam, sembari berkata menyemangati Rijal. “Mas... Ayo, semangat. Awakdewe berjuang bareng, yo Mas. Awakdewe kudu waras. Mesakne ibuk’e sampean...” 

Allah... aku semakin tidak mampu berkata-kata. Hanya bisa menunduk. Tak terasa, butiran air mata menetes membasahi pipi. Aku dan teman-teman benar-benar terharu. Bulir air mata kami bersamaan mengalir. Air mata ini sudah tak dapat dibendung lagi. Dalam hati kecil, aku bersyukur kepada Allah telah dikaruniai teman dengan hati sebaik dia. Seseorang yang tak pernah khawatir akan bahaya yang menimpanya, justru lebih khawatir akan keselamatan orang lain. Andai aku yang berada di posisi Hamim, belum tentu –atau bahkan tidak mungkin- aku setegar dia, sesemangat dia, dan setegar hatinya. 

*** 

Sejak masuk RS pada hari Minggu, Hamim baru dioperasi Kamisnya. Kala itu memang hampir bertepatan dengan hari Natal, jadi untuk beberapa hari dokter libur praktek. Dua hari berikutnya, hari Sabtu, dia merasa sudah sehat dan ingin pulang. Padahal kondisinya belum fit seratus persen. Tapi memang siapa yang betah berlama-lama di Rumah Sakit. Saat ditanya, dia lebih memilih pemulihan di rumah saja, katanya. 

Sabtu, 05 Januari 2019 

Selama seminggu dia di rumah. Tiba-tiba kondisinya parah lagi. Ternyata, sejak selesai operasi, nanah dan darah belum keseluruhannya hilang. Alhasil, dia mengalami pendarahan. Sekujur tubuhnya dipenuhi oleh darah dan nanah. Tubuhnya kembali lemas dan mengurus. Jauh lebih memprihatinkan daripada seminggu sebelumnya. Memang beberapa hari ini nafsu makannya melemah. Nampaknya ini efek dari sakitnya yang belum sembuh total. 

Keesokan hari, entah dia tengah memikirkan apa. Tak ada angin tak ada hujan, seseorang menunjukkan kepadaku status Whatsapp-nya. Disana dia menulis, 

“Aku wasiat ndek panjenengan sedanten, Rek. Sepuntene ingkang katahipun menawi salah kulo katah.” 

Bak melihat petir di siang bolong aku membacanya. Dilihat dari statusnya, mungkin Hamim sudah benar-benar merasa bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi. Dia sudah benar-benar sakit dan tak kuat lagi menanggungnya. 

Malam Kamis, 09 Januari 2019. 

Dia mengalami pendarah cukup parah. Infeksi di gusinya sudah mencapai puncak. Darah terus mengalir membasahi sekujur tubuhnya. Nyaris seperti orang yang baru saja mandi darah. Apesnya, kala itu dia tengah sendiri. Ibunya sedang mengurusi administrasi dan ayahnya tengah menemani adiknya yang rewel. Sekitar jam 23.00 WIB, dia mengalami koma. Tubuhnya sudah tidak sadarkan diri lagi. 

Jum’at, 11 Januari 2019. 03.00 WIB (Sebelum Shubuh) 

Hamim sudah kembali siuman. Tapi masih saja dia tergeletak lemah. Sudah tidak kuat apa-apa lagi. Dalam kondisi amat terpaksa, dia memanggil-manggil ayahnya. “Pak... Nyuwun tulung nggeh. Mangke dalu diadakan pengajian teng griyo.” Dia berpesan pada sang ayah. 

Isyarat itu sudah semakin nampak nyata. Seakan dia sudah tahu bahwa di hari ini, di suatu jam yang masih rahasia, ajal akan menjemputnya. Sehingga malamnya orang-orang akan berkumpul di rumah, tahlilan bersama. 

Tak lama berselang, di pagi hari, dia kembali koma. 

*** 

Genteng siang itu benar-benar panas. Sesekali sepoi angin yang datang terasa menyejukkan. Pepohonan yang rindang di sekitar RS menari mesra, dedaunannya bergelayut manja. Kondisi jalanan ramai. Padatnya kendaraan bermotor lumayan membuat suasana bising. Tapi itu tak menutup lantangnya speaker masjid yang mulai bersahut-sahutan mengumandangkan adzan sholat Jum’at. 

Di salah satu sudut Rumah Sakit, sepasang suami istri nampak cemas. Raut wajahnya masam. Aura kesedihan tercium dari gelagat mereka. Bibirnya terus komat kamit melangitkan do’a. Berharap Tuhan masih sayang dan mengembalikan lagi kesehatan anaknya yang sejak dua minggu ini pergi. 

Keduanya adalah orang tua Hamim Jazuli. Sejak pagi tadi anak tercintanya mengalami koma. Beberapa bercak darah menyelimuti tubuhnya. 

“Bu... Bapak mau sholat Jum’at dulu ya. Tolong jaga Hamim.” Kata sang ayah pamit berangkat ke masjid. 

“Iya Pak. Eh, coba tengok Hamim dulu. Siapa tahu sudah sadar.” Harap ibunya. 

Kreeeek... Lelaki itu membuka pintu kamar. Berjalan gontai ke arah anaknya yang tergeletak lemah. Kedua mata anaknya terpejam. Belum sadarkan diri. Yang aneh, mendadak kristal bening menetes dari mata Hamim. Tapi masih tetap saja, dia tidak sadarkan diri. Bisa jadi, itu adalah air mata terakhir yang keluar dari tubuhnya. Hamim memang tidak ingin menangis. Tapi mungkin, Allah ingin agar setetes terakhir itu dipersembahkan untuk ayah tercintanya. Ya, setetes air mata yang tidak ada lagi tetesan lain setelahnya. Untuk selamanya. 

*** 

Sepulang dari masjid, lelaki itu bergegas langsung kembali ke kamar. Masih dengan harapan yang sama; agar sang anak kembali membuka mata dan sadar. 

Syukurlah, Allah berbaik hati. Dia mengembalikan kesadaran Hamim. Senyum pun mengembang di bibir lelaki itu. Dalam hati ia berkata, “Alhamdulillah... Anakku sudah sadar.” Matanya sembab berkaca-kaca ketika menyaksikan anaknya kembali bernafas lega. Sayangnya itu tak berlangsung lama. Hamim hanya mampu menghela tiga-empat hembusan nafas. 

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un... 

Ya... hembusan itu adalah hembusan nafas terakhir dalam hidupnya. Allah Maha Tahu akan mana yang lebih baik bagi makhluk-Nya. Dan untuk saat ini, kematian adalah yang terbaik. Dipanggillah pemuda itu kehadirat-Nya. Diajak oleh-Nya untuk berpulang. Istirahat untuk selama-lamanya. Istirahat yang abadi, sebelum kelak kembali dibangkitkan untuk mempertanggung jawabkan amal perbuatannya di dunia. 

Dalam sekejap, berita akan meninggalnya menyebar. Menghiasi status-status media sosial para sahabat karibnya. Banyak pula santri Blokagung yang langsung berangkat ke rumah duka, berharap bisa memberikan penghormatan terakhir untuk almarhum. Mendoakannya agar selamat dan tinggal di rumah harapan bersama: surga. 

*** 

Tegaldlimo, 11 Januari 2019 

Di rumah duka, para pentakziyah mulai ramai berdatangan. Sementara jenazah almarhum dirawat sebagai mestinya. Dimandikan, dikafani, dan disholati. Nun jauh diatas sana, matahari masih setia memancarkan sinarnya. Cuaca yang benar-benar panas membuat keringat terus mengalir. Anehnya, selesai sholat jenazah, rintik gerimis perlahan turun. Membasahi bumi yang mulai tampak kepanasan. 

Perlahan, jenazah almarhum dikebumikan. Suasana syahdu menyelimuti langit kala itu. Mendung juga enggan beranjak walau sekedar memberikan ruang bagi matahari agar menyinari. Seakan dia turut tak rela jika para pengantar merasakan sampai merasa kepanasan. Sedikit demi sedikit, tubuh lemahnya mulai tertutupi oleh tanah. Do’a demi do’a masih terus saja didengungkan. Tahlil, Yasin, dan istighfar tak henti-hentinya terus dibaca. 

Selesai dimakamkan, rombongan santri Blokagung yang baru datang dipersilahkan tahlilan dulu oleh tuan rumah. Beberapa kerabat juga nampak tak mau beranjak dari pemakaman. Semacam ada perasaan berat hati meninggalkannya sendiri. Tapi, hidup adalah hidup. Dan kematian masih saja menjadi suatu niscaya bagi setiap mereka yang bernyawa. Setelah dirasa cukup, rombongan santri mulai berhamburan beranjak pergi dan pemakaman dalam sekejap menjadi sepi. 

Di akhir cerita, hujan deras pun turun membasahi seisi pemakaman. Meninggalkan genangan kenangan hidupnya yang sulit dilupakan. 

*** 

Mari sejenak kita menundukkan kepala, melangitkan do’a. Berharap semoga dosa-dosanya diampuni oleh Sang Kuasa, dan semua amal ibadahnya diterima oleh-Nya. Untuk almarhum, lahul fatihah...
Tinggal Kenangan Tinggal Kenangan Reviewed by Fenomena on Januari 24, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.